
"Nona Jesi. Ini ada titipan untuk nona dari tuan muda," kata seorang pelayan yang sedang membawa paper bag dengan berisikan kontak di dalamnya.
"Titipan?" Jesi langsung memasang wajah bingung. "Titipan apa? Kenapa Jona tidak memberikan saja langsung padaku?"
"Saya juga tidak tahu, Nona. Yang jelas, tuan muda memberikan tugas ini pada saya sebelum tuan muda berangkat beberapa saat yang lalu."
"Baiklah kalau gitu," ucap Jesi sambil menerima paper bag tersebut.
"Saya permisi dulu, Nona."
"Iya."
Setelah kepergian si pelayan. Jesi langsung membawa paper bag tersebut ke dalam kamar.
Rasa penasaran yang besar sedang menguasai hatinya. Dia pun tidak menunggu lama lagi. Langsung saja, tangannya dengan lincah membuka paper bag tersebut. Mengeluarkan kotak yang ada di dalamnya, lalu membuka dengan hati-hati.
Mata Jesi membulat saat melihat isi dari kotak tersebut. Itu adalah sebuah dress. Dress indah berwarna hijau tua. Di atas dress tersebut ada sebuah kertas kecil yang bertuliskan pesan dengan sangat rapi.
*Pakai baju ini buat dinner nanti malam. Seseorang akan jemput kamu pukul tujuh tepat. Dandan yang cantik, biar tambah cantik. Perempuan cantikku.*
Tulisan tersebut diakhiri smile kecil dengan satu mata yang tertutup. Dan, di samping smile itupun ada sebuah gambar hati yang membuat Jesi jadi merona entah kenapa. Yang jelas, hatinya bahagia seketika.
__ADS_1
Meskipun sebelumnya, pesan singkat itu sedikit membingungkan hatinya. Tapi tetap saja, rasa bahagia lebih besar dari pada rasa yang lainnya.
"Jona ajak aku makan malam?" Jesi pun mengukir senyum.
"Ada-ada saja dia. Makin hari, makin tahu bagaimana caranya jalanin hidup dengan ternyata," ucap Jesi lagi bicara pada dirinya sendiri.
Lalu ... Jesi pun langsung mengeluarkan dress tersebut dengan hati-hati. Matanya langsung berbinar ketika dress itu dia angkat.
Dress indah yang sederhana. Sangat sesuai dengan selera Jesi selama ini. Namun, seketika dia ingat akan sesuatu.
"Inikan ... dress yang ingin aku beli sebelum papa pergi. Dress yang sudah lama sekali aku inginkan tapi belum sempat aku beli karena ... ada yang lebih penting dari pada dress ini."
"Jona ... tahu dari mana kalau aku ingin dress ini?" Jesi memasang wajah sangat bingung sambil terus melihat ke arah dress tersebut.
"Aku ... menyimpan foto dress ini di ponsel lama. Tapikan, ponselnya sudah Jona hancurin saat dia kambuh. Gak mungkin juga kalau dia tahu soal dress ini waktu itu. Karena saat itu, dia juga masih dalam keadaan sakit. Gak kayak sekarang."
Jesi benar-benar dipenuhi dengan rasa bingung sekarang. Dia penasaran, dengan bagaimana Jona tahu soal dress tersebut. Dan juga, bagaimana Jona bisa mendapatkan dress ini.
Dalam kebingungan itu, ponsel Jesi tiba-tiba berdering. Jesi pun langsung mengalihkan perhatian pada ponsel tersebut dengan cepat.
Tertera nama Jona di sana. Jesi segera menggeser layar untuk menjawab panggilan itu dengan cepat.
__ADS_1
"Halo." Jesi langsung berucap saat sambung panggilan terhubung.
"Hm ... halo, Wantik." Terdengar suara Jona memanggil Jesi dengan ceria dan penuh semangat.
Wantik, itu adalah panggilan Jona buat Jesi sejak beberapa saat yang lalu. Jona membuat panggilan kesayangan dari singkatan wanita cantik dengan wantik untuk memanggil Jesi. Si kesayangannya saat ini.
Sejak dia dinyatakan sembuh total dari sakit mental yang dia alami. Jona malam berubah jadi pria bucin yang akut. Dia seperti bukan dirinya yang dulu lagi. Karena dunianya sekarang, hanya ada Jesika seorang yang selalu memberinya warna indah.
Jadi, apapun tentang Jesi, Jona pasti akan melakukan yang terbaik. Termasuk, panggilan kesayangan yang dia buat dari singkatan. Yang bagi Jesi, itu terlalu tidak menyenangkan.
"Ya ampun, Jo. Aku kan susah pernah bilang, jangan panggil aku dengan panggilan itu. Aneh tahu gak?" Jesi berucap kesal.
Jona yang ada di seberang sana malah terkekeh ringan. "Sayang, kamu kesal aku panggil kamu dengan sebutan wanita cantik. Ya, aku panggil kamu dengan panggilan Wantik. Kan, singkatan dari wanita cantik."
"Ya karena dia singkatan, maka dari itu aku gak suka, Jo. Udah bagus namaku Jesika. Eh, malah kamu rubah dengan Wantik. Ogah banget aku dengarnya."
Jesika semakin memperdengarkan suara kesalnya pada Jona. Eh, yang mendengar bukannya menyesal, tapi malah semakin bahagia menggoda.
Merekapun menghabiskan beberapa waktu untuk saling kesal dan saling menggoda. Hubungan keduanya terasa semakin erat saja. Walau pada dasarnya, dalam hati Jesi sedang terdapat kesedihan besar, tapi Jesi berusaha untuk tidak pernah memperlihatkan apa yang dia rasakan pada Jona.
Jesi ingin menikmati waktu beberapa saat saja lagi bersama dengan Jonathan sebagai istri. Karena selanjutnya, dia harus pergi. Dan merelakan posisinya itu diambil oleh orang lain.
__ADS_1
Meskipun hatinya tidak ingin, tapi dia sudah tidak punya pilihan lain lagi. Karena mama Jona pasti akan melakukan berbagai cara untuk mengusirnya cepat atau lambat.
'Aku tidak punya mama. Jadi, aku tidak akan membiarkan Jona merasakan apa yang telah aku rasakan. Meskipun ini tidak adil buat aku, tapi ... itulah yang bisa aku lakukan untuk Jona. Karena dia sudah cukup menderita akibat kehilangan teman. Aku tidak akan rela jika dia kehilangan mamanya pula. Sakit mentalnya pasti akan kambuh lagi,' kata Jesi dalam hati.