Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 41


__ADS_3

Jesi pun langsung menyeka air mata yang tumpah. Panggilan Jona yang dia tahan, membuat Jona sibuk memanggil namanya dari seberang sana.


"Jes!"


"Je kamu gak papa, kan? Kamu masih bisa dengar aku lagi gak?"


"Jesi."


"Je, halo .... "


Jona pun memutuskan sambungan panggilan tersebut. Lalu, dia memanggil ulang nomor Jesi lewat vidio. Dia sangat cemas, dan ingin melihat bagaimana keadaan wanitanya sekarang.


Panggilan tersambung, tapi Jesi langsung menolaknya. Tentu saja karena Jesi tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang baru saja menangis pada Jona.


Karena panggilan yang Jesi tolak. Hal tersebut semakin membuat hati Jona merasa cemas. Dia pun meminta sopirnya untuk putar balik secepatnya.


Sementara itu, Jesi yang sekarang berada di samping ranjang sedang menenangkan diri.


Tiba-tiba teringat akan kenekatan Jona yang mungkin akan bersikap kelewatan jika merasa cemas, Jesi segera mengambil ponsel untuk menghubungi Jona secepatnya.


Benar saja apa yang Jesi pikirkan. Saat baru dihubungi, Jona langsung menjawab dengan cepat. Suaranya pun terdengar sangat cemas sampai-sampai tidak bisa membuat Jesi menjelaskan.

__ADS_1


"Jo. Jo aku baik-baik saja sekarang. Aku gak papa kok," ucap Jesi dengan susah payah meyakinkan Jona.


Tentu saja Jona tidak percaya dengan mudah.


"Aku sudah berada di persimpangan. Aku akan percaya apa yang kamu katakan saat aku sudah melihatkan, Je. Jadi .... "


"Jo, kamu gak percaya aku? Kamu gak percaya dengan apa yang aku katakan? Bagaimana bisa kamu seperti ini padaku, Jonathan? Jika kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan, bagaimana bisa aku tetap berada di sekitar kamu," ucap Jesi dengan nada sedih.


Seketika, itu membuat Jona tidak mampu bicara lagi. Dadanya merasa sesak, karena tiba-tiba saja, hawa ketakutan muncul dalam benak dan segera menguasai hati.


"Jo .... "


"Jangan katakan lagi. Aku tidak ingin kehilangan kamu, Jesika. Jangan pernah pergi dariku. Sekalipun jangan!" Jona berucap cepat dengan nada takut.


'Ya Tuhan ... bagaimana jika Jona bisa sakit lagi setelah kepergian ku? Aku tidak ingin ini terjadi padanya. Tolong aku, Tuhan.' Jesi berkata dalam hati sambil memegang dadanya yang terasa cukup perih.


Di hati keduanya sudah tertanam pohon cinta yang kini bahkan sudah tumbuh dengan rimbun. Jadi, bagaimana mungkin mereka ingin berjauhan. Apalagi saling menyakitkan satu sama lain. Lebih tidak mungkin lagi.


'Tolong aku, Tuhan. Tolong aku agar bisa lolos dari perjanjian yang aku dan mama Jona buat. Aku tidak ingin ada yang sakit di antara kami semua.' Lagi-lagi, Jesi berkata dalam hati sambil mengigit bibir agar air mata tidak tumpah.


Sementara itu, karena diamnya Jesi semakin membuat Jona merasa ketakutan. Jona pun langsung angkat bicara kembali.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau kamu berniat untuk pergi dari aku, Jesi. Jika itu kamu lakukan, maka aku tidak akan sanggup hidup di atas dunia ini lagi."


"Satu kali aku ditinggalkan, aku cuma akan kehilangan kewarasan ku. Tapi jika untuk yang kedua kali aku ditinggalkan cinta, maka sudah bisa aku pastikan. Nyawaku pula yang akan hilang."


"Jona!" Reflek, Jesi langsung berteriak keras mendengar kata-kata yang Jona ucapkan barusan. Sungguh, dia kaget bukan kepalang dengan apa yang barusan kupingnya dengar.


Hal yang membuat dia semakin merasa takut untuk meninggalkan Jona walau perjanjian itu sudah dia sepakati.


"Jangan pernah katakan kata-kata itu lagi nantinya, Jonathan Wijaya. Kamu tidak boleh melakukan hal itu hanya karena cinta." Jesi kembali berucap dengan nada tegas. Setelah berhasil menguasai diri, dia pun mencoba membuat Jona paham apa yang dia rasakan.


"Aku tidak ingin melakukannya. Tapi aku sungguh tidak akan sanggup untuk tetap hidup dalam kesengsaraan, Jesika. Aku harap kamu paham apa yang aku maksudkan. Karena setiap orang itu berbeda-beda, bukan?"


"Jika pergi adalah hal terbaik untuk melepaskan kesengsaraan. Kenapa tidak aku lakukan?" ucap Jonathan lagi dengan tenang seperti tanpa beban.


"Jangan gila, Jona!"


"Aku sudah pernah gila, Jesika. Sakit mental yang aku alami itu kamulah obatnya. Jadi, jika aku kehilangan obat, lalu ... bagaimana aku harus bertahan hidup?"


Saat ucapan itu dia dengar, Jesika langsung kehilangan kendali. Air matanya mengucur dengan deras melintasi pipi. Isak tangisannya pun terlepas dengan sendirinya meski dia sudah berusaha keras untuk menahan.


"Jesi jangan menangis." Jona berucap dengan nada panik.

__ADS_1


Tapi, tentu saja Jesika tidak mampu menghentikan tangisannya. Dia merasa begitu rapuh saat ini. Sampai-sampai, tidak ada cara lain selain menangis untuk membangun hatinya yang kini sedang rapuh.


__ADS_2