Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 92


__ADS_3

Jesi dengan tangan yang ringan langsung memutar kenop pintu kamar tersebut. Seketika, pintu kamar terbuka lebar. Semua isi kamar yang berantakan pun terlihat dengan jelas.


Dan, saat itu pula, si pemilik kamar juga terlihat dengan sangat jelas. Dia sedang mengangkat kursi untuk dia hancurkan. Namun, langsung tertahan karena melihat seseorang yang sangat ia dambakan kedatangannya.


Mata yang berkaca-kaca terlihat seketika. Kursi yang ada di tangan, seketika itu pula terlepas. Jona yang melihat Jesi, seperti baru saja diberikan obat penenang.


"Jesi." Jona berucap lirih. Suaranya terdengar cukup pelan dan sangat lemas.


Dan ... belum sempat dia bergerak. Tubuhnya pun tiba-tiba ambruk ke lantai seketika. Jesi yang melihat hal itu tentu saja jadi kaget dan reflek langsung mendekat ke arah Jona berada.


"Jona! Jo!"


Jesi berusaha merebut tubuh yang kini terlihat sangat kurus itu agar tidak sepenuhnya jatuh ke lantai. Dengan air mata yang mengalir perlahan, Jesi meraih lalu memangku Jona dengan penuh kasih sayang.


"Jo, maafkan aku. Aku .... "


"Tidak perlu minta maaf. Aku senang kamu pulang. Maaf, aku tidak bisa baik-baik saja tanpa kamu. Aku .... "


Entah apa yang terjadi, Jona tiba-tiba tidak bisa berucap dan seketika, tangannya terkulai lemas. Matanya pun tertutup rapat. Hal itu sontak membuat Jesi jadi panik tak terkira.


"Jo. Jangan begini kamu. Jona! Jangan buat aku panik, Jo! Jo bangun jo!"


Jesi berteriak sambil mengguncang pelan tubuh Jona. Air mata jangan ditanya lagi, jatuh sangat deras seperti air terjun yang turun dari ketinggian.

__ADS_1


"Jona ...!"


Jesi terus memanggil Jona dengan suara nyaring juga dengan tangisan. Sedangkan Dana, dia baru bisa bangun dari jatuhnya akibat benturan benda yang Jona layangkan tadi.


"Ya ... ya Tuhan. Apa ... apa yang terjadi," kata Dana sambil memegang kepalanya yang terasa masih sangat sakit juga terlalu perih.


"Jesi. Kamu di sini," ucap Dana lagi sambil berjalan sempoyongan.


"Dana .... Tolong Jona. Aku mohon," ucap Jesi sambil menangis dengan suara yang sangat sedih.


"Tenang, Je. Dia gak papa kok. Aku yakin kalau dia cuma lelah. Jadi, kamu tidak perlu panik seperti ini," kata Jona berusaha menenangkan Jesi sambil memegang bahu Jesi dengan lembut.


"Tapi ... dia .... "


Dana pun melakukan pemeriksaan pertama yang bisa dia lakukan sebagai seorang dokter. Meski hanya dengan tangan tanpa alat, dia juga bisa tahu kalau Jona masih baik-baik saja.


Belum sempat Dana bicara, para pelayan pun tiba ke sana beserta kedua orang tua Jesika. Mereka datang karena mendengar teriakan dari Jesi tadi.


Tentunya, mereka sangat takut kalau ada hal buruk yang terjadi dengan Jesika. Terutama, mama dan papa Jesi tentunya. Mereka sudah berniat tidak akan memaafkan keluarga Wijaya jika anak mereka kenapa-napa.


"Ada apa ini?" Apa yang terjadi?" Diana langsung berucap dengan nada paniknya.


"Sayang, kamu gak papa, Nak?" Indra pula bertanya saat melihat Jesi baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku gak papa, Pa. Aku baik-baik saja. Tapi Jona, dia .... "


"Nona Jesika, dia gak papa kok. Jona baik-baik saja. Hanya kecapean saja. Kamu bisa tenang, karena dia gak papa." Dana langsung berucap cepat untuk membuat semua menjadi tenang.


Jesi menoleh ke arah Dana "Kamu yakin?" tanya Jesi dengan perasaan masih tak percaya.


"Percaya padaku, Nona Jesika. Dia biak-baik saja karena saat ini, tubuhnya hanya merasa sedikit lelah. Setelah pikirannya menerima sedikit ketenangan, maka tubuhnya yang lelah langsung tidak punya tenaga. Maka dari itu, dia pingsan sekarang."


Akhirnya, setelah dijelaskan dengan seksama, Jesi bisa bernapas dengan lega juga. Merekapun langsung memindahkan Jona ke kamar sebelah untuk istirahat.


Kamar sebelah, kamar di mana Jesi pernah tinggal dahulu. Kamar itu ternyata masih sama seperti sebelumnya. Masih terawat dan, semua barang yang si pelayan curi sudah dikembalikan lagi ke kamar itu.


Jesi sibuk memperhatikan sekeliling kamar sambil menunggu Dana selesai mengobati kembali tangan Jona yang terluka. Saat itu dia ingat akan liontin yang dulunya dia tinggalkan di dalam kamar tersebut. Tapi, karena ia sudah menemukan orang tuanya, liontin itu dia abaikan terlebih dahulu keberadaannya. Karena saat ini, yang terpenting adalah, Jona nya yang masih terbaring di atas ranjang.


"Kenapa dengan tangannya, Dokter Dana? Apa yang terjadi?" tanya Jesi sambil melihat tangan Jona yang hancur akibat serpihan beling juga banyak bekas memar yang kulitnya terlihat robek.


"Seperti yang sudah kamu saksikan sendiri tadi, Nona .... "


"Panggil Jesi saja. Seperti sebelumnya. Tidak perlu menambah embel-embel nona lagi."


"Baiklah. Sesuai yang kamu inginkan."


Selanjutnya, Dana langsung menceritakan apa saja yang telah terjadi setelah kepergian Jesi dari rumah ini. Mulai dari awal, hingga akhirnya, semuanya Dana ceritakan tanpa ada yang tertinggal sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2