
Papa Jona bertemu dengan pelayan yang telah menyembunyikan barang-barang Jesi sebelumnya. Saat diintrogasi, pelayan itu berusaha tetap tenang walau pada dasarnya, raut cemas dan gelisah sangat terlihat dengan jelas di wajahnya.
"Katakan sejujurnya! Karena aku akan memaafkan kamu jika kamu bicara jujur padaku soal menghilangnya Jesi dari rumah ini."
"Maaf, tuan besar. Saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang nona Jesika. Malam itu, saya hanya bertugas menjaga pintu saja. Saat telpon rumah berbunyi, saya angkat. Terus, saya tidak tahu lagi selanjutnya, tuan besar."
"Kamu yakin?" Papa Jona mulai kesal dengan kegigihan pelayan itu. Tapi, jika ingin tahu rahasia, maka dia harus tetap sabar. Karena kunci cadangan untuk membuka kebohongan adalah pelayan ini.
"Yakin, tuan besar. Saya yakin."
Papa Jona langsung mendengus pelan.
"Pelayan! Panggilkan Pelayan Imah datang ke sini. Dia mungkin tahu sesuatu dan dia pasti bisa membuat pelayan ini berubah pikiran."
"Baik, Tuan besar." Pelayan yang diperintah oleh papa Jona itupun langsung beranjak meninggalkan tempatnya.
__ADS_1
Sementara itu, pelayan yang diintrogasi sedang memikirkan apa yang papa Jona katakan barusan. Hal yang membuat dia bingung. Ada hubungan apa Imah dengan interogasi yang dia jalankan saat ini?
Padahal, Imah itu hanya seorang pelayan pribadi nyonya mereka. Tidak ada yang takut dengan Imah. Karena meskipun berada di samping nyonya, dia sedikit polos dan tidak tahu bagaimana bersikap keras layaknya majikan yang sedang dia ikuti.
Beberapa saat berlalu. Akhirnya, pelayan yang ditugaskan datang juga. Tentunya, dengan Imah yang sedang berjalan bersama pelayan tersebut.
"Tuan besar," ucap Imah dengan hormat.
"Imah, kamu pasti bingung kenapa aku meminta kamu datang ke sini, bukan? Itu karena pelayan ini tidak mengakui apa yang sudah dia lakukan. Aku hanya minta kamu untuk melihat wajahnya dengan baik. Apa benar dia yang telah bersekongkol dengan Sesilia? Jika ia, aku tidak akan mempertimbangkan lagi untuk memaafkan dia. Aku akan langsung memberikan dia hukuman saja," kata papa Jona dengan nada tegas.
Imah tidak langsung menjawab. Dia melihat ke arah pelayan yang sekarang sedang bersimpuh di depan majikan mereka. Sedangkan ekspresi dari pelayan itu sungguh sangat berbeda sekarang. Pelayan itu terlihat sedang sangat ketakutan. Entah karena kata-kata yang papa Jona ucapkan, atau karena dia sudah tahu, kalau kejahatan yang dia perbuat ternyata sudah ada yang mengetahuinya.
Si pelayan yang di panggil pun langsung mengangkat wajahnya. Dengan wajah yang masih takut, dia balas tatapan Imah padanya.
"Jangan fitnah aku, mbak Imah. Aku .... "
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak drama jadi manusia, Susi. Aku sudah tahu semuanya. Karena malam itu, aku telah membuntuti kamu. Melihat semua yang kamu lakukan dengan sangat jelas."
"Jika kami jujur dari awal, mungkin kamu tidak akan dituduh sekongkol oleh tuan besar. Dan, tempat kamu juga tidak akan berada di dalam penjara, Sus."
Susi kaget dengan kata penjara yang Imah sebutkan. "Mbak, aku .... "
"Nyonya sudah ketahuan melakukan kejahatan, Susi. Jadi, kamu juga tidak ada celah untuk lolos. Meski bukti cctv tidak ada. Tapi bukti kejahatan kamu yang menyembunyikan semua barang nona di taman belakang, tidak akan bisa dielakkan. Karena rekaman cctv taman belakang tidak kamu matikan. Ingat tidak?"
Seketika, wajah Susi memerah. Ternyata benar apa yang dia rasakan malam itu. Dia sedang diperhatikan oleh seseorang. Sekarang, dia tidak bisa berkata apa-apa selain terdiam. Karena memang, kejahatan yang dia buat tidak bisa dia hindari. Tidak ada celah untuk dia membela diri lagi sekarang.
Sekarang, kunci cadangan sudah berhasil membuka gembok. Kini, tinggal mengubrak abrik isi dari balik pintu yang awalnya terkunci saja lagi. Barang-barang milik Jesi yang Susi sembunyikan juga sudah papa Jona dapatkan. Tapi, untuk menjobloskan istrinya ke dalam penjara, bukti itu masih belum cukup. Karena mengingat, si istri ini adalah orang yang tidak pernah mengakui kejahatan yang dia buat. Maka dia harus punya bukti yang benar-benar nyata agar bisa menghukumnya.
"Maaf, tuan besar. Apakah saya boleh memberikan saran?" tanya Imah dengan nada sangat hati-hati.
"Katakan, Imah! Saran apa yang kamu punya. Jika itu bisa aku pakai, maka akan aku ambil agar masalah yang aku hadapi cepat teratasi." Papa Jona berucap dengan nada lemas. Karena saat ini, dia memang benar-benar sangat pusing dalam memikirkan semua masalah yang sedang menimpa keluarganya.
__ADS_1
Imah yang merasa punya tanggung jawab dalam membantu si majikan pun merasa agak bahagia karena telah diberi kesempatan. Dengan penuh semangat dia pun berucap.
"Tuan besar, maaf sebelumnya. Jika nyonya tidak bisa kita paksa untuk mengaku, maka kita harus menemukan orang lain yang bisa menjadi pembongkar semua kesalahan yang nyonya lakukan."