
Setelah kepergian papa Jona, dokter Dana pun langsung memulai pembicaraan mereka berdua. "Aku teman Jona. Teman baik, tapi terpisah karena study luar negeri yang aku ambil," ucap dokter Dana malah menceritakan tentang dirinya.
Hal itu tentu saja tidak terlalu penting bagi Jesi. Sehingga, dia terlihat acuh dan malah tidak sabar untuk mengetahui siapa Sean dan Marisa yang papa mertuanya katakan barusan itu.
"Lalu, siapa Sean dan Marisa itu?" tanya Jesi tak sabar lagi. Hal itu langsung membuat dokter Dana tersenyum manis.
"Aku belum selesai ngomong kok. Kamu tenang saja. Akan aku ceritakan siapa Sean dan Marisa ini." Dana berucap sambil terus mempertahankan senyum manisnya.
Hal itu sedikit membuat hati Jesi kesal. Senyuman itu seakan sebuah ejekan yang mengatakan kalau dirinya adalah perempuan yang benar-benar tidak sabaran.
Jesi pun memilih membuang wajah dari Dana. Dia lebih memilih memperhatikan Jonathan yang kini sedang terbaring manis dengan mata yang tertutup rapat seperti seorang pangeran yang sedang tidur.
Ketika Jesi memperhatikan Jona yang sedang terlelap. Matanya tidak bisa berbohong, kalau dia sudah punya rasa pada pria sakit mental tersebut. Hal itu terlihat oleh Dana. Dia yang ingin bercerita tentang Marisa dan Sean pun mendadak menunda niatnya dengan cepat.
"Kamu ... benar-benar suka Nathan?"
Pertanyaan itu langsung membuat Jesi memalingkan wajahnya ke arah Dana. Sementara Dana, dia langsung menutup mulutnya dengan cepat.
__ADS_1
"Mm ... maaf, maksudku, Jona. Aku tidak sengaja menyebut nama itu."
Ucapan Dana barusan sangat membingungkan buat Jesi. Dia langsung memasang wajah tak mengerti dengan mata yang menatap lekat ke arah Dana.
"Apa maksud kamu barusan? Aku sungguh tidak memahami semua yang kamu ucapkan, dokter."
Dana menatap lekat wajah Jesi.
"Jangan bilang kamu belum tahu, kalau panggilan Nathan di larang keras di rumah ini."
"Ya Tuhan, itu adalah .... Ah, aku langsung bercerita saja kalo gitu. Dengarkan aku baik-baik yah."
Dana pun langsung bercerita tentang hubungan Jona, Sean, dan Marisa. Ternyata, mereka bertiga adalah teman baik. Yang bersama sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Berjanji tidak saling jatuh cinta satu sama lain setelah mereka menginjak usia remaja. Tapi sayangnya, janji itu mereka ingkari setelah mereka sadar, kalau mereka sama-sama mencintai satu sama lain.
Sean yang hangat, tentu saja mampu memenangkan hati Marisa di bandingkan Jonathan yang dingin namun penuh perhatian juga kasih sayang. Sayang, perhatian itu selalu tertutupi oleh kehangatan Sean. Di mata Marisa, Sean lah yang terbaik. Sedangkan Jonathan, dia akan tetap jadi pria dingin yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepat. Hubungan Sean dan Marisa akhirnya tersebar luar. Jona yang mengetahui akan hal itu merasa sangat tersakiti. Dia merasa dikhianati oleh orang yang paling dia percaya dengan sepenuh hati.
Susah payah dia menahan perasaannya untuk Marisa agar tidak menyakiti Sean. Tapi apa yang dia dapatkan adalah pengkhianatan oleh kedua sahabat baik yang sangat dia sayangi.
Tidak hanya itu saja, Jona juga malah di salahkan oleh Marisa saat dia mempertanyakan prihal hubungan keduanya. Marisa mengatakan kalau Jona yang tidak pernah peka akan semua yang mereka tunjukkan.
Saat itu, Jona yang patah hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, juga karena pengkhianatan oleh kedua sahabat mencoba untuk menerima semua kenyataan dengan lapang dada. Namun, dia malah mendapat tuduhan saat hubungan Sean dan Marisa diambang kehancuran.
Jona disalahkan, dituduh sebagai penyebab rusaknya hubungan mereka berdua. Bahkan, Jona yang dianggap sebagai biang masalah saat keluarga Sean tidak bisa menerima Marisa karena status Marisa yang hanya datang dari keluarga biasa alias miskin.
Saat itulah puncak dari rusaknya hubungan antara tiga sahabat baik yang bersama sejak duduk di bangku sekolah dasar. Karena anggapan itu, Marisa marah besar pada Jonathan. Dia bahkan memutuskan hubungan dengan Jonathan dengan mengatakan tidak ingin melihat Jona lagi.
Sementara itu, Sean juga melakukan hal yang sama. Hubungan persahabatan hancur berantakan. Jona yang merasa tersisihkan, sangat sakit hati dengan semua tuduhan itu. Dengan susah payah dia berusaha menjelaskan, tapi keduanya malah tidak mau mendengarkan.
Kesepian, kesedihan dalam kesendirian membuat Jona putus asa. Perlahan, mentalnya pun mulai terguncang akibat hal tersebut. Jona pun kehilangan akal sehat secara perlahan hingga pada akhirnya dia jatuh pada titik tidak ingin tinggal di dunia ini lagi karena pikirannya sendiri.
Percobaan bunuh diri pun dia lakukan ketika mendengar Sean dan Marisa bertunangan, namun tidak mengabari dirinya. Batin yang hancur membuat Jona gelap mata dan memilih jalan yang seharusnya tidak dia pilih. Untung saja, Tuhan masih sayang dan masih menginginkan dia hidup. Dia di selamatkan oleh pak Dimas dengan cepat.
__ADS_1