Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 52


__ADS_3

Ucapan itu membuat Jaka menoleh. Sekilas, dia bisa melihat wajah preman yang sedang bicara dengan sangat jelas. Dan, tiba-tiba dia ingat akan preman tersebut.


"Mereka .... "


"Mereka sepertinya aku pernah melihat. Tapi ... di mana ya?"


Namun, keadaan tidak membiarkan Jaka berpikir. Karena saat ini, konsentrasi akan jalan yang sedang dia lewati adalah hal yang paling utama buat Jaka.


"Cepat hubungi suamimu, Jes! Kita butuh bantuan. Mereka terlalu sadis dan tidak bisa kita anggap main-main." Jaka bicara dengan nada tinggi karena dia harus tetap fokus pada apa yang mereka lewati.


"Aku gak punya ponsel, kak. Ponselku di rumah."


"Ya ampun. Kalau gitu, ambil ponsel kakak yang ada di saku celana sekarang juga. Hubungi suami kamu. Atau, siapapun yang bisa kamu hubungi terserah. Yang jelas, kita harus dapatkan bantuan secepatnya."


Jesi ingin langsung melakukan apa yang Jaka katakan. Tapi sayangnya, dia yang duduk di sebelah Jaka sedikit kesulitan untuk mengambil ponsel yang ada di sebelah sana. Mana mobil yang ada di samping mereka terus menyenggol lagi.


"Cepat, Jes! Cepat!"


Jesi tidak menjawab. Dia melakukan apa yang kakaknya katakan sebisa mungkin. Alhasil, ponsel berhasil ia dapatkan. Tapi sayangnya, malah jatuh akibat terlepas dari genggaman karena senggolan dari mobil yang ada di belakang juga di samping mereka.


Jesi berusaha sebisa mungkin untuk menemukan ponsel yang jatuh entah ke mana. Keadaan yang semakin berbahaya membuat Jaka tidak punya pilihan lain selain mengikuti ke mana mobil bisa ia jalankan.


"Bagaimana Jes? Apa sudah kamu temukan?" tanya Jaka dalan keadaan paniknya.

__ADS_1


"Belum, kak."


"Ya Tuhan."


Jesi terus mencari, tapi tetap saja masih belum dia temukan keberadaan ponsel tersebut. Sementara mobil yang dia tumpangi kini berada di atas jembatan yang di bawahnya ada selat besar membentang.


Dan, teriakan dari para preman seakan tidak ada hentinya. Mereka terus saja meminta Jaka menghentikan mobil secepatnya.


"Jika kalian tidak ingin berhenti juga, maka kalian akau merasakan akibat fatalnya!" Teriak preman itu lagi dengan nada yang benar-benar terdengar sangat marah.


Lalu, beberapa saat kemudian, mobil yang Jaka kendarai langsung menerima hantaman keras dari dua sisi. Sisi samping, juga sisi belakang. Hal tersebut membuat mobil itu langsung kehilangan kendali secara tiba-tiba.


Dan ....


"Aaa ...!"


"Jesi!"


Mobil tersebut jatuh bersama dengan hancurnya pagar pembatas jembatan gantung yang melintasi selat tersebut. Dan, pintu samping dari mobil yang jatuh terbuka lebar. Jesika yang kebetulan tidak menggunakan sabuk pengaman, karena sedang sibuk mencari ponsel yang jatuh, ikut keluar dari mobil ketika mobil tersebut terbuka.


Jaka yang melihat hal itu, ingin menolong. Tapi sayang, dia tidak bisa bergerak. Kakinya terjebak diantara tempat duduk yang hancur.


"Jesi! Tidak ...!"

__ADS_1


Byur! Baur! Bunyi air karena kejatuhan benda-benda besar dari atas ketinggian membuat orang yang ada di sekitaran tempat tersebut langsung mengalihkan perhatian. Seketika, bunyi alam tanda bahaya dibunyikan oleh penjaga yang melihat kejadian tersebut.


Tapi sayangnya, arus sedang sangat kuat. Keadaan malam itu sangat tidak bersahabat. Walaupun penjaga selat segera mendatangkan bala bantuan, tapi tetap saja, kemungkinan untuk menemukan orang-orang yang jatuh mungkin akan sedikit sulit.


Sementara itu, para preman yang sudah melakukan kejahatan besar itu, langsung meninggalkan tempat tersebut. Maklum, bagi mereka, ini sudah biasa. Jadi, tidak ada lagi rasa takut yang bisa mereka rasakan.


Di sisi lain, Jona yang sudah menunggu Jesi cukup lama, kini sedang sangat gelisah. Dia sudah mencoba menghubungi Jesi berpuluh-puluh kali, tapi tidak mendapat jawaban.


"Ke mana kamu, Je? Jangan bilang kalau kamu tidak akan datang. Aku gak akan bisa terima hal ini," kata Jona bicara pada dirinya sendiri.


Perasaannya mulai merasa tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang tidak enak saja sekarang. Lalu, dia ingat untuk menghubungi rumah untuk mencari tahu di mana keberadaan Jesi sekarang.


Malangnya, yang menjawab panggilan itu adalah pelayan yang berada di pihak mama Jona. Setelah mendengar apa yang Jona katakan, pelayan itu langsung melaporkan semua yang dia ketahui pada mama Jona secepatnya.


"Apa? Kamu bilang barusan, Jona menghubungi rumah dan yang jawab adalah kamu?"


"Iya, nyonya. Tuan muda bilang, nona Jesi masih belum tiba. Padahal, ini sudah lewat dari waktu yang sama-sama mereka sepakati."


Mama Jona tersenyum simpul. Wajahnya sangat senang sekarang.


"Apa ada orang lain yang mendengar pembicaraan kita sekarang?" tanya mama Jona dengan tatapan tajam ke arah pelayan tersebut.


"Sepertinya ... tidak ada, Nyonya. Semua pelayan sudah berada di kamar mereka masing-masing. Hanya saya yang berada di luar karena saya tugas menutup pintu malam ini," ucap pelayan itu dengan nada penuh keyakinan.

__ADS_1


__ADS_2