Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 39


__ADS_3

"Kenapa tidak singkirkan dia buat selama-lamanya aja, Ma. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang namanya Jesika anak angkat dari papa dan mama."


Seketika, ucapan itu langsung mengubah ekspresi Emily.


"Kamu gila ya? Kita tidak bisa melakukan hal nekat seperti itu, Mila."


"Kenapa tidak bisa, Mama? Aku sudah sangat lelah dengan kehadiran Jesika dalam hidupku. Aku ingin dia lenyap saja agar tidak ada lagi yang namanya Jesi buat selama-lamanya."


"Mila! Kamu lupa dengan apa yang papamu katakan sebelum meninggal? Dia minta mama, dan kita semua buat jagain Jesi dengan baik. Itu wasiat terakhir papamu. Jika tidak, mama juga sudah mengusir Jesi dari rumah kita sejak hari pertama papamu pergi. Mengerti?"


"Dan, jangan lupa akan satu hal, Mila. Ini negara hukum. Kamu akan dapat hukuman jika kamu melakukan kejahatan besar seperti menghilangkan nyawa orang lain. Apa kamu mau masuk penjara karena melakukan kesalahan itu?"


Mila tidak menjawab. Dia hanya memberikan tatapan lekat ke arah mamanya. Tatapan yang masih merasa tidak puas dengan apa yang mamanya katakan.


Sementara itu, Emily memilih langsung beranjak dari tempat dia duduk. Meninggalkan Mila sendirian dengan pikirannya sendiri.


'Aku memang takut dengan hukuman. Tapi aku merasa sangat kesal dengan Jesika. Aku merasa takut, jika dia malah berada di atas ku kelak. Karena sekarang, dia tidak bisa dikuasai lagi. Aku makin merasa kesal dan semakin benci dia.' Mila berucap sambil menatap lurus ke depan.


.....


Hari berganti dengan cepat. Perubahan Jonathan semakin terlihat sempurna. Bahkan, sekarang dia sudah belajar berbaur dengan kehidupan sosial berkat bantuan Jesi.

__ADS_1


Jona sudah bisa berjalan ke tempat umum seperti mall atau tempat-tempat perbelanjaan yang lainnya. Dan sekarang, dia sudah mulai mengerjakan pekerjaan kantor. Dia sudah mulai bekerja lagi sekarang.


Kabar kembalinya Jona bekerja membuat Mila semakin tak karuan. Dia ingin lebih cepat bergerak untuk merebut posisi Jesika sebagai istri Jonathan..


Selagi pengumuman resmi istri Jonathan belum diungkapkan ke publik, dia ingin mengantikan Jesi secepatnya. Karena setelah semua diungkapkan, kesempatan untuk mendapatkan posisi itu semakin kecil, atau bahkan tidak ada lagi buat dia.


"Bagaimana ini, Ma? Apa kita masih harus diam saja sekarang? Mama tidak ingin bergerak sampai detik ini? Mama ingin aku patah hati, Ma?"


Mila menghujani Emily dengan banyak pertanyaan. Hal tersebut langsung membuat Emily yang sibuk dengan laptop terpaksa menghentikan pekerjaannya seketika.


"Kamu gak lihat mama lagi kerja, Mil? Bisa gak sih, bertanya itu saat mama sedang tidak bekerja seperti saat mama sedang duduk di rumah?"


"Aku tahu, Ma. Masalah perusahaan kita itu gak jauh-jauh dari masalah pendanaan, bukan? Jadi, mama tinggal gantikan Jesika dengan aku. Maka masalah perusahaan kita akan segera terselesaikan."


"Apa mama tahu? Sekarang, Jonathan sudah kembali bekerja?"


Pertanyaan itu langsung membuat Emily menatap Mila.


"Apa? Kamu bilang apa barusan? Jonathan sudah kembali bekerja?"


"Iya, Ma. Dia sudah dinyatakan pulih seutuhnya. Sekarang, dia sudah normal dan bekerja seperti biasa. Mama tahu apa artinya itu, bukan?"

__ADS_1


"Iya. Aku tahu."


"Kamu tenang saja. Ini saatnya kita bergerak. Semuanya akan berada dalam genggaman kita tidak lama lagi."


Sementara itu, di sisi lain. Tepatnya, di kediaman Wijaya. Sesilia juga sedang gusar sekarang. Dia kesal akibat Jesi yang tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan. Jesi malah menunda waktu kepergiannya dari sisi Jona.


"Perempuan sialan! Berani-beraninya dia bilang menunda waktu pergi padaku. Heh ... aku tahu kalau dia pasti tidak akan bersedia meninggalkan Jona setelah Jona pulih."


Sesilia yang kesal sedang berjalan munda-mandir di kamarnya.


"Heh! Aku tahu ini pasti akan terjadi. Dia pasti berpikir aku tidak akan mampu menggunakan surat kontrak yang ada tanda tangannya dengan jelas di atas surat tersebut."


Sesilia pun tersenyum menyeringai. Senyum licik yang terlihat cukup menakutkan.


"Dasar perempuan bodoh. Dia pikir aku tidak bisa menggunakan surat ini untuk menyingkirkan dia. Asal kamu tahu saja, Jesika. Aku lebih pintar dari pada kamu sebenarnya. Kamu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan aku."


Sesilian pun tertawa lepas. Di luar pintu kamar, pelayan pribadi mendengarkan apa yang majikannya lakukan. Pelayan itupun langsung mengelus dada.


"Ya Tuhan. Sekarang, apa lagi yang akan nyonya lakukan? Apa nyonya tidak merasa senang dengan kesembuhan tuan muda? Seharusnya, dia bersyukur dan berterima kasih yang banyak pada nona Jesi. Karena nona sudah membantu penyembuhan tuan muda. Bukan malah memusuhinya seperti yang nyonya lakukan saat ini."


"Kapan nyonya akan berubah, Tuhan? Dia semakin menakutkan saja sekarang," kata pelayan itu lagi sambil memasang wajah cemas.

__ADS_1


__ADS_2