
Perdebatan sengit itupun terjadi. Tanpa memberikan papa Jona atau Pak Dimas bicara panjang lebar untuk menjelaskan, orang-orang juga ikut sibuk dengan hal tersebut. Bahkan, mereka tidak menghiraukan Jesi yang sedang bingung tanpa bisa bicara sepatah katapun.
Alhasil, karena tidak punya kesempatan untuk menjelaskan, papa Jona pun langsung terpikirkan cara gila. Cara yang tidak mungkin dia lakukan sebelumnya. Yaitu, langsung menarik tangan Jesi untuk dia ajak pergi.
Mana mungkin Indra dan Diana mengizinkan hal itu terjadi. Tentu saja mereka akan menghalangi niat itu dengan cepat.
Tapi sayang, malang selalu tidak berbau. Saat tangan Jesi papa Jona pegang, Indra yang kaget langsung menahan tangan Jesi yang satunya lagi dengan cepat. Saat itulah, tubuh Jesi yang kehilangan keseimbangan langsung terhuyung akibat tangannya yang papa Jona pegang terlepas.
Alhasil, kepala Jesi pun langsung membentur tembok yang ada di sampingnya saat itu. Dan ... kepanikan pun terjadi. Jesi yang terbentur pelan itu langsung tidak sadarkan diri. Papa Jona langsung jadi tersangka utama atas kejadian itu.
Indra dan Diana marah besar disertai Sean yang juga ikut mengamuk. Sementara yang lainnya, wajah cemas tergambar dengan jelas. Mereka ada yang berpikir macam-macam tentang apa yang baru saja mereka lihat saat ini. Tapi, itu tidak akan menggubah kejadian yang sudah terjadi.
Dengan wajah panik, Jesi segera Diana dan Indra larikan ke rumah sakit. Sementara pak Dimas dan papa Jona di tahan dengan keras oleh para anak buah yang Indra perintahkan. Meski tidak melakukan kekerasan fisik, tapi papa Jona sangat tersiksa. Karena dia ingin mengetahui bagaimana keadaan Jesi saat ini. Dia ingin ikut serta ke rumah sakit untuk tahu apa yang susah terjadi lada Jesika.
Keadaan di tempat pesta benar-benar tegang. Suasana panik, cemas, serta takut terlihat dengan sangat jelas saat ini. Siaran langsung pun segera dihentikan saat itu juga. Bahkan, tamu undangan juga di bubarkan beberapa menit setelah kejadian itu.
__ADS_1
Pokoknya, keadaan sangat panas saat ini. Pesta penyambutan anak orang paling berpengaruh seketika hancur. Tentu saja publik akan ikut-ikutan panik secara besar-besaran karena hal tersebut.
....
Beberapa jam kemudian, Jesika akhirnya sadar dari pingsan akibat kepala yang sedikit terbentur. Sebenarnya, bukan karena benturan yang dia alami yang membuatnya tidak sadarkan diri. Melainkan, karena ingatan masa lalu yang sudah kembali sepenuhnya.
Jika hanya karena benturan kecil itu, dia tidak akan mengalami pingsan tadinya. Namun, saat mendengar percekcokan, perlahan, ingatan Jesi kembali hingga pada akhirnya, dia tidak kuat menahan lonjakan ingatan yang secara tiba-tiba memenuhi memori otaknya.
Sekarang, Jesi sudah pun tersadar dan bangun dari baringnya. Sang mama yang tahu kalau dia sudah bangun, tentu saja langsung menghampiri Jesi dengan perasaan bahagia.
"Iya, nak. Jika ada yang sakit, langsung katakan saja ya," kata Indra pula membenarkan apa yang istrinya katakan.
Jesi tersenyum. Dia sekarang bukan hanya bahagia, tapi ... sangat-sangat bahagia karena saat ini, dia bukan hanya punya kedua orang tua. Melainkan, dia punya orang tua yang sangat perhatian, juga paling sayang padanya.
"Mama, papa. Jesi gak papa kok. Gak ada yang sakit sedikitpun. Jadi, jangan perlihatkan wajah cemas lagi sekarang yah. Karena Jesi baik-baik saja saat ini, Ma, Pa."
__ADS_1
"Anakku ... mama panik banget tadi tahu gak? Kamu yakin sekarang gak papa? Ini, masih sakit gak?" tanya Diana sambil menyentuh pelan dahi Jesi di mana ada bekas benturan yang saat ini hanya diberikan plaster kecil saja.
"Gak kok, Ma. Aku gak sakit lagi."
"Oh ya, di mana papa Wijaya, Ma? Apa .... "
Jesi tiba-tiba menggantungkan kalimatnya. Wajah yang awalnya tenang, kini mendadak terlihat panik bukan kepalang.
Tentu saja Diana dan Indra ikut memasang wajah cemas dan bingung saat melihat perubahan wajah si anak. Keduanya pun langsung bertukar pandang dengan wajah yang takut.
"Ada apa, Sayang? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Diana berucap sambil membelai lembut lengan Jesi.
"Apa yang kamu pikirkan, Nak? Apa kamu takut sekarang? Tenang saja, Sayang. Tidak akan ada yang berani mengganggu kamu lagi ke depannya. Termasuk, si Wijaya yang tidak tahu aturan itu," kata Indra dengan nada kesal.
"Pah, papa Wijaya tidak salah. Dia hanya sedang cemas saja. Aku sudah ingat semuanya sekarang. Dan, aku harus segera pulang ke rumah papa Wijaya untuk melihat keadaan Jona."
__ADS_1
Sontak saja, Indra dan Diana langsung dibuat panik akan kata-kata yang Jesi ucapkan. Mereka berdua begitu terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.