
"La-- lalu ... se-- karang? Kenapa kamu ajak aku bicara? Padahal, selama kita bertemu aku sibuk bicara sendirian." Jesi memasang wajah kesal sekaligus penasaran dengan tatapan lekat ke arah Jona.
"Karena aku tidak mau. Aku tidak ingin bicara, itu saja."
"Jadi, sekarang kamu sudah mau bicara padaku, Jonathan Wijaya?" tanya Jesi dengan nada menggoda.
Jonathan tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya memberikan tatapan lekat pada Jesika yang sedang berada di sampingnya saat ini.
Entah mengapa, dia juga tidak tahu apa penyebab dari dirinya yang ingin bicara dengan Jesika sekarang. Selama bertahun-tahun, dia sudah menutup bibir. Bicara hanya sekedarnya saja saat hatinya menginginkan. Itupun hanya dengan orang terdekat.
Tapi sekarang, setelah bersama dengan Jesika, walau itu baru. Tapi hatinya ingin mengajak Jesi bicara. Entah itu karena rasa bersalah yang dia rasakan untuk Jesi, atau mungkin juga karena kasihan dengan nasib perempuan itu. Namun yang jelas, dia tiba-tiba merubah pikirannya yang dulu ingin menutup diri dari siapapun.
"Jesika ... terima kasih banyak."
Ucapan itu langsung membuat Jesi menatap Jona dengan tatapan kebingungan.
"Untuk apa?"
"Untuk ... tidak ada. Hanya ingin mengucapkannya saja."
"Baiklah. Aku anggap ada sebuah alasan yang tidak bisa kamu ungkapkan padaku sekarang. Tapi, bisakah kamu dan aku ber .... "
"Tidak! Aku tidak ingin punya teman."
Sontak, teriakan itu membuat Jesi sedikit terkejut. Jona tiba-tiba berubah jadi brutal seketika. Hal itu langsung membuat Jesi yang bahagia jadi kesal dan sedih.
__ADS_1
Jona yang merasa telah membuat kesalahan, langsung memegang tengah-tengah alisnya. Dia memijit alis itu beberapa kali.
"Maafkan aku, Jesika. Aku butuh waktu untuk sendiri. Bisakah kamu biarkan aku sendiri dulu? Aku .... "
"Gak papa, Jona. Aku maklum. Semua butuh proses."
"Terima kasih."
Jona langsung berbaring membelakangi Jesika. Dia menyesal sebenarnya telah membentak Jesi seperti barusan. Sayangnya, dia belum bisa bicara banyak untuk menjelaskan. Kata teman yang Jesi ucapkan barusan itu membuat batin nya berontak kembali.
Meski dia sudah berjanji untuk merubah sikap buat Jesi yang telah berhasil menyelipkan kehangatan dalam hatinya yang beku. Tapi tetap saja, dia masih belum bisa bersikap baik layak orang pada umumnya.
Sementara itu, Jesi berusaha memaklumi keadaan Jona. Dia tahu, jadi Jona itu tidak mudah. Telah terbiasa hidup dalam kesepian, kini berusaha untuk membuka hati kembali untuk hidup layaknya sebelum kejadian itu terjadi. Itu butuh waktu yang panjang tentunya.
.....
"Jo. Waktunya makan," ucap Jesi seperti biasanya.
Kali ini, Jesi kembali mendapatkan sebuah senyuman. Senyum manis dari seseorang yang anti senyum sebelumnya. Hal itu tentu saja membuat Jesi tiba-tiba membatu akibat senyuman tersebut.
Karena biasanya, jika Jesi bilang seperti itu, hanya tatapan dingin saja yang akan Jona berikan untuk Jesi. Tidak seperti hari ini. Meski sama dengan hari sebelumnya. Tidak ada jawaban dengan kata-kata, tapi senyum manis dia sungguh kan dengan indah untuk apa yang Jesi katakan.
Tentu saja Jesi tidak bisa beranjak dari tempat dia berdiri. Kaki tangannya terasa berat akibat senyum manis itu.
Karena Jesi membantu, Jona terpaksa harus memanggil nama Jesi untuk menyadarkan Jesi dengan cepat.
__ADS_1
"Jesi."
Satu kali panggilan, Jesi masih tidak bisa merespon. Kesadarannya yang terpecah akibat senyuman Jona, membuat dia tidak bisa menanggapi Jona sekarang. Terpaksa, Jona harus memanggil Jesi lagi.
"Jesika!"
"Jesika! Kenapa melamun? Apa ada yang salah?"
"Hah! Eh ... it-- itu ... aku. Oh, iya maaf. Mendadak lupa ingatan."
"Lupa ingatan? Kenapa?"
"Ti-- tidak ada apa-apa. Lupakan saja. Ayo makan sekarang," ucap Jesi sambil memasang wajah merona yang tidak enak dilihat.
.....
"Jo, kalo bisa aku sarankan, kamu jangan melamun lagi ya. Mm ... bagaimana kalau kamu buka buku, terus baca. Itu bisa mengisi hari-hari agar tidak membosankan." Jesika berucap sambil tersenyum setelah sarapan pagi Jonathan selesai.
"Akan aku pertimbangkan. Mm ... maukah kamu temani aku keluar kamar sekarang?" Jona berucap sambil menatap pergelangan tangannya yang masih berbalutkan perban.
Tentu saja pertanyaan itu sebuah kebahagiaan buat Jesika. Karena selama ini, dia sangat ingin Jonathan keluar dari kamar ini. Tidak terus-terusan mengurung diri di kamar setiap saat.
Jesika yang bahagia langsung bersimpuh di kaki Jona yang kini sedang duduk di atas ranjang. Sontak, karena ulah Jesi barusan, kedua mata mereka saling beradu.
Tatapan bertemu membuat jantung Jona berdetak dua kali lebih cepat dari yang biasanya. Mendadak, dia terdiam tanpa bisa berucap apapun.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan Jesika, dia yang malahan tersenyum bahagia. Kini malah melebarkan senyumnya sehingga memperlihatkan gigi putih yang tersusun rapi pada Jonathan.