
Sementara itu, Mila yang diantarkan oleh seorang pelayan, kini telah tiba di kamar Jona. Tanpa mengucapkan kata terima kasih untuk sekedar berbasa-basi, Mila langsung saja mengetuk pintu kamar tersebut dengan wajah yang tak sabar lagi.
Dua kali ketukan, terdengar suara Jesi dari dalam kamar tersebut yang berucap dengan lantang. "Siapa?"
Mendengar suara Jesi, Mila langsung merasa kesal. 'Dasar kurang ajar. Bisa-bisanya dia berlagak seperti tuan rumah di dalam sana. Dengan suara lantang dia menanyakan siapa. Sial! Seharusnya, itu aku yang ada di dalam sana,' kata Mila dalam hati sambil menggenggam erat tangannya.
"Nona. Kenapa tidak menjawab apa yang nona muda kami tanyakan barusan?" Pelayan yang mengantarkan Mila langsung berucap karena Mila hanya diam saja barusan.
Ucapan itu langsung menyadarkan Mila. Dia yang kesal, semakin dibuat kesal karena ucapan pelayan tersebut.
Ingin rasanya Mila memarahi pelayan itu dengan berbagai cacian yang bernada tinggi. Tapi sayangnya, dia tidak mungkin melakukan hal tersebut. Karena itu sama saja dengan membuka topeng serigalanya di tengah kawanan domba yang perkasa.
Dengan susah payah Mila menahan amarah itu agar tidak meledak. Setelah berhasil, dia langsung menyeringai memaksakan diri untuk tersenyum di depan pelayan tersebut agar wajah kesalnya bisa dia sembunyikan dengan baik.
"Aku hanya berusaha menahan rasa rindu ini supaya tidak meledak. Saat mendengar suara kakakku di dalam sana, hati ini sangat ingin mendobrak pintu untuk segera memeluk kakakku. Tapi, aku sadar kalau dia bukan dia yang dulu lagi. Karena sekarang, dia sudah jadi istri orang. Aku tidak boleh semena-mena lagi padanya." Mila berucap dengan nada yang sangat lembut.
Peran adik baik yang dia jalani saat ini hampir sempurna. Itu terlihat dari wajah pelayan yang ada di sampingnya sekarang sedang memberikan tatapan haru pada dirinya.
__ADS_1
"Nona. Anda adalah adik yang sangat baik dan pengertian. Anda sungguh luar biasa," ucap pelayan itu sambil menyentuh tangan Mila.
Sebenarnya, Mila yang punya rasa tinggi itu sangat merasa jijik dengan sentuhan yang pelayan itu berikan. Tapi, dia yang sedang bermain peran tidak mungkin memperlihatkan apa yang dia rasakan saat ini. Terpaksa, dia hanya tersenyum nyengir kuda dengan wajah yang terlihat sekali sedang dipaksakan.
"Jangan terlalu memujiku. Karena aku tidak se .... "
Belum sempat Mila menyelesaikan apa yang ingin dia katakan pada pelayan itu, pintu kamar tersebut langsung terbuka. Dari pintu itu muncul Jesi dengan wajah agak kaget sekaligus kesal ketika melihat Mila yang kini berada di depan pintu kamar Jona.
"Mila."
Sontak, Mila yang sadar akan apa yang harus dia lakukan karena dilihat pelayan itu, langsung menghambur ke dalam pelukan Jesi.
Tentu saja itu membuat Jesi kaget dan tak percaya. Tapi, dia kenal siapa Mila. Dia cukup hafal bagaimana sifat dan tindak tanduk Mila selama ini.
Jesi tertawa dalam hati.
'Kamu sedang bermain peran, Mila? Baiklah, aku juga akan melakukan hal yang sama. Karena kamu berani menjual, maka aku juga akan berani membeli. Tapi, dengan harga yang pantas.' Jesi berucap dalam hati.
__ADS_1
"Mila. Kapan kamu datang, Sayang? Kenapa kamu gak bilang dulu kalo mau datang, dek? Kan, aku bisa bersiap-siap buat kamu."
Jesi berucap dengan wajah yang sangat bahagia. Sambil memeluk erat tubuh Mila layaknya seorang kakak yang sangat bahagia dengan kedatangan sang adik.
Mila tertegun membatu. Dia tidak menyangka kalau sandiwaranya akan dibalas sandiwara pula oleh Jesika. Bagaimana tidak? Sebelumnya, Jesi tidak pernah melakukan hal tersebut. Jika dia bersandiwara, maka Jesi akan diam saja. Tapi sekarang ....
'Oh, Tuhan .... Jesika sudah bukan Jesika yang dulu lagi ternyata. Dia sudah bisa bersikap licik sekarang.' Mila berucap dalam hati sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan.
Sementara Mila berpikir. Jesi malah tertawa dalam hati. Menertawakan apa yang sedang terjadi dengan Mila saat ini.
'Dasar kamu, Mila. Sejak kecil hingga dewasa itu tidak pernah berubah. Entah karena kamu yang selalu dimanjakan oleh mama. Atau karena memang kamu tidak punya pikiran yang baik lagi karena sejak kecil sudah terbiasa dengan pikiran jahat.'
'Kamu pasti kaget dengan apa yang terjadi sekarang, bukan? Untuk itu, aku akan buat kamu semakin kaget lagi, Mila. Adikku sayang.'
"Mila. Kamu kenapa, Dek? Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu ... tidak suka dengan sambutan yang kakak berikan? Maafkan kakak, Mila. Kakak .... "
Jesi langsung menggantungkan kalimatnya. Dia langsung melepaskan pelukan, dengan wajah sedih, dia ajak Mila menjauh dari kamar Jonathan.
__ADS_1
Tentu saja hal tersebut langsung membuat Mila tidak bisa berpikir jernih. Emosinya yang sudah tidak tertahankan lagi, langsung saja meledak dengan memberikan bentakan pada Jesika dengan keras.
"Lepaskan aku, Jesika! Apa yang kamu lakukan padaku, hah!"