Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 88


__ADS_3

Namun, jika dibandingkan dengan Mila, Sesilia lah orang yang paling menyesal. Dia baru tahu, kalau apa yang dia anggap kerikil itu ternyata berlian yang paling murni. Penyesalan itu tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Karena penyesalan itu sudah terlambat.


Jesika tidak mungkin dia gapai lagi. Apalagi saat ini, dia tidak bisa melakukan apapun selain menyesali diri dibalik jeruji besi.


Hati Sesilia semakin hancur saat telepon dari rumahnya dia terima. Jona kembali kambuh ketika melihat Jesika. Kabar yang pelayannya sampaikan membuat Sesilia tak karuan. Ingin rasanya dia mengulang kembali waktu yang sudah dia sia-siakan. Tapi sayang, dia tidak bisa melakukan hal itu. Karena apa yang dia inginkan tidak mungkin akan terkabulkan.


Sekarang, mereka yang sudah berbuat jahat terus hidup dalam penyesalan yang besar. Ingin meminta waktu untuk di kembalikan. Tapi sayang, itu adalah hal yang tidak akan pernah terjadi.


Sementara itu, Jaka yang sibuk dengan dunianya. Tentu sangat kaget ketika melihat berita itu. Dunianya seakan berhenti berputar seketika. Ingin rasanya dia berlari untuk datang ke tempat tersebut, tapi ... itu tidak dia lakukan.


Sekarang, adik angkat yang paling dia sayangi adalah anak orang kaya. Sudah ada jarak yang cukup besar diantara mereka. Mana mungkin dia bisa datang begitu saja. Meskipun, hatinya sangat ingin melakukan hal tersebut.


"Kak Jaka. Itu ... kak Jesika, bukan?" kata Meta sambil memperhatikan layar ponselnya sendiri.


"Iy-- iya. Aku yakin kalau dia adalah Jesika. Namanya saja sama, Met." Jaka berucap dengan suara pelan. Terdengar sekali kalau dia sedang sedih saat ini.

__ADS_1


"Ayo, kak! Pergi ke hotel itu. Temui kak Jesi sekarang juga. Nih! Bawa mobilku. Sedangkan mama kaka, biar aku aja yang jagain sekarang," kata Meta dengan penuh semangat sambil mengangkat kunci mobil dengan tangannya.


Jaka melihat Meta dengan seksama. Kemudian, dia mendengus pelan tanpa menerima kunci mobil yang Meta berikan.


"Tidak bisa, Met."


"Lho, kenapa tidak bisa, Kak? Bukankah kaka ingin banget bertemu dengan kak Jesi? Iya, kan?"


"Iya. Aku sangat ingin bertemu Jesi. Tapi ... itu saat aku tidak tahu di mana dia. Tapi, setelah aku tahu di mana dia saat ini. Tidak. Aku tidak lagi ingin bertemu dengannya. Karena bagiku sudah cukup melihat dari jauh. Aku sudah melihat dia bahagia, aku sudah sangat puas, Meta."


'Aku akan bantu kak Jaka untuk bertemu kak Jesi nantinya. Aku tahu kaka sangat ingin bertemu, tapi entah karena alasan apa, kaka jadi mengurung niat itu. Tapi, aku janji, aku akan bantu kaka nanti.' Meta bicara dalam hati dengan tatapan lurus ke arah Jaka.


Meta tidak akan memaksa Jaka sekarang. Tapi, dia akan membantu Jaka untuk bertemu dengan Jesika nantinya. Bagaimanapun caranya, dia sudah membulatkan tekat untuk menolong Jaka. Karena kebahagiaan Jaka, adalah kebahagiaanya juga.


Dan ... saat ini, papa Jona juga pak Dimas sudah tiba di tempat pesta. Keduanya bergegas masuk ke dalam untuk menemui Jesi. Tentunya, setelah bicara panjang lebar dengan beberapa penjaga di depan pintu, baru mereka di perbolehkan masuk ke dalam.

__ADS_1


Papa Jona yang sudah tidak sabar lagi, langsung mencari Jesika di antara para kerumunan orang. Tidak dia hiraukan beberapa orang yang sibuk menyapa dirinya. Karena saat ini, tujuannya adalah bertemu dan bicara dengan Jesika.


Matanya terfokus pada perempuan cantik yang ada di tengah beberapa orang kelas atas. Dia langsung saja bicara tanpa basa-basi lagi.


"Jesi. Tolong ikut papa pulang ke rumah sebentar saja. Jona sedang butuh kamu, Jes."


Tentu saja ucapan itu sangat membingungkan buat Jesi. Karena saat ini, dia masih belum ingat dengan siapapun. Amnesia ringan yang dia alami masih belum sembuh. Entah apa penyebabnya, dia juga tidak tahu.


Namun, bukan hanya Jesi yang dilanda kebingungan. Indra, Diana, juga semua yang ada di sana juga sedang sangat bingung saat ini.


"Ada apa ini, Wijaya? Kenapa kamu bicara seperti itu pada anakku? Jangan bilang kalau kamu yang merawat anakku dulu. Karena itu sungguh sangat tidak mungkin," kata Indra dengan tegas.


"Ya, Mas Wijaya. Kamu tahu kalau Jesi saat ini masih belum ingat dengan masa lalunya. Jadi, kamu manfaatkan ini untuk menculik anak kami. Jangan mimpi, Mas. Urusan anak kita yang lalu, tolong jangan libatkan anakku yang ini. Dia tidak tahu apa-apa soal itu," kata Diana pula.


Sementara Sean dan Marisa juga tidak ingin ketinggalan bicara. Mereka membenarkan apa yang Diana katakan. Mereka juga merasa tidak ingin dikaitkan atau diungkit lagi semua yang telah lalu. Karena buat mereka, itu adalah kesalahan mereka yang sudah mereka lalui.

__ADS_1


__ADS_2