
Meski sudah mendengarkan penjelasan dari Jesi, Diana masih tetap merasa bersalah. Dia pun langsung duduk di samping Jesi dengan cepat.
"Maafkan, mama ya, Nak. Mama harus ngobrol sama Sean sedikit lama. Mm ... dua hari lagi, dia mungkin akan kembali ke rumah ini. Jadi ... kamu dan Sean bisa bertemu secepatnya."
Diana bicara sambil tersenyum, tanpa dia sadari, kalau dia sudah membuat Jesi semakin bingung sekarang. Karena dia hanya menyebut nama Sean, tapi tidak menceritakan siapa Sean sebenarnya.
"Ma ... siapa Sean ini? Kenapa dia mau kembali ke sini? Apa dia ... bagian dari keluarga ini?"
Ketika mendengarkan pertanyaan itu, Diana baru ingat kalau dia tidak menjelaskan siapa Sean pada Jesi sebelumnya. Dia pun langsung menepuk jidatnya dengan pelan.
"Ya ampun ... mama lupa cerita sama kamu soal Sean, Sayang. Maafkan mama ya, Je. Mama udah bikin kamu kebingungan dengan apa yang mama katakan."
"Baiklah, sekarang mama akan ceritakan siapa Sean sebenarnya." Diana kembali berucap. Kali ini, dia memegang tangan Jesi dengan lembut sambil tersenyum.
"Sean itu .... "
Cerita tentang siapa Sean pun Diana mulai.
Ternyata, Sean adalah anak angkat mereka. Anak yang Indra ambil dari panti asuhan karena kedua orang tuanya telah tiada.
__ADS_1
Menurut cerita dari pemilik panti, Sean dititipkan di sana oleh neneknya yang sudah tua. Karena tidak punya biaya, Sean terpaksa neneknya tinggalkan di panti tersebut agar bisa dijaga dengan baik oleh si pemilik panti.
Sementara itu, Indra datang ke panti untuk mencari anak angkat agar bisa membuat Diana sedikit terhibur. Memang rasanya tidak akan sama, tapi setidaknya, Diana mungkin bisa mengabaikan sedikit rasa sepi karena kehadiran si anak angkat ini.
Dan, pilihan Indra jatuh pada Sean. Indra memilih Sean yang sedang berusia dua setengah tahun itu karena dia memikirkan soal orang tua Sean yang sudah tiada. Anak itu adalah anak yatim piatu. Tidak punya keluarga, maka pantas untuk dia jaga.
Awalnya, nama Sean bukanlah Sean. Saat dia diadopsi, dia masih tidak punya nama. Karena ibu panti juga tidak tahu nama dari anak yang neneknya titipkan. Maka, nama Sean itu pasangan Indra dan Diana yang memberikan.
Intinya, Sean bukanlah anak kandung dari Diana dan Indra. Dia hanya anak angkat yang mereka rawat dengan sepenuh hati dengan sebaik mungkin. Semua kebutuhan Sean mereka cukupi dengan sangat layak. Bahkan, status Sean juga tidak banyak yang tahu kalau dia bukan anak kandung dari keluarga itu. Karena mereka selalu menganggap Sean sebagai anak mereka.
"Jadi ... anak mama dan papa cuma ada satu? Maksudku, anak kandung mama dan papa."
Jesika berucap agak gugup. Entah mengapa, hatinya tiba-tiba saja merasakan rasa gugup itu secara mendadak.
"Yah, meskipun rasanya tidak akan sama dengan anak kandung. Tapi, mama bisa sedikit terhibur dan sedikit melupakan kesedihan mama akan kehilangan kamu."
"Tapi sayang ... sekarang mama sangat bahagia. Mama sudah temukan kamu, sayang. Anak mama yang hilang sudah mama temukan dengan kondisi yang baik-baik saja. Tanpa cacat sedikitpun." Diana berucap sambil memeluk Jesi dengan penuh kasih sayang.
Saat keduanya masih berpelukan, Indra tiba-tiba saja datang. Dia agak penasaran dengan istri juga anaknya yang kini sedang berpelukan. Memang, itu bukan hal yang aneh. Karena sejak bertemu dengan anaknya, Diana memang selalu bermanja dengan si anak.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kalian sedang bicara soal apa? Kok kayaknya serius banget. Terus, mama pakai peluk-pelukan segala lagi," kata Indra sambil menghempaskan bokongnya ke sofa kembali.
"Papa. Kenapa papa tinggalkan Jesi di sini sendirian? Papa ini yah. Gak tahu jaga hati anak apa." Diana langsung menatap kesal ke arah Indra.
Kebiasaan keduanya. Kalo urusan Jesi aja, mereka akan sangat-sangat berlebihan. Seperti Jesi anak kecil saja. Yang tidak boleh ditinggal sendirian karena takut melakukan hal yang berbahaya.
"Yah, Mama. Maafkan papa. Papa kan ada urusan penting."
"Mana lebih penting Jesi dari urusan papa, hm?"
"Ya penting Jesi, Ma. Tapi .... "
"Tapi apa? Mau ngejawab lagi?"
"Iya-iya. Papa salah. Maafkan papa."
"Jesi, papa minta maaf ya, Nak. Papa udah ninggalin kamu sendirian di sini."
"Ya ... ya nggak masalah, Pa. Aku gak papa kok."
__ADS_1
"Ma, Jesi gak papa. Jangan terlalu khawatir dengan Jesi ya. Jesi gak papa kok. Orang Jesi udah besar, kan?"
Ucapan Jesi langsung membuat Diana dan Indra bertukar pandang. Hal tersebut juga membuat hati Jesi langsung merasa tidak enak. Dia tidak ingin menyakiti hati mama dan papanya. Karena dia tahu, mama dan papanya ini terlalu sayang. Jadi, dia anggap itu wajar meskipun dia merasa sedikit tidak nyaman.