Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 93


__ADS_3

Selanjutnya, Dana langsung menceritakan apa saja yang telah terjadi setelah kepergian Jesi dari rumah ini. Mulai dari awal, hingga akhirnya, semuanya Dana ceritakan tanpa ada yang tertinggal sedikitpun.


"Kita masih beruntung sekarang, Je. Jona masih ingat dengan kamu." Dana berucap dengan suara pelan.


"Maksud kamu?" Jesi langsung memasang wajah bingung.


"Yah, karena dokter Diana pernah bilang, kalau Jona tidak akan bertahan lama. Jika dia sudah tidak ingat dengan kamu, maka kesempatan untuk pulih tidak akan pernah ada lagi buat Jona. Dia akan menderita sakit mental buat selama-lamanya."


Jesi terdiam. Buliran bening perlahan jatuh. Ia sangat kasihan dengan suaminya ini. Ternyata, sangat-sangat menderita setelah kepergiannya.


"Maafkan aku, Jo. Aku tidak tahu kalau kamu sebegitu tersiksanya saat aku tidak ada di sisimu. Aku minta maaf," kata Jesi sambil mencium tangan Jona dengan lembut.


Lalu, Dana pun meminta Jesi bercerita apa yang sudah terjadi selama ini. Dana ingin tahu, apa yang sudah Jesi alami sampai dia bisa menghilang sebegitu lama.


Tanpa pikir panjang lagi, Jesi langsung menceritakan semuanya. Saat itu, papa Jona yang baru tiba juga ikut mendengarkan apa yang Jesi katakan.

__ADS_1


Papa Jona terdiam di depan pintu. Dia awalnya ingin mengatakan kalau dia kesal akan sikap Jesi yang tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa berniat melihat anaknya. Tapi, setelah mengetahui kalau Jesi mengalami amnesia ringan, rasa kesal itu mendadak menghilang.


Dari pertemuan itu, Indra dan Wijaya juga akhirnya saling mengucapkan kata maaf. Ternyata, Indra dan Wijaya adalah teman dulunya. Yah, meskipun bukan teman baik, tapi mereka saling kenal satu sama lain. Tapi, setelah kejadian Sean yang menikahi Marisa, hubungan keduanya pun jadi merenggang.


Mereka sama-sama tidak menyadari Kesalahan masing-masing. Ditambah lagi, keluarga Wijaya yang langsung menutup diri dari publik, maka semakin tidak tahulah apa yang terjadi dengan keluarga masing-masing.


Tapi sekarang, mereka dengan berbesar hati ingin masing meminta maaf. Dan, mereka ingin membangun hubungan baik kedua keluarga. Apalagi sekarang ternyata mereka adalah bisanan. Lebih harus lagi menjalin hubungan baik antar kedua keluarga.


.....


Jona juga mendengarkan apa yang Jesi katakan. Saat makan, dia akan makan. Saat istirahat, dia akan istirahat. Begitulah Jona yang kini sudah mendingan dari pada sebelumnya.


Kalau dilihat-lihat, Jona sekarang tak lebih seperti anak kecil yang baru berusia beberapa tahun. Hanya mendengarkan apa yang orang tuanya katakan. Tidak bisa melakukan apapun kecuali tidak dibantu. Intinya, Jesi adalah segalanya buat Jona. Semua harus Jesi lakukan sendiri. Karena Jona tidak ingin siapapun selain Jesi nya saja.


Sementara itu, di sisi lain, Sean dan Marisa dibuat kaget bukan kepalang dengan kabar yang mereka dengar. Sungguh, mereka sangat tidak menyangka kalau Jesika dan Jonathan sudah menikah.

__ADS_1


"Mama serius, Ma? Jesi sudah menikah? Dengan Nathan?" Sean dengan wajah syok memberikan pertanyaan yang terdengar sangat tidak rela itu pada Diana.


"Iya. Ternyata, Jesi dan Jonathan sudah menikah. Dan, rupa-rupanya, dia sakit mental saat ini. Hanya Jesi saja yang bisa merawatnya."


"Ya Tuhan ... ya Tuhan. Mama kok bisa membiarkan Jesi tinggal di sana. Mana jadi perawat buat orang sakit mental lagi. Apa mama rela anak satu-satunya mama jadi pelayan buat orang yang sedang sakit mental, Ma?" Sean bertanya dengan nada kesal.


Sementara itu, Marisa hanya diam saja. Dan, Diana malah langsung menatap Sean dengan tatapan yang Sean sendiri tidak memahami makna dari tatapan yang Diana berikan.


"Ya ... rela gak rela, Se. Terpaksa, mama relakan saja. Karena ini adalah pilihan Jesi, mama tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti apa yang sudah Jesi putuskan."


"Ya ampun. Mama kok gitu sih, Ma. Kasihan Jesi nya jika mama biarkan begitu saja. Jesi bukan lagi orang biasa sekarang. Dia itu adalah anak keluarga Kusuma Diningrat, Ma. Jadi .... "


"Sean, mama paham apa yang kamu katakan. Mama tau kamu peduli akan keadaan adik kamu. Tapi Se, ingatlah satu hal. Kebahagiaan Jesi, adalah hal utama buat mama dan papa. Jika Jesi bahagia dengan apa yang dia lakukan saat ini, maka mama sama papa tidak akan pernah melarangnya. Tapi sebaliknya, jika larangan mama bisa menimbulkan rasa sedih, sakit hati, dan tidak nyaman buat Jesi, maka mama tidak akan melakukan hal itu."


Sean tidak punya jawaban lagi untuk menyanggah. Dia tahu, rasa sayang yang kedua orang tua angkatnya punya untuk anak mereka memang sangat besar. Jadi, ucapannya tidak akan ada pengaruh buat orang tua angkatnya ini.

__ADS_1


__ADS_2