
Ucapan Jesi langsung membuat Diana dan Indra bertukar pandang. Hal tersebut juga membuat hati Jesi langsung merasa tidak enak. Dia tidak ingin menyakiti hati mama dan papanya. Karena dia tahu, mama dan papanya ini terlalu sayang. Jadi, dia anggap itu wajar meskipun dia merasa sedikit tidak nyaman.
"Ma, Pa. Maafkan Jesi jika salah bicara. Jesi hanya tidak ingin kalian bertengkar hanya karena hal sepele. Itu aja kok," ucap Jesi dengan perasaan bersalah.
Ucapan itu langsung membuat si mama merangkul bahu Jesi dengan penuh kasih sayang. "Jangan minta maaf. Kamu tidak salah. Mama tahu, kamu pasti merasa risih dengan sikap kami yang berlebihan. Tapi sayang, mama sudah berusaha untuk tidak berlebihan. Namun ... tetap saja kebablasan. Maaf ya, Nak."
"Iya, Je. Maaf ya, Nak. Kami mungkin butuh waktu untuk membiasakan diri dengan kamu yang sekarang. Maklum, baru bertemu anak yang sudah puluhan tahun menghilang dari dekapan. Jadi, agak sedikit berlebihan setelah bertemu kembali." Indra pula membenarkan apa yang istrinya katakan.
"Ya Tuhan, Ma, Pa. Jangan minta maaf padaku. Kalian tidak salah apa-apa kok. Apa yang kalian lakukan saat ini, Jesi maklum. Karena mama dan papa sayang Jesi. Jesi hanya tidak ingin mama sama papa berdebat, itu aja kok, Ma, Pa."
"Jesi tidak merasa risih kok, dengan perhatian dan kasih sayang yang mama berikan. Karena selama ini ... Jesi .... Auh! Sakit! Kepalaku .... "
Lagi-lagi, Jesi merasakan rasa sakit pada kepalanya. Entah kenapa, serangan rasa sakit yang sama dia rasakan lagi saat mengatakan kata-kata yang dia ucapkan barusan.
"Ya Tuhan! Jesi! Kenapa, Nak?"
"Kenapa, Sayang? Kenapa kamu? Kenapa bisa sakit kepala lagi?"
__ADS_1
Tentu saja Indra dan Diana jadi langsung panik. Bagaimana tidak? Anak kesayangan mereka sudah dua kali menerima serangan sakit kepala di satu hari. Ini adalah hal yang menakutkan buat mereka berdua.
"Bagaimana ini, Pa? Jesi kenapa?" Wajah panik terlihat sangat jelas di wajah Diana.
"Apa mungkin ingatan masa lalunya akan pulih, Ma?"
"Mungkin. Cepat panggilkan dokter, Pa."
"Aku gak papa, Ma, Pa. Cuma sakit kepala sedikit saja kok. Sudah mendingan," ucap Jesi sambil memegang kepalanya.
"Sayang, kali ini papa harus hubungi dokter. Tidak bisa dibiarkan lagi. Papa tidak ingin kamu kenapa-napa, Nak."
Dokter di datangkan segera. Jesi hanya sakit kepala ringan, dan itupun hanya sebentar saja. Tapi kediaman Kusuma heboh bukan kepalang. Seperti baru mengalami gempa yang cukup dahsyat saja mereka yang ada di kediaman ini.
Sibuk tak karuan.
.....
__ADS_1
Waktu terasa sangat cepat berlalu. Hari di mana Sean akan kembali ternyata sudah tiba. Dan seperti yang Sean katakan, dia pulang dengan sang istri dan juga anaknya, tepat di hari yang dia katakan.
Dia bahagia karena Diana menjemput kepulangannya di bandara. Sama seperti yang dia harapkan saat menghubungi sang mama waktu itu.
Tapi, Diana datang sendirian saat menjemput Sean. Indra sibuk dengan urusan pentingnya. Namun, walaupun begitu, Sean sudah sangat bahagia. Sejak kecil, dia memang hanya sangat akrab dengan Diana. Sedangkan Indra, cuma sebatas bicara seperlunya saja. Tidak sedekat anak dan papa pada umumnya.
Karena Indra terkesan cukup dingin sebagai papa waktu bersama Sean. Maklum, mungkin Indra tidak bisa membohongi hati. Dia hanya ingin anak kandungnya saja.
"Uh ... rumah ...!" Sean berucap dengan suara lantang ketika mobil yang dia tumpangi berhenti di depan pintu rumah mereka.
Terlihat sekali kalau dia adalah pria yang humoris dan sangat ceria. Bicara soal kebahagiaan saat tiba di rumah saja secara terang-terangan seperti itu.
Beberapa pelayan tentu saja sedang berdiri di depan rumah. Bersiap-siap untuk memberikan sambutan pada tuan muda mereka yang sudah setengah tahun tidak kembali ke kediaman tersebut. Sean pun tentu langsung menyapa mereka dengan penuh kehangatan.
"Terima kasih atas sambutannya. Aku ... bahagia ... banget." Sean bicara dengan ekspresi yang ... yah seperti biasa. Sedikit berlebihan.
Namun, saat dia masuk ke dalam rumah. Dia yang awalnya sibuk menyapa semua pelayan yang dia temui, tiba-tiba terdiam mematung ketika matanya menangkap sosok asing yang ada di dalam rumah tersebut. Pertemuan pertama itu membuat Sean tidak bisa berucap satu katapun selama beberapa saat.
__ADS_1
Selain rasa penasaran, dia juga memiliki rasa kagum akan sosok tersebut. Sosok perempuan cantik, yang umurnya mungkin lebih muda dua tahun dari diri Sean dan juga istrinya.
"M-- ma ... dia ... dia siapa?" Sean berucap dengan nada gugup. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Jesi sedikitpun.