
Mama Jona kini mengurung diri di kamar setelah beberapa saat perdebatan antara dirinya dengan sang suami terjadi. Namun, saat seorang pelayan datang membawa kabar tentang kedatangan Mila ke rumah itu, dia terpaksa keluar untuk menemui orang yang telah dia undang.
Tapi, ketika dia keluar dari kamarnya, dia berpas-pasan dengan Jesi yang baru turun dari lantai atas. Mata mereka saling tatap untuk beberapa saat.
Dengan tatapan penuh amarah dan kebencian, mama Jona menatap Jesika. Dia sepertinya sangat ingin menerkam Jesi sekarang juga. Hanya saja, itu tidak bisa dia lakukan karena di sini terlalu banyak pelayan yang mungkin tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.
'Tidak akan aku biarkan kamu menemui anakku. Tidak akan! Aku tidak akan rela orang-orang tahu kamu siapa. Aku akan membuat kamu tidak bertemu Jona sekarang,' kata Sesilia dalam hati.
"Mau ke mana kamu!" Seselia bicara dengan nada tinggi pada Jesi.
Dan, benar saja apa yang dia pikirkan sebelumnya. Semua mata langsung menoleh ke arah Sesilia karena ucapan Sesilia barusan.
"Ma ... aku ... ingin makan malam bersama Jona. Jona .... "
"Tidak! Kamu tidak boleh pergi dari rumah malam ini. Kamu dan Jona itu menikah secara tidak resmi. Jadi, aku tidak ingin ada orang yang tahu tentang siapa kamu. Paham!"
__ADS_1
Ucapan itu sontak membuat Jesi kaget. Meski dia sudah memikirkan tentang hal ini pasti akan terjadi, tapi tetap saja. Itu membuat dia agak terluka dan cukup gugup.
"Tapi, Ma .... Jona akan .... "
"Kak Jesi, kamu kok malah membantah apa yang mama mertuamu katakan. Gak baik lho, jadi menantu yang suka membantah," ucap Mila yang sudah berada di ruangan tersebut beberapa menit yang lalu.
Mendengar keributan yang terjadi tak jauh darinya, tentu saja Mila tidak ingin membiarkan hal tersebut begitu saja. Karena di sini, dia merasakan kalau dia punya peluang emas untuk semakin membuat Jesi tersudutkan.
"Mila! Jangan ikut campur kamu! Ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu." Jesi berucap dengan nada kesal yang menggelegar.
"Tante, maaf. Aku gak bermaksud buat ikut campur urusan kalian. Tapi aku merasa, kak Jesi sedikit lupa diri sekarang. Maka dari itu, aku sebagai adik merasa punya tanggung jawab untuk mengingatkan dia. Jika itu salah, aku sangat-sangat minta maaf, tante," kata Mila dengan nada sedih dan tidak enak hati.
Tentu saja itu hanya akting Mila belaka. Karena sebenarnya, dia sangat bahagia dengan apa yang sekarang terjadi. Dia tertawa lepas dalam hati saat ini.
"Kakak kamu ini memang sudah lupa siapa dirinya. Dia berlagak layaknya ratu di sini sekarang. Tapi dia tidak ingat, kalau dirinya itu sebenarnya hanyalah seorang pembantu alias, babu yang tidak punya apa-apa."
__ADS_1
Ucapan mama Jona barusan sangat melukai hati Jesika. Dia ingin sekali berteriak dengan keras. Tapi, itu tidak bisa dia lakukan. Karena seperti tidak punya suara lagi. Jesi tidak bisa berucap. Kerongkongannya terasa begitu kering sampai tidak bisa bicara.
Sementara Jesi begitu terpukul, Mila pun merasa begitu bahagia. Namun, seakan itu belum cukup bagi Mila, dia ingin hal yang lebih besar lagi. Ingin Jesi merasakan hal yang lebih menyakitkan lagi saat ini.
"Tante benar. Kakakku ini di manapun dia berada, dia selalu menganggap dirinya sendiri sebagai ratu. Dia tidak memikirkan orang lain selain dirinya sendiri. Dia juga bisa melakukan cara apa saja untuk mencapai apa yang dia inginkan. Meskipun, cara itu adalah cara kotor sekalipun."
"Mila! Jangan asal bicara kamu ya. Untuk apa kamu datang ke sini sekarang? Kamu sengaja ingin memancing di air yang keruh? Kamu lupa kalau kamu sudah tidak diizinkan datang ke rumah ini lagi, Mila." Jesi berucap dengan nada sangat kesal.
Karena terlalu kesal, dia lupa akan siapa dan bagaimana Mila yang sesungguhnya. Jesi lupa kalau ini adalah hal yang paling Mila inginkan. Membuat dirinya tersudutkan, dan memperlihatkan kalau dialah yang baik dan dia akan dapat pujian atau pembelaan dari orang-orang yang tidak tahu bagaimana sifat Mila yang sesungguhnya.
Mila semakin bahagia. Dia pun semakin keras menjalankan aktingnya sebagai orang yang terluka akan apa yang Jesi katakan barusan.
"Tante, maafkan aku. Undangan tante benar-benar tidak bisa aku tolak. Meski aki ingat, kalau aku tidak diizinkan datang ke rumah ini, tapi aku tidak ingin menolak undangan tante. Karena aku ... benar-benar tidak bisa membuat tante merasa kecewa dengan penolakan yang aku buat."
"Tante ... aku pikir, setelah tante mengundang aku, maka tidak ada yang mengingat kalau aku tidak diizinkan datang ke rumah tante ini. Tapi ternyata, yang berkuasa di sini sekarang bukanlah pemilik rumah yang sebenarnya. Melainkan, kakak angkat ku yang begitu tidak menyukai aku." Mila kembali berucap dengan wajah yang tertunduk karena sedih. Tentunya, sedih yang dibuat-buat, alias sandiwara saja.
__ADS_1