Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 97


__ADS_3

Jesi tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa tertegun sambil mencoba mencerna apa yang Jona katakan barusan. Sungguh, Jona yang baik-baik saja setelah bertemu teman masa lalunya ini sangat mengejutkan buat Jesi.


Mengejutkan, juga menggembirakan. Bagaimana tidak? Orang yang dulunya telah menjadi penyebab kerusakan buat hidup sang suami, kini tidak ada pengaruhnya lagi. Jona tidak merasakan rasa sakit seperti dulu saat bertemu kedua makhluk yang Jesi cap sebagai manusia tidak punya muka dan hati ini.


Karena selain tidak merasa malu, mereka juga sedikitpun tidak merasakan rasa bersalah pada Jona. Padahal, mereka adalah biang dari hancurnya hidup Jona selama ini.


....


Hari berlalu dengan cepat. Hubungan antara Jona dan Jesi terlihat semakin erat. Sakit mental yang Jona derita juga sepertinya sudah pulih sepenuhnya. Kediaman Wijaya kini sudah kembali tentram karena tuan muda mereka yang terlihat bahagia.


Jona yang mulai bisa menampakkan diri keluar ruangan adalah awal yang baru buat kediaman Wijaya. Karena dengan keluarnya tuan muda dari kamar untuk berbaur dengan dunia luar, maka itu adalah tanda, kalau tuan muda sudah baik-baik saja.


"Aku sangat bahagia karena tuan muda kita sudah pulih kembali, pak Dimas. Ternyata, obat dari luka itu adalah cinta sejati yah," ucap bi Imah saat melihat Jona dan Jesi sedang ngobrol ria di taman samping rumah.


"Aku juga sama, Bik. Kebahagiaan tuan muda adalah ketenangan buat kita. Kediaman Wijaya ini terasa tenang jika tuan muda tertawa. Mm ... apa yang bibi katakan itu benar sepenuhnya. Obat luka hanya cinta."

__ADS_1


Begitulah obrolan pak Dimas dan bi Imah. Oh ya, keduanya terlihat cukup serasi saat bersama. Setelah kejadian Sesilia yang waktu itu tertangkap, bi Imah dan pak Dimas pun terlihat semakin dekat. Keduanya mungkin cocok jika bersama. Karena pak Dimas berstatus duda tanpa keluarga. Sedangkan bi Imah adalah janda yang tidak punya anak, alias sama-sama sebatang kara.


Keduanya masih pun melihat kemesraan Jona dan Jesi sambil senyum-senyum sendiri. Dari kejauhan, mereka masih bisa mendengar apa yang Jesi dan Jona bicarakan.


"Sayang, aku ingin mengadakan pernikahan mewah untuk kamu. Bagaimana? Apa kamu setuju?" tanya Jona sambil menatap Jesi dengan penuh kasih.


Ucapan itu membuat Jesi tersenyum manis.


"Pernikahan mewah? Apakah itu perlu, Jo?"


"Tentu saja perlu. Bahkan, sangat perlu, Sayang."


Entah kenapa, setiap berucap, dia selalu menjaga kata-katanya agar kesayangannya ini tidak merasa tersinggung. Kehilangan Jesi sebelumnya, selalu membuat Jona takut untuk hal yang sama buat yang kedua kalinya. Bahkan, tak jarang, Jona selalu menangis karena mimpi buruk saat tidur malam.


Jesi tahu akan hal itu. Karena dia yang setiap saat bersama Jona, tentu saja dia tahu apa yang Jona rasakan juga Jona alami setiap waktu kebersamaan mereka.

__ADS_1


Jesi lalu menggenggam erat tangan Jona. Dengan senyum manis penuh kehangatan, dia tatap wajah Jona dengan tatapan lembut penuh kasih.


"Katakan! Kamu mau aku panggilkan dengan panggilan apa? Mm ... tapi sebelum itu, bisakah aku minta satu hal padamu?"


"Katakan saja! Jangankan satu hal, satu nyawaku pun akan aku berikan buat kamu." Jona berucap mantap membuat Jesi langsung menatap lekat ke arahnya.


"Tidak. Aku tidak ingin nyawa kamu. Karena nyawamu adalah nyawaku, bagaimana aku bisa meminta akan hal itu. Yang aku inginkan adalah, tolong jangan terlalu berlebihan mencintai aku, Jo. Cintai aku seadanya saja. Karena kamu masih punya sang pencipta yang harus kamu cintai dengan sepenuh hati."


"Jika kamu mencintai aku kelewatan batas, aku jadi merasa takut akan cintamu itu. Aku juga merasa tidak nyaman. Aku jadi merasa tidak layak untuk kamu cintai, Jonathan. Karena cintamu yang keterlaluan itu membuat kamu memperlakukan aku sangat hati-hati. Aku sungguh merasa tidak nyaman dengan hal itu."


Jona paham akan apa yang Jesi katakan. Karena sebenarnya, dia juga merasakan kalau dia agak keterlaluan.


"Aku ingin mencintai kamu setulusnya, Je. Tapi sayangnya, rasa takut akan kehilangan kamu membuat aku seperti ini. Aku jadi berlebihan dalam mencintaimu. Bahkan, sangking kelewatannya, aku jadi sangat berhati-hati."


"Aku mohon, ajari aku mencintai kamu dengan setulus hati agar aku tidak membuat kamu merasa tidak nyaman." Jona berucap lagi dengan senyum manis di bibirnya.

__ADS_1


Ucapan itu tidak Jesi jawab dengan kata-kata. Dia hanya memberikan anggukan pelan sambil membalas senyum Jona.


Beberapa saat saling tatap dengan bibir yang sama-sama mengukir senyum. Jona pun akhirnya mengalihkan pandangan dari Jesi. Selanjutnya, dia langsung berjongkok di hadapan Jesi dengan satu tangan yang diangkat ke atas.


__ADS_2