Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 84


__ADS_3

"M-- ma ... dia ... dia siapa?" Sean berucap dengan nada gugup. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Jesi sedikitpun.


Diana yang sedang berjalan di belakang Sean pun langsung tersenyum. Dia tepuk pelan pundak Sean dengan tepukan yang lembut.


"Dia adalah Jesika, adikmu Se."


Seketika, Sean langsung menoleh ke arah Diana. Dengan wajah yang semakin terkejut tentunya, dia menatap lekat wajah Diana.


"A-- adik? Jesika? Adikku?"


"Iya, Sean. Dia Jesika, adikmu. Anak mama yang hilang saat bayi waktu itu. Sekarang mama temukan dia dengan selamat, Se. Mama sangat bahagia sekalu," ucap Diana tanpa bisa menahan apa yang dia rasakan.


Sean tidak berkata apa-apa lagi. Dia langsung berjalan mendekat ke arah Jesi yang kini masih terdiam di atas anak tangga terakhir untuk turun ke bawah. Sementara Marisa yang juga sedang terkejut, tetap terpaku di belakang Diana bersama anak bayi mereka.


"Ha-- halo ... Je-- sika. Aku ... Sean. Kakak ... kakak kamu." Untuk pertama kalinya dalam hidup Sean setelah berapa waktu terakhir. Akhirnya, dia bisa gugup juga saat berhadapan dengan seorang perempuan. Karena biasanya, yang namanya Sean ini tidak pernah sedikitpun gugup atau mendapatkan masalah ketika bicara dengan perempuan manapun selama ini.


"Hai, kak Sean. Aku Jesika."


"He ... kamu ... kamu cantik, Jesika."


"Oh, iya. Mama pasti sudah ceritakan semua tentang aku padamu, kan? Jadi ... kamu sudah tahu semua tentang aku?"

__ADS_1


"Iya, aku sudah tahu."


"Itu .... "


Sean yang gugup terus saja bertingkah aneh. Seperti remaja yang baru puber bertemu gadis impiannya dan berusaha untuk terlihat baik agar si gadis impian terkesan. Seperti itulah Sean saat ini. Bertingkah serba salah.


"Se, nanti bicara lagi kamu dengan adikmu. Sekarang, ajak istri juga anakmu ke kamar. Mereka mungkin ingin istirahat setelah perjalan jauh yang kalian tempuh," kata Diana dengan cepat.


Diana berharap, apa yang dia lakukan bisa mencairkan suasana yang sedang tidak baik-baik saja. Karena, dia sudah melihat wajah tidak enak dari Marisa, istri Sean yang mungkin sedang cemburu akan sikap Sean yang terkesan keterlaluan.


"Iya, Mas. Aku ingin ajak anak kita istirahat di kamar. Kasihan, mungkin dia sedang lelah sekarang."


"Oh ... iy-- iya, baiklah."


Marisa kesal. Tapi, tidak bisa berkata apa-apa. Karena seperti inilah Sean selama pernikahan mereka. Hanya saja, kali ini lebih terlihat dengan jelas. Namun, lebih membuat hati Marisa sedikit lapang. Karena status yang Jesi sandang lebih tidak memungkinkan Sean untuk berbuat yang tidak-tidak.


"Mas. Apa .... "


"Apa yang ingin kamu tanyakan padaku, Sa? Langsung bicara jangan berbelit-belit." Belum sempat istrinya bicara, Sean malah memotong lebih dulu perkataan Risa. Eh, tapi dia malah bilang Marisa jangan berbelit-belit saat bicara. Membuat hati Marisa semakin terluka.


"Mas. Aku belum bicara tapi kamu udah bentak aku. Kamu ... apa sih yang ada dalam pikiran kamu saat ini, Mas?"

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, Sa. Jangan sampai mama dan yang lainnya tahu apa yang sedang terjadi dengan kehidupan rumah tangga kita. Atau kamu akan tahu seperti apa aku yang sesungguhnya."


"Kamu ancam aku, Mas?"


"Bukan mengancam. Tapi sungguhan. Jangan lupa dengan siapa aku, Risa. Aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku katakan. Ingat itu!"


Setelah berucap, Sean langsung ingin meninggalkan Marisa dan anaknya di kamar. Tapi dengan cepat Marisa menahan tangan Sean agar tidak segera pergi.


"Tunggu, Mas! Jangan pergi dulu. Aku belum selesai bicara sekarang."


"Mau bicara apa lagi, Risa? Aku ingin ngobrol dengan mama. Jangan banyak drama kamu ya."


"Mau ngobrol dengan mama, atau dengan adik angkat yang baru ditemui itu, Mas?"


"Bukan urusan kamu. Jika aku ingin ngobrol dengan siapapun, itu urusan aku. Kamu tidak bisa melarang aku, Risa. Karena kamu tahu, aku tidak suka di larang. Paham!?"


Risa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa melihat dengan sedih kepergian Sean meninggalkan kamar tersebut. Meninggalkan dirinya, juga anak bayi mereka yang kini baru berusia setengah tahun.


Hati ingin menyesal karena telah salah dalam memilih suami. Tapi apakan daya, nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau, ya dinikmati saja meski rasanya tidak memuaskan.


Sejujurnya, Marisa ingin sekali bilang kalau dia menyesal telah memilih Sean sebagai suami. Tapi sekarang, mau dikatakan juga tidak ada gunanya. Dia sudah memiliki anak dengan Sean. Mau tidak mau, dia harus bertahan dan sabar dengan sikap Sean yang terkesan sangat keterlaluan.

__ADS_1


Sikap ramah yang dulunya dia anggap sangat luar biasa. Bisa memberikan kehangatan yang tidak bisa dia rasakan dari pria lain. Tapi nyatanya, sikap itu malah menyakitkan hati buat Marisa sekarang. Karena ternyata, Sean tidak hanya ramah pada orang tertentu seperti dirinya saja.Melainkan, pada setiap perempuan yang Sean sukai. Terlebih lagi jika perempuan itu cantik. Dia akan lebih agresif lagi ramahnya.


__ADS_2