Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 51


__ADS_3

Tapi sepertinya, harapan itu sangat mengecewakan buat Jesi. Mobil itu tidak berhenti, melainkan, terus berjalan dengan kecepatan pelan lewat di depan gang yang berada beberapa ratus puluh meter dari tempat Jesi berada.


"Kak Jaka! Tolong aku, kak!" Jesi kembali berteriak.


Sepertinya, dia tidak putus asa. Dia tetap ingin berusaha dengan sangat keras agar bisa selamat. Sementara itu, dari arah belakang. Jesi melihat cahaya lampu. Hatinya terasa semakin takut dengan keadaan itu.


Bagaimana tidak? Lampu mobil yang ada di belakang itu adalah milik para preman yang ingin menangkap dirinya. Jika mereka mengejar dengan mobil, maka sudah bisa di pastikan, Jesi tidak punya kesempatan untuk lolos.


Tapi ....


"Jesi!" Sebuah suara yang seperti embun menyentuh padang pasir yang gersang itu membuat semangat Jesi kembali muncul. Harapan yang sebelumnya pupus, kini tiba-tiba muncul kembali memenuhi hatinya.


"Kak Jaka ...! Tolong! Ini aku, kak!"


Yah, mobil yang Jesi lihat sebelumnya adalah mobil Jaka. Sementara itu, Jaka sudah melintasi gang itu sebelumnya. Tapi, karena dia tiba-tiba mendengar suara yang sangat dia kenali, dia pun kembali mundur dengan segera.


Untung saja Jaka mengemudi mobil dengan kecepatan cukup pelan. Dan, dia juga sedang fokus menikmati perjalanan. Jika tidak, dia tidak akan bisa mendengarkan teriakan Jesi barusan.


"Jesi! Kena .... "


"Jangan turun, kak! Buka saja pintu mobilnya. Aku dikejar preman," ucap Jesi cepat ketika melihat Jaka.


Seakan paham dengan apa yang sedang Jesi rasakan, Jaka langsung mendengarkan apa yang Jesi ucap. Dia tidak turun, melainkan, bersiap-siap untuk melaju setelah membuka pintu mobil agar Jesi bisa segera masuk.

__ADS_1


Jesi langsung menghambur dengan sekuat tenaga. Karena hanya beberapa jengkal saja lagi, tangan preman itu bisa menjangkaunya. Sedangkan di belakang preman itu, mobil sedang melaju dengan kencang pula.


"Jalan, kak! Jalan!" Jesi berteriak tak sabar lagi saat dia sudah menghambur ke dalam. Belum sempat menutup pintu mobil, atau pun membenarkan posisi duduk, dia langsung meminta Jaka menjalankan mobil dengan cepat.


Jaka lagi-lagi mengikuti apa yang Jesi katakan. Dia yang sebelumnya memang sudah bersiap-siap, kini langsung saja melajukan mobil tersebut dengan cepat.


"Apa yang terjadi, Jes? Kenapa kamu bisa dikejar para preman itu?" tanya Jaka di sela-sela kefokusan nya dalam mengemudi mobil.


"Aku juga gak tahu, kak. Aku gak tahu apa sebabnya mereka mengejar aku. Tapi yang jelas, bos mereka menginginkan aku." Jesi berucap dengan nada yang masih tersengal-sengal.


"Bos mereka? Siapa sih bos mereka? Apa .... "


Belum sempat Jaka menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja, mobil yang dia bawa seperti dihantam sesuatu dari arah belakang.


"Ya Tuhan, kak. Mereka mengejar kita. Dan jarak antara mereka dengan kita itu sangat dekat," ucap Jesi kembali panik.


"Jangan panik, Jes. Yakinlah kalau aku, kakakmu ini mampu menyelamatkan kamu dari para preman itu. Tidak akan aku biarkan sedikitpun mereka menyentuh kamu. Akan aku lindungi kamu sekuat tenaga ku."


Brak! Lagi, mobil mereka kembali ditabrak dari belakang. Jesi tidak mampu berkata-kata selain menggenggam erat tangannya dengan wajah pucat akibat takut.


Jaka yang melihat sekilas wajah Jesi, tentu saja merasa semakin cemas. Semangatnya untuk melindungi sang adik pun semakin membara saja sekarang.


"Tenang, Jes. Ada aku, kakakmu di sini."

__ADS_1


"Oh ya, kamu sebenarnya mau ke mana? Di mana suamimu sekarang? Kenapa dia tidak ada di sampingmu saat ini."


Jesi menatap wajah Jaka dari kaca.


"Jona ... sedang menungguku di restoran saat ini, kak. Dia ingin ajak aku dinner malam ini. Aku sebenarnya ingin pergi, tapi malah terjebak dengan keadaan yang sangat rumit seperti sekarang."


"Ap-- apa? Kalian ingin makan malam? Lalu ... di mana sopir mu sekarang? Kenapa kamu tidak dijemput oleh suamimu saja. Kenapa .... "


"Kak, bukan Jona yang tidak menjemput aku. Dia sudah menyiapkan semuanya. Sopirku ... dia ... berada di dalam gang tadi. Aku tidak tahu dia selamat atau tidak." Kini Jesi berucap dengan nada sangat sedih.


Namun, obrolan itu membuat Jaka sedikit lengah. Satu mobil yang mengejar mereka mampu berada di samping mereka saat ini. Mobil itupun membunyikan klakson untuk meminta Jona menghentikan mobilnya.


"Ya Tuhan, kak. Bagaimana ini? Mereka .... "


"Tenang, Jes. Kakakmu ini sedikitnya adalah anak balap. Kamu tenang saja," ucap Jaka tetap ingin menenangkan hati Jesi di saat hatinya pun merasa sangat takut.


Tit ... tit ... tit ....


Klakson terus dibunyikan. Bahkan, preman yang ada di dalam mobil itupun juga membuka kaca mobil untuk meminta Jaka berhenti.


"Berhenti kalian! Jangan buat kami semakin murka!" ucap salah satu preman dengan nada tinggi.


Ucapan itu membuat Jaka menoleh. Sekilas, dia bisa melihat wajah preman yang sedang bicara dengan sangat jelas. Dan, tiba-tiba dia ingat akan preman tersebut.

__ADS_1


"Mereka .... "


__ADS_2