Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 91


__ADS_3

Sementara itu, di luar, mobil yang Jesi tumpangi telah tiba di kediaman Wijaya. Dia di sambut dengan sangat hangat oleh para penjaga. Tidak hanya itu saja, para pelayan yang melihat kedatangan Jesika juga terlihat begitu bahagia. Mereka memberikan sambutan yang luar biasa. Bahkan, ada yang sampai menangis sambil mengatakan prihal keadaan Jona pada Jesi.


Diana dan Indra hanya bisa diam saja. Mereka sungguh tidak percaya akan apa yang sedang terjadi. Ternyata, anaknya sangat dibutuhkan di kediaman ini. Tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.


"Pah, ini ... mama gak salah lihat, kan? Mereka begitu bersuka cita atas kedatangan putri kita. Apa ... mereka benar-benar sangat mendambakan kedatangan putri kita kembali ke sini, Pa?"


"Papa juga tidak tahu, Ma. Kita lihat saja apa yang sedang terjadi sekarang. Namun, jangan lupa untuk selalu waspada dengan keadaan di sekeliling. Putri kita harus baik-baik saja," kata Indra berbisik pada Diana.


"Ya Tuhan ... akhirnya, nona Jesi datang juga."


"Nona, kasihan tuan muda."


"Nona ke mana saja? Kenapa menghilang begitu lama, nona? Tuan muda kita ... sangat kasihan."


"Nona ... ya Tuhan. Akhirnya ... datang juga penyelamat rumah ini."


Dan ... begitulah sambutan untuk Jesi yang saat ini sedang dikerumuni para pelayan dengan suka cita. Ada yang menangis, ada juga yang tersenyum penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Namun, para pelayan itu sama sekali tidak memberikan Jesi waktu untuk menjawab pertanyaan mereka. Entah itu karena mereka yang terlalu antusias, atau karena mereka terlalu ramai sampai tidak bisa membiarkan Jesi menjawab satu persatu. Tapi, satu hal yang pasti saat ini. Yaitu, kedatangan Jesi adalah hal yang paling melegakan buat semua orang yang ada di sana.


"Maaf semuanya, pertanyaan kalian tidak bisa aku jawab satu persatu. Karena yang paling penting sekarang adalah, aku ingin bertemu dengan Jona terlebih dahulu. Apakah kalian tahu di mana Jona saat ini?" Jesi berucap lantang agar suaranya terdengar dengan jelas. Karena saat ini, pelayan yang ada di sana begitu berisik.


Brak!


Bunyi benda jatuh dari lantai atas. Tempat di mana kamar Jona berada. Hal tersebut langsung membuat semuanya terdiam dengan mata yang terfokus ke arah sumber bunyi tersebut berasal.


Karena bunyi itu, mereka satupun tidak ada yang sempat menjawab pertanyaan Jesi barusan. Karena saat ini, dalam hati mereka semua dipenuhi dengan perasaan kaget akibat bunyi tersebut.


Jesi menoleh dengan wajah tenang. Sebuah senyuman dia perlihatkan pada sang mama dengan harapan supaya mamanya bisa sedikit tenang.


"Gak papa, Ma. Aku yakin bisa menenangkan Jona. Doakan saja supaya aku berhasil."


"Tapi, Je .... " Kali ini, Indra pula yang berusaha menahan Jesi.


"Gak papa, Pah. Aku pasti akan baik-baik saja."

__ADS_1


Jesi pun terus melanjutkan langkah kakinya menuju lantai dua. Sedangkan Diana dan Indra hanya bisa menatap kepergian sang anak dengan perasaan cemas. Mereka tidak mengikuti Jesi karena mereka ingin percaya dengan apa yang anak mereka katakan. Meskipun sebenarnya, mereka sedang sangat takut akan keselamatan anak mereka saat ini.


"Kalian ... kenapa diam di sini saja, hm? Kenapa tidak mengikuti nona kalian naik ke atas?" Diana bicara dengan nada kesal pada pelayan yang ada di sana.


Para pelayan yang mendapat pertanyaan itu, tentu saja langsung memasang wajah tidak enak. "Maaf, nyonya. Kami ... tidak bisa ikut naik. Karena ... karena tuan muda pasti akan mencelakai kami."


"Apa!? Seperti itulah tuan muda kalian yang sesungguhnya?" Diana mendadak panik saat mendengar ucapan salah satu pelayan.


"Ya Tuhan, Pah. Bagaimana jika dia menyakiti Jesi kita? Aku ... aku tidak ingin tinggal diam di sini saja, pa." Diana kembali berucap sambil melihat wajah Indra dengan tatapan yang masih terlihat sangat panik dan takut.


"Untuk ... nona Jesi ... Tuan dan Nyonya tidak perlu cemas. Karena yang tuan muda butuhkan hanya nona Jesika saja." Salah satu pelayan memberanikan diri untuk menenangkan Diana.


Sementara para pelayan terus bicara dengan Diana dan Indra, Jesi sudah tiba di kamar Jonathan. Semakin berada di depan pintu kamar, maka semakin terdengar keributan dari kamar tersebut.


Bunyi barang pecah, benda jatuh, dan ... entah apa lagi yang terjadi di dalam sana. Yang jelas, sangat berisik seperti orang yang sedang bertengkar saja.


Jesi dengan tangan yang ringan langsung memutar kenop pintu kamar tersebut. Seketika, pintu kamar terbuka lebar. Semua isi kamar yang berantakan pun terlihat dengan jelas.

__ADS_1


__ADS_2