Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 90


__ADS_3

Sontak saja, Indra dan Diana langsung dibuat panik akan kata-kata yang Jesi ucapkan. Mereka berdua begitu terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Namun, Jesi yang tidak ingin kedua orang tuanya salah paham lagi, maka dia berinisiatif menjelaskan semuanya. Semua hal yang telah dia lalui di kehidupannya dulu.


Meski tidak bisa bercerita secara detail, tapi Jesi terap berusaha membuat kedua orang tuanya paham apa yang sudah dia lalui sebelum mereka bertemu. Beruntung, Diana dan Indra adalah orang tua yang cukup peka akan perasaan anak mereka ini.


Entah itu karena memang peka akan perasaan Jesi, atau mungkin karena mereka terlalu sayang dengan anak mereka ini. Yang jelas, mereka terlihat pasrah saat Jesi bilang ingin menemui Jona di kediaman Wijaya.


"Jika itu keputusan kamu, Nak. Maka mama dan papa tidak akan menghalangi kamu untuk bertemu dengan Jona."


"Ya, Sayang. Sejujurnya, papa sangat menyayangkan kabar yang barusan papa dengar ini. Papa sangat kaget, saat tahu kamu sudah menikah. Karena yang sudah menikah dengan kamu adalah anak Wijaya yang tidak waras itu. Tapi ... yah, mau bagaimana lagi, kamu sudah menjadi bagian dari mereka. Karena semuanya tidak akan bisa diubah meski papa bisa mengubahnya. Karena bagaimanapun, semua keputusan ada di tangan kamu kan, Sayang." Indra bicara panjang lebar mengungkapkan isi hatinya.


Sejujurnya, Indra sangat tidak rela jika anak kesayangannya ini menikah dengan orang sakit mental seperti Jonathan. Karena Indra pikir, berlian yang dia punya tidaklah pantas di sandingkan dengan batu kerikil yang tiada artinya ini.


Tapi, bagaimanapun, kebahagiaan sang anak adalah hal yang paling utama buat Indra. Jika anaknya bahagia akan hal tersebut, meski orang itu sakit mental atau bahkan gila sekalipun, dia akan terap merestui. Karena keputusan ada di tangan sang anak.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, mata Jesi berkaca-kaca. Ternyata, orang tua kandung adalah orang tua terbaik yang dia miliki di dunia ini. Karena tidak ada yang lebih mengerti perasaannya selain orang tua kandungnya ini. Mereka tidak suka, tapi mereka tidak melarang.


Jesi tidak bisa menahan perasaan harunya. Dia pun langsung menghambur ke dalam pelukan sang mama.


"Mama." Jesi memeluk Diana sambil menangis bahagia.


Diana langsung membalas pelukan dari anaknya. "Jangan menangis lagi, Sayang. Kebahagiaan kamu adalah prioritas kami sekarang, Nak. Jika kamu bahagia, maka kami juga akan bahagia. Ayo! Lakukan apa yang menurut kamu benar, Sayang." Diana berucap sambil membelai rambut anaknya.


Sementara Indra, dia juga ikut membelai rambut Jesi. "Mama kamu benar, Sayang. Kebahagiaan kamu adalah prioritas kami. Jadi, kami akan dukung semua yang ingin kamu lakukan. Lakukanlah apa yang menurut kamu baik. Papa dan mama akan selalu ada di belakang untuk mendukung kamu, Nak."


Semakin bahagia lah hati Jesi sekarang. Diapun melepas pelukan sambil tersenyum manis. "Terima kasi, Mama, Papa. Kalian adalah orang tua terbaik yang aku punya. Meski aku baru bisa bertemu dengan kalian, tapi aku sangat bersyukur kita telah di pertemukan."


"Ya sudah, sekarang pergilah! Mama sama papa akan menemani kamu. Kamu gak keberatan, bukan?"


Jesi terdiam. Tapi, selanjutnya, dia langsung memberikan anggukan pelan.

__ADS_1


"Mama hanya ingin memastikan anak mama baik-baik saja. Bukan mama tidak percaya padamu, tapi mama juga ingin melihat dengan mata kepala mama sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya." Diana menjelaskan dengan hati-hati.


"Jesi paham kok, Ma. Jadi, ayo pergi ke kediaman Wijaya sekarang juga. Aku sangat ingin memastikan kalau Jona baik-baik saja, Ma. Karena aku ... sudah pernah berjanji kalau aku tidak akan meninggalkannya."


Mereka pun langsung meninggalkan rumah sakit secepatnya. Sementara itu, Dana sedang sangat panik saat ini. Dia sudah menghubungi papa Jona berulang kali, tapi papa Jona sama sekali tidak menjawab panggilan darinya.


Dana panik karena Jona sudah pun sadar dari pingsan. Obat penenang yang dia berikan sudah habis dosisnya. Kini, Jona terbangun, dan langsung ngamuk tak karuan. Semua barang dia banting dan hancurkan. Jona benar-benar kehilangan kesadaran saat ini.


Dana yang biasanya berani, kini juga sudah tidak sanggup untuk mendekat lagi. Sangking brutalnya Jona, Dana yang berani jadi tidak punya nyali. Terpaksa, Dana biarkan saja Jona melakukan apapun yang dia inginkan.


Kamar tidur Jona saat ini sudah tidak mirip kamar lagi. Sangking berantakannya, kamar itu terlihat sudah seperti gudang. Tidak ada barang yang luput dari amukan Jona saat ini.


"Ya Tuhan, jika begini terus, aku juga akan jadi sasaran amukan Jona."


"Om Wijaya, angkat dong panggilannya," ucap Dana merintih pelan.

__ADS_1


______________________________________________


"Catatan: Maaf yah, teman-teman. Up-nya telat hari ini. Soalnya, daerah aku jaringan gak bagus. Mohon pengertiannya yah, hehe.


__ADS_2