Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 57


__ADS_3

Mata papa Jona menatap tajam ke arah istrinya. Dia seperti sedang mencium hal buruk yang telah istrinya lakukan sebelumnya.


"Dari mana saja kamu, Ma? Kenapa baru terlihat sekarang? Apa kamu tidak panik dengan keadaan rumah ini?"


Pertanyaan itu tidak mengubah ekspresi tenang dari wajah Sesilia. Dia malah membalas tatapan suaminya dengan tatapan tajam juga.


"Kenapa aku harus panik, Pa? Semua yang sudah terjadi di rumah ini, sudah direncanakan sendiri oleh Jesika. Dan ... juga aku."


Ucapan itu sontak langsung membuat papa Jona kaget bukan kepalang. Dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya, papa Jona langsung menghampiri istrinya agar bisa bicara semakin dekat.


"Apa yang kamu katakan barusan, Ma? Jangan bicara yang tidak-tidak. Bicara yang jelas biar papa paham dengan apa yang ingin kamu sampaikan."


Wajah papa Jona terlihat sangat kesal sekaligus sangat tidak sabar lagi. Dia sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Sementara itu, mama Jona malah terlihat tetap tenang seperti tidak pernah melakukan sedikitpun kesalahan.


"Nih. Papa lihat sendiri apa yang tertulis di atas kertas ini. Setelah papa lihat, maka papa akan tahu apa yang mana maksudkan." Sesilia berucap sambil menyerahkan sebuah map coklat yang sedari tadi dia bawa.

__ADS_1


Papa Jona menerima map tersebut, masih dengan wajah yang terlihat cukup bingung. Ia lirik sesekali wajah istri yang ada di depannya saat ini sebelum ia keluarkan apa isi dari map tersebut.


Papa Jona membulatkan mata ketika membaca isi dari surat kontrak yang sebelumnya dia keluarkan dari map barusan. Dengan mata yang menatap tajam, dia angkat surat tersebut. Wajahnya yang kini terlihat sangat marah, seolah siap menerkam Sesilia yang ada di hadapannya.


"Apa ini, Ma!? Kenapa bisa ada surat kontrak seperti ini? Kamu yang meminta Jesi pergi? Yang benar saja kamu, Sesilia!"


Tentu saja Sesilia yang tenang kini langsung ikut memperlihatkan emosinya. Dia balas tatapan suaminya dengan tatapan yang sama pula.


"Apa di dalam surat kontrak itu masih tidak jelas, Pa? Apa papa masih tidak paham apa yang tertulis di dalamnya? Aku tidak memaksa Jesika, Pa. Hanya saja, dia bekerja dengan sungguh-sungguh karena imbalan uang yang aku berikan."


Papa Jona pun mulai melemah setelah mendengar penjelasan dari istrinya. Hati manusia yang dia miliki, kini jadi agak was-was dengan penjelasan yang Sesilia berikan barisan.


"Tidak mungkin, Ma. Papa cukup kenal Jesi dengan baik. Papa sudah mengamati dia sejak lama. Dia itu gadis terbaik, meski latar belakangnya tidak jelas. Jadi, dia tidak akan pernah bersikap seperti ini jika tanpa alasan."


"Alasan apa lagi yang papa bicarakan, hm? Mama rasa, alasannya cukup jelas, Pa. Dia hanya ingin hidup bebas. Tidak terikat dengan pernikahan yang mungkin membosankan untuknya. Berada dalam pengawasan Jona membuat Jesi tidak betah."

__ADS_1


"Tahu dari mana mama semua itu? Apa hubungan mama dengan Jesi selama ini cukup baik? Papa tidak percaya dengan apa yang mama katakan. Karena selama ini, mama dengan Jesi tidak pernah akur."


Ucapan itu tentu membuat hati Sesilia mengalami sedikit guncangan. Tapi, bukan Sesilia namanya kalau dia menerima apa yang suaminya katakan dengan lapang dada alias tanpa perlawanan sedikitpun.


"Papa tahu, Pah? Hubungan antara mama dengan Jesi yang tidak baik itu hanya sebuah sandiwara saja."


"Ini semua permintaan Jesi buat mama. Dia tidak ingin ada yang tahu apa yang sudah kami sepakati. Jadi, mama terpaksa mengikuti apa yang dia mau. Jika papa tidak percaya, Imah akan memberikan buktinya," ucap mama Jona dengan penuh rasa percaya diri.


Sebelumnya, mama Jona sudah memikirkan hal ini pasti akan terjadi. Karena dia cukup tahu siapa suaminya ini. Mana mungkin si suami percaya dengan apa yang dia katakan begitu saja. Jadi, dia terpaksa mendatangkan bukti agar kepercayaan si suami bisa ia dapatkan.


Yah, meskipun bukti yang dia punya hanya sebuah bukti palsu saja. Karena dia telah meminta seseorang mengolah suara orang lain dengan teknologi agar mirip dengan suara Jesi. Hal itu mungkin tidak akan membuat suaminya percaya sepenuhnya. Namun, setidaknya, dia bisa membuat hati suaminya sedikit goyah. Itulah yang Sesilia pikirkan saat ini.


Sementara itu, papa Jona yang mendengarkan nama Imah di sebut, langsung meminta seorang pelayan memanggil Imah datang. Dia yang sudah tidak sabar lagi, tentu ingin segera tahu kebenaran yang ada.


"Panggil Imah kemari sekarang juga."

__ADS_1


__ADS_2