
Keputusan itu Indra sambut dengan senang hati. Dia akan mengikuti apapun yang Diana katakan. Dengan catatan, itu demi kebaikan anaknya.
Selanjutnya, setelah Indra menyetujui niat Diana, maka Diana pun menyampaikan niat itu pada semua penghuni rumah. Sambutan Sean tentunya sangat berat hati untuk mengatakan setuju. Tapi, sayangnya dia tidak punya pilihan lain untuk menolak. Dia terpaksa mengikuti apa yang mama dan papanya inginkan.
Satu minggu kemudian, perayaan itu akhirnya di adakan juga. Pesta besar penyambutan si putri tunggal anak dari pewaris terkaya urutan pertama di kota tersebut. Pesta itu diadakan sangat meriah di hotel berbintang.
Bukan hanya membooking hotel tersebut, keluarga Kusuma juga langsung membeli hotel itu untuk tempat perayaan diadakan. Semua tamu kelas atas berdatangan. Kecuali, keluarga Wijaya yang tidak menampakkan batang hidung satupun.
Bukan tidak diundang. Tapi, keluarga Wijaya kini telah menutup diri rapat-rapat dari publik. Meskipun bisnis keluarga tetap berjalan seperti biasa. Tapi mereka tidak pernah ikut meramaikan undangan dari para pembisnis lagi.
Keluarga Wijaya melakukan hal tersebut sejak pewaris mereka mengalami sakit mental. Hingga saat ini, mereka sudah terbiasa dengan hal tersebut. Jadi, tidak akan ada yang menghiraukan keberadaan keluarga Wijaya di manapun saat pesta diadakan. Karena mereka sudah lama tidak pernah muncul.
Pesta megah itu diliput oleh hampir semua stasiun televisi juga semua media online. Mereka mengabarkan prihal putri kandung mereka yang telah lama hilang, lalu mereka temukan dengan keadaan baik-baik saja. Dan, mereka juga mengumumkan nama dari putri mereka dengan jelas. Yaitu, Putri Jesika Kusuma Diningrat.
Semua pelosok kota terfokus pada kabar tersebut. Tak terkecuali, kediaman Wijaya yang ada banyak pekerja di sana. Para pelayan sibuk memperhatikan wajah putri keluarga terkaya itu dengan seksama. Wajah yang tidak asing bagi mereka. Tentu saja mereka masih ingat dengan baik wajah itu.
__ADS_1
"Nona ... nona Jesika. Itu nona Jesika!"
Teriak salah seorang pelayan yang sedang melihat liputan dari televisi.
"Iya. Di sini juga ada kabarnya." Sambut pelayan yang lain ketika mereka melihat ke ponsel mereka.
Tentu saja, kediaman itu jadi riuh akan kabar Jesika yang muncul di televisi dan media online. Kericuhan itu terdengar oleh Jona yang ada di kamarnya. Meski dia tidak pernah bicara sejak satu bulan setelah kehilangan Jesika, tapi sampai detik ini, jika ada yang memanggil nama Jesika, dia akan reflek nyambung dengan pikirannya.
Karena itu, Jona pun langsung keluar dari kamarnya. Matanya terfokus pada wajah Jesi yang ada di dalam televisi. Seperti singa yang melihat mangsa empuknya, seperti itulah Jona yang langsung berlari untuk merebut Jesika yang ada di dalam televisi.
Sementara pelayan yang ada di sana, ada yang terjatuh, atau terdorong saja akibat ulah Jona. Mereka tentunya sangat terkejut dengan kemunculan tuan muda mereka yang tiba-tiba. Tapi ... seperti sebelumnya, mereka selalu merasa takut akan tuan muda mereka ini.
Meski berwajah tampan yang terlihat masih berwibawa sebagai tuan muda. Tapi sikapnya sungguh menakutkan. Ingatan akan perbuatan Jona waktu itu masih tergambar dengan jelas di benak para pelayan. Jona yang bringas, menyiksa beberapa pelayan, juga nona yang diundang untuk berkenalan dengannya secara brutal. Mana ada yang melupakan kejadian itu sampai detik ini.
"Ya Tuhan! Bagaimana ini? Tuan muda ada di sini sekarang," kata salah satu pelayan dengan wajah panik.
__ADS_1
"Panggil, Pak Dimas. Dia akan tahu apa yang harus kita lakukan," ucap salah satu dari mereka juga bernada sama.
Para pelayan jadi kalang kabut. Sementara Jona, dia terus merebut televisi seakan dia bisa merangkul Jesi yang dia lihat.
Jona mengguncang televisi dengan keras.
"Jesi! Kembalikan Jesi ku sekarang juga! Kalian tidak akan aku maafkan. Kalian telah merebut Jesi dari aku! Kembalikan aku bilang! Kembalikan!"
Seperti yang dikabarkan sebelumnya. Jona mengalami sakit mental yang lebih parah dari sebelumnya. Dia tidak ingat siapapun. Hanya ingat Jesi nya saja sampai detik ini.
Dan ... brak! Jona memukul televisi dengan keras. Sangking kerasnya, layar televisi sampai retak dan tidak berbentuk lagi. Tapi, wajah Jesi masih terlihat walau terhalang layar yang rusak.
"Tidak ...! Aku tidak akan membiarkan kalian merebut Jesi dari aku. Kembalikan dia! Kembalikan dia sekarang juga!"
Jona lagi-lagi memukul layar itu sampai tangannya mengeluarkan darah. Dia tetap melakukan hal tersebut. Sampai pada akhirnya, televisi itu benar-benar rusak sehingga gambarnya tidak terlihat lagi. Saat itulah, Jona panik bukan kepalang. Gambar Jesi tidak ada lagi. Dia pun jadi ngamuk dengan brutal lagi.
__ADS_1
Jona angkat televisi itu tinggi-tinggi. Lalu, dia banting televisi tersebut dengan keras. Brak! Satu televisi dengan layar tiga puluh inci berserakan di lantai.