Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 43


__ADS_3

Rencana mama Jona adalah, mendekatkan Jona dengan Mila secepatnya. Tapi, sayang sekali. Rencana itu malah gagal karena malam ini, Jona dan Jesi akan makan malam di luar.


Ya, rencana mereka tidak gagal. Setelah Jona pulang untuk menemui Jesi, Jona kembali lagi ke kantor atas permintaan Jesi karena dia baik-baik saja. Jesi juga telah berjanji pada Jona kalau dia tidak akan meninggalkan Jona.


Jesi sudah membulatkan tekat, kalau dia akan tetap berada di samping Jona apapun dan bagaimanapun caranya. Seperti apapun halangan nya, akan Jesi tempuh sekuat tenaga.


Karena itulah, Jesi dengan penuh semangat memenuhi apa yang Jona inginkan. Dia berdandan secantik mungkin untuk datang ke restoran tempat di mana mereka akan makan malam bersama.


Sementara itu, mama Jona sedang memasang wajah kesal ketika tahu, Jona tidak pulang dari suaminya. Dia langsung marah karena kabar itu.


"Kenapa Jona bisa tidak pulang sedangkan papa pulang? Apa papa tidak kalau dia itu baru sembuh dari sakitnya?"


"Ma, Jona itu tidak pulang, bukan karena dia sibuk dengan pekerjaannya. Tapi, dia tidak pulang karena sibuk dengan rencananya. Mama tenang aja. Dia sudah baik-baik aja kok. Selagi Jesika ada di dekatnya, anak kita akan baik-baik saja." Papa Jona berucap dengan nada sangat bahagia. Sambil tersenyum lebar, orang tua itu juga mengelus pundak istrinya dengan penuh kasih sayang.


Namun, Sesilia yang mendengarkan nama Jesika diucap sang suami, langsung memasang wajah yang lebih kesal lagi. Dia tatap tajam wajah suaminya.


"Papa bilang apa barusan? Selagi perempuan itu ada? Cih, mama tidak yakin kalau perempuan itu bisa membuat anak kita baik-baik saja. Yang ada, perempuan itu malah membuat anak kita pergi menjauh dari kita."


"Mama ngomong apa sih, Ma? Mama gak lihat bagaimana perubahan Jona setelah kedatangan Jesi?"

__ADS_1


Sesilia tidak menjawab pertanyaan itu. Walaupun dia tahu kalau Jona sembuh karena Jesika. Tapi, hati kecilnya jelas menolak kalau Jesi lah penyebab anaknya sebuh. Karena menurut Sesilia. Perempuan mana saja bisa melakukan hal tersebut. Tentunya, bukan perempuan yang tidak berlatar belakang baik seperti Jesi.


Sesilia sudah punya rencana. Jika penyakit Jona kambuh lagi setelah kepergian Jesi, maka dia akan mencarikan Jona pasangan yang sepadan untuk anaknya yang berlatar belakang baik.


"Terserah papa mau bicara apa. Yang jelas, mama selalu tidak setuju dengan Jesika. Dia tidak punya keluarga yang baik, Pa. Hanya anak angkat saja. Anak yang tidak tahu siapa orang tuanya. Keturunan tidak jelas, mana bisa jadi pewaris selanjutnya keluarga kita."


"Ma .... "


"Ah, sudahlah. Mama tidak ingin bahas soal ini lagi. Sekarang, katakan pada mama, Jona tidak pulang itu karena apa? Rencana apa yang papa maksudkan tadi, hm?"


Kini, papa Jona merasa tidak yakin untuk bicara dengan sang istri terkait apa yang anaknya lakukan. Karena dia takut, istrinya bisa merusak rencana si anak hanya karena tidak setuju dengan perempuan yang kini telah anaknya cintai.


"Ayo katakan, Pa! Kenapa papa malah bengong sih?"


"Itu ... Jona .... "


"Apaan sih, Pa? Masa ngomong itu aja gelagapan? Jangan main rahasia-rahasiaan dengan mama. Mama gak suka, Pa."


Papa Jona langsung melepas dengusan pelan. Dia tidak punya pilihan lagi saat ini. Ingin diam, tapi tidak enak hati. Sementara ingin bicara, lebih tidak enak lagi.

__ADS_1


Tapi ... tidak ada cara lain selain bicara. Karena istrinya ini adalah tipe orang yang suka penasaran dan tidak akan berhenti sebelum rasa penasarannya itu terobati.


"Apa, Pa? Katakan saja!" ucap mama Jona kembali mendesak suaminya.


"Jona ingin ajak Jesi makan malam di luar."


"Apa!?"


"Lho, kok tanggapan mama gitu amat sih, Ma? Biasa aja kali, Ma. Orang Jona ajak istrinya makan di luar. Itukan hal biasa."


"Hal biasa papa bilang? Itu bukan hal biasa, Pa. Jona tidak bisa melakukan hal ini. Orang-orang akan tahu soal Jesi nantinya. Mama gak setuju itu."


Papa Jona langsung menatap istrinya dengan tatapan tak percaya.


"Kenapa kalau orang-orang tahu soal Jesi, Ma? Cepat atau lambat, papa juga akan mengumumkan prihal pernikahan Jona dan Jesi. Dan, asal mama tahu aja, Jona sudah berniat akan menikahi Jesi sekali lagi. Dia akan memperlihatkan pada semua orang, kalau Jesi adalah istrinya yang sah. Jona akan melakukan resepsi besar untuk merayakan pernikahannya itu."


Mendengar ucapan itu, mama Jona semakin menggila. Dia seperti hilang kendali akan dirinya sendiri. Apa yang dia takutkan, kini dia dengar juga dengan sangat jelas.


"Tidak! Mama tidak setuju! Kalian tidak bisa melakukan hal itu karena mama tidak akan pernah menyetujuinya!" Mama Jona berteriak dengan nada yang sangat tinggi sampai membuat satu rumah hampir mendengar apa yang dia katakan.

__ADS_1


__ADS_2