Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 73


__ADS_3

"Apa, pak Dimas?" tanya Sesilia tidak sabar lagi.


"Tuan muda ngamuk, Nyonya."


Lalu, pak Dimas pun menceritakan apa yang telah terjadi dua hari yang lalu. Sebenarnya, saran dari Sesilia tidak ingin papa Jona lakukan. Tapi, karena ingin membuktikan kalau Jona itu tidak bisa menerima sembarang perempuan, maka dari itu dia meluluskan permintaan dari istrinya.


Dia datangkan gadis dari keluarga yang Sesilia katakan lewat pak Dimas. Sayangnya, setelah bertemu dengan gadis itu, Jonathan malah jadi ngamuk besar. Dia bahkan melukai kepala gadis itu dengan cara memukulnya hingga kepala si perempuan benjol dan memar.


Tidak hanya itu, Jona juga mencekik leher si gadis dengan keras. Sampai-sampai, leher si gadis juga ikut meninggalkan bekas. Beruntung pak Dimas dan dokter Dana ada di sana. Jika tidak, mungkin gadis itu sudah berada di rumah sakit saat ini. Dengan bagian tubuh yang mungkin tidak bisa digunakan lagi. Alias, patah akibat ulah brutal dari Jona.


Sesilia langsung menutup mulutnya dengan satu tangan setelah mendengar cerita dari pak Dimas barusan. Sungguh, dia sangat-sangat terkejut dengan cerita itu.


"Ap-- apa? Apa ... reaksi Jona seberlebihan itu, pak Dimas?" tanya Sesilia masih dengan tatapan tak percaya.


"Iya, Nyonya. Jika nyonya tidak percaya, lihatlah ini." Pak Dimas berucap sambil menyodorkan ponsel yang dia keluarkan dari saku celana.

__ADS_1


Vidio yang membuat mata Sesilia membelalak karena kaget. Dalam salinan rekaman cctv yang ada dalam ponsel pak Dimas itu, tergambar dengan jelas bagaimana tingkah Jona yang sedang menganiaya si gadis.


Sesilia yang melihat hal tersebut tentu saja merasa sangat ngeri. Dia tak habis pikir, kenapa anaknya bisa bersikap lebih sadis dan sangat brutal dari sebelumnya.


"Ke-- kenapa bisa jadi seperti ini, Pak Dimas? Kenapa Jona bisa jadi semakin parah begini?" tanya Sesilia sambil menahan air matanya.


"Menurut dokter Diana, teman dokter Dana yang ahli dalam masalah ini. Dia bilang, tuan muda sekarang lebih parah karena tekanan perasaan yang lebih besar dari sebelumnya, Nyonya. Peluang untuk sembuh bagi tuan muda juga sangat kecil. Sekalipun kita mendatangkan nona Jesi kembali, mungkin juga akan butuh waktu untuk tuan muda kembali sembuh seperti semua."


"Tapi ... sekarang masih ada sedikit waktu buat tuan muda menekan perasaannya. Andai nona Jesi bisa ditemukan dengan cepat, maka kemungkinan kecil itu akan terlaksana. Meskipun kecil, tapi masih ada. Dari pada semakin lama nanti, maka tuan muda semakin tidak bisa menguasai diri. Efeknya, dia tidak akan mengingat siapapun. Dan, kemungkinan kecil yang kita punya pun ikut lenyap semuanya."


"Nyonya! Apa yang terjadi dengan anda sekarang? Kenapa anda .... "


"Aku gak papa, Pak Dimas. Aku gak papa," ucap Sesilia sambil mengangkat satu tangannya. Sedangkan tangan yang lain sedang memegang dada dengan cengkraman yang erat.


"Pak Dimas. Apa perempuan lain tidak bisa menggantikan Jesika? Bagaimana jika Jesi tidak bisa kita temukan dalam waktu dekat ini, pak? Apa anakku akan mengindap gangguan mental sampai akhir hidupnya?" tanya Sesilia sambil menahan air mata.

__ADS_1


"Seperti yang telah nyonya lihat tadi, Nyonya. Tuan muda tidak bisa menerima perempuan lain selain nona Jesika. Karena saat ini, yang dia ingat hanya nona Jesi."


"Selain nona Jesi, dia akan melakukan hal yang sama. Dia akan memukul perempuan itu sambil mengatakan, *kamu bukan Jesi ku. Kamu bukan Jesi ku.* Itu yang tuan muda katakan terus-terusan, Nyonya."


Sesilia kini tertunduk dengan wajah penuh sesal. Air mata yang dia tahan, kini sudah jatuh perlahan membasahi kedua pipinya. Sesilia tergugu dengan Isak kan yang dalam.


"Ini salahku. Aku yang telah menyebabkan anakku kembali sakit mental. Aku tidak layak jadi mama untuk Jona. Aku sangat kejam. Aku telah merampas kebahagiaan yang anakku punya. Andai saja aku tidak egois seperti ini, anakku pasti sudah bahagia."


"Pak Dimas, katakan pada suamiku. Penjarakan aku sekarang juga. Karena aku tidak pantas di kurung di kamar ini. Aku akan menebus kesalahan yang telah aku perbuat. Di depan polisi, akan aku akui semua kejahatan yang aku perbuat."


Sesilia berucap dengan nada yang sangat sedih. Entah itu karena dia ingin mengakui kesalahannya. Atau, karena penyesalan yang kini ada dalam hati. Yang jelas, dia terlihat sangat-sangat tersiksa dengan luka hati yang sedang dia rasakan.


"Tapi nyonya ... polisi tidak akan menahan nyonya tanpa bukti yang jelas. Aku .... "


"Apa pengakuanku tidak layak dijadikan sebagai bukti? Katakan sekarang juga, pak Dimas! Jangan buat aku berubah pikiran. Aku masih waras dengan ingin mengakui semua ini. Sungguh, apa yang sedang terjadi sangat menyiksa aku sekarang. Jangan buat aku kehilangan kewarasan sehingga aku memilih bunuh diri di kamar ini."

__ADS_1


__ADS_2