Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 56


__ADS_3

Malam semakin larut saja. Jona tetap tidak ingin pulang sebelum Jesi di temukan. Papanya harus melakukan segala cara agar bisa membawa Jona kembali ke rumah. Terutama dengan cara berbohong.


"Jo, ayolah kita pulang dulu sekarang. Kamu terlihat sedang sangat lelah. Pulang, istirahat. Mungkin, sekarang Jesi sudah ada di rumah."


"Tidak mungkin, Pa. Aku sudah berulang kali menghubungi dia. Tapi ...."


"Mungkin dia terlalu capek kali, Jona. Pulang, dan lihat dulu bagaimana keadaan rumah kita saat ini. Jika tidak, maka kita tidak akan tahu apa yang terjadi, bukan?"


Beberapa saat membujuk, akhirnya, Jona setuju juga diajak pulang. Dalam hati dia berharap, kalau saat ini, Jesi nya sudah ada di rumah. Karena itu, ketika tiba di rumah, Jona langsung bergegas menuju kamar untuk menemukan keberadaan Jesi.


Namun, apa yang dia harapkan hanyalah tinggal harapan saja. Saat pintu kamar terbuka, tidak ada Jesi di dalam sana. Kamar itu kosong seperti tanpa penghuni sebelumnya.


Jona yang tidak puas hati pun beranjak mencari ke kamarnya. Tentu saja dia juga tidak menemukan Jesika. Karena Jesi memang sedang tidak berada di rumah.


Harapan yang hampa membuat tekanan yang sangat besar dalam hati Jona. Dia pun tidak bisa menguasai diri lagi. Seketika, tubuhnya ambruk, jatuh ke lantai tanpa ada tanda-tanda.


Sontak, hal tersebut membuat gempar seisi rumah. Jona yang pingsan di bawa ke ranjang oleh papanya. Semua pelayan di bangunkan. Keadaan rumah seketika bising akibat kondisi Jona.

__ADS_1


"Ada apa ini, Pa? Apa yang terjadi?" tanya Sesilia dengan wajah kaget dan cemas saat mengetahui keadaan anaknya saat ini.


"Jona drop. Jesika tidak diketahui keberadaannya. Dia ... entah di mana saat ini."


Papa Jona berucap dengan wajah yang juga panik.


"Ya Tuhan. Kenapa ini bisa terjadi?" Tentu saja Sesilia juga ikut memperlihatkan wajah kaget meski dia sudah tahu semuanya. Akting yang baik akan dia mainkan di depan semua orang sekarang.


.....


Keesokan hari, kabar soal kecelakaan yang Jaka alami tersebar luar di stasiun televisi juga sosial media. Saat itu, Emily seperti kehilangan nyawa ketika tahu itu adalah anak laki-lakinya.


Emily saat mendengar kabar itu, tentu saja langsung lemas seperti tidak memiliki tenaga. Meski hubungan antara mereka kurang baik. Tapi anak yang dia kandung, juga lahir kan dengan susah payah itu tetaplah darah dagingnya sendiri.


"Tidaaaak ...! Bagaimana mungkin Jaka mengalami kecelakaan fatal seperti itu? Dia tidak mungkin jatuh ke selat itu. Aku tidak percaya!" Emily mengamuk di kantor polisi karena dia tidak bisa menerima kenyataan kalau anaknya sedang mengalami nasib buruk.


"Tenang, Ma. Kak Jaka pasti baik-baik saja sekarang. Dia belum ditemukan keberadaannya, bukan berarti dia sedang dalam bahaya, kan?" Mila berusaha menghibur sang mama sebisa mungkin.

__ADS_1


Sejujurnya, dia juga sedang sedih saat ini. Meskipun diantara dia dengan sang kakak tidak pernah akur. Itu bukan karena dia tidak sayang sang kakak. Melainkan, karena sebaliknya.


Dia benci Jesika. Tapi tidak benci dengan kakaknya. Karena Jesika telah mengambil kakak satu-satunya yang dia punya. Itulah sebab kenapa hubungan antara dia dengan kakaknya menjauh.


Di sisi lain. Tepatnya di kediaman Wijaya. Semua yang ada di kediaman tersebut sedang dihebohkan dengan kabar kepergian Jesika.


Seorang pelayan mengatakan kalau pakaian dan barang-barang berharga milik Jesi tidak ada di tempatnya. Kamar Jesi kosong, seperti tidak pernah ada penghuni sebelumnya.


"Tidak mungkin. Jesi tidak mungkin pergi dari sini tanpa pamit sedikitpun. Lagian, aku sungguh sangat tidak percaya kalau dia benar-benar kabur dari rumah ini." Papa Jona bicara dengan wajah serius.


"Tapi ... semua barang nona Jesi tidak ada di kamarnya, tuan besar. Nona Jesi juga tidak pulang sampai detik ini." Salah satu pelayan berucap.


"Panggil Sesilia ke sini sekarang juga!" ucap papa Jona dengan nada tegas.


"Nyo-- nyonya? Nyonya ... dia .... "


"Panggil! Aku ingin bicara. Kenapa kamu yang mendadak jadi gugup?" Papa Jona bicara dengan nada penuh selidik sambil menatap tajam wajah pelayan tersebut.

__ADS_1


Pelayan yang sedang gugup, dibuat semakin gugup karena tatapan dari papa Jona barusan. Dengan wajah tertunduk, pelayan itu berusaha ingin mengatakan sesuatu.


Tapi, sebuah suara tiba-tiba saja datang dari arah belakang. "Aku di sini, Pa. Tidak perlu kamu panggilkan lagi. Karena aku langsung datang sendiri untuk membahas sesuatu dengan kamu." Sesilia berucap dengan wajah tenang.


__ADS_2