Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 79


__ADS_3

Penjelasan Meta membuat Jaka melemah seketika. Dia yang awalnya bersemangat, kini kembali drop karena kabar itu.


"Jadi ... Jesi masih belum ketemu, Met?"


"Belum, Kak."


"Ya Tuhan. Apakah Jesi selamat? Atau ... tidak-tidak. Jesi pasti selamat. Nika hilang, dia pasti baik-baik saja. Aku harus percaya dengan kekuatan doa."


Nika. Nama itu langsung membuat hati Meta sedikit tergores. Meski dia tidak tahu seperti apa pemilik nama, tapi perasaannya sedikit terlukai akibat nama itu.


"Nika? Si-- siapa dia, kak?" Tanpa terasa, pertanyaan itu lolos dari bibir Meta.


Sementara Jaka, dia yang dapat pertanyaan tersebut seakan tidak merasakan apapun.


"Dia adalah orang yang menolong aku saat aku hanyut waktu itu, Met."


Sontak, penjelasan itu sedikit melegakan. Meski masih ada rasa penasaran, tapi Meta sebisa mungkin menahan pertanyaan itu agar tidak lolos dari bibirnya. Karena dia tidak ingin terlihat terlalu ingin tahu.


Tak terasa, akhirnya mobil mereka tiba juga di rumah sakit jiwa tempat Emily berasa. Jaka bergegas turun dari mobil setelah Meta memarkirkan mobil di parkiran.

__ADS_1


Ketika tiba di ruangan Emily, mata Jaka langsung berlinangan saat melihat sang mama yang sedang duduk sendiri di tepian jendela. Wajah Emily sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Dia terlihat sangat kurus dan begitu pucat. Rambut yang biasanya terawat dan selalu menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk mendadani rambut tersebut, kini terlihat kusut seperti berhari-hari sudah tidak tersentuh sisir.


Tak ada polesan bedak lagi. Juga tidak ada polesan lipstik mahal yang menambah cantik wajah tuanya sekarang. Yang ada hanya wajah tua yang kusut karena tidak ada perawatan.


Hal itu membuat Jaka sangat terluka. Dia pun langsung menangis sambil berjalan perlahan untuk mendekati sang mama.


"Mama."


"Apa mama ingat aku?" Jaka berucap sambil memeluk tubuh kurus Emily.


Tentu saja tidak ada jawaban. Emily hanya terdiam mematung. Hanya matanya saja yang berkedip-kedip merespon apa yang Jaka lakukan.


Sementara itu, Emily tetap saja tidak merespon. Ingatannya akan Jaka mungkin sudah tidak ada. Karena masalah yang bertubi-tubi, dia jadi hilang kendali.


"Bicara padaku, Ma! Ayo jawab meski hanya satu kata, mama."


"Kak. Jangan paksa, tante Emily untuk bicara. Dia tidak akan merespon kak Jaka dengan waktu yang secepat itu." Meta bicara sambil menyentuh lembut pundak Jaka.


"Kata dokter, beban pikiran tante Emily terlalu banyak. Jadi, dia susah untuk mengingat tentang kehidupannya lagi. Dia hanya akan berhalusinasi dengan kehidupannya sendiri sekarang. Jika kambuh, maka dia akan melakukan apa yang ingin dia lakukan."

__ADS_1


Jaka mendengarkan apa yang Meta jelaskan. Dia sedikit tersentuh dengan gadis yang ada di sampingnya saat ini. Sungguh, si gadis ternyata begitu banyak tahu terang mamanya. Hal yang dia sendiri sebagai anak tidak ketahui.


"Meta, kamu ternyata cukup banyak tahu tentang mama aku. Kamu .... "Jaka menggantungkan kalimatnya. Dia tidak tahu apa yang ingin ia ucapkan untuk gadis yang ada di sampingnya saat ini.


Sementara itu, Meta malah tersenyum kecil.


"Tidak terlalu banyak tahu, Kak. Tapi setidaknya, aku cukup tahu. Karena mamamu, hanya aku dan kedua orang tuaku yang selalu datang menjenguk. Jadi, otomatis dokter hanya bicara dengan kami apapun perkembangan juga keluhan yang terjadi pada mama kakak."


Saat itu, Jaka sadar kalau ternyata, Meta dan kedua orang tuanya adalah satu-satunya orang yang peduli dengan keluarga Jaka. Saat itulah, Jaka merasa, kalau dia cukup banyak menyusahkan orang lain. Dia berhutang budi pada tetangganya saat ini.


.....


Hari berlalu dengan cepat. Bulan pun berganti sekarang. Kehidupan yang rumit, mereka jalani dengan sulit. Jona yang semakin lama semakin parah sakit mentalnya. Sedangkan Jesi, hilang ingatannya masih juga belum sembuh, walau sudah dua bulan berlalu.


Sementara Jaka, dia masih tetap berada di kotanya. Merawat sang mama, dengan di bantu Meta sepenuh hati. Sedangkan Junika, seperti ia lupakan untuk sementara waktu.


Jalan hidup terkadang tidak ada yang tahu. Jesi hidup sangat bahagia saat ini. Menikmati kehidupan sebagai anak orang terkaya nomor satu di kota ini. Sedangkan kedua orang tuanya, sangat bahagia dan begitu mengutamakan Jesi. Sebisa mungkin, mereka akan menyisihkan waktu untuk bersama.


Mereka akan selalu berkumpul bersama, ngobrol dan bercanda. Seperti yang mereka lakukan sore ini. Setelah kepulangan Indra dari kantor, mereka akan menikmati sore bersama di ruang keluarga.

__ADS_1


Namun, saat mereka bertiga sedang asik ngobrol, seorang pelayan datang ke ruangan tersebut dengan tergesa-gesa. Dengan wajah yang agak tidak enak, pelayan itu menghampiri Diana.


__ADS_2