Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 60


__ADS_3

Di luar kamar, papa Jona sedang bicara hal serius dengan Imah. Wajah kaget tergambar dengan jelas ketika dia mendengarkan apa yang Imah ucapkan. Sungguh, dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar dari pelayan pribadi sang istri.


"Tidak. Ini sungguh tidak bisa aku percayai, Imah. Bagaimana mungkin Sesilia begitu tega dengan menantunya sendiri." Papa Jona berucap dengan suara pelan seakan dia sudah tidak punya sedikitpun tenaga lagi sekarang.


Kakinya pun seperti tidak kuat menahan beban berat dari tubuhnya sendiri. Dia pun langsung memilih mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang berada tak jauh dari tempat mereka bicara sebelumnya.


"Maafkan saya, Tuan besar. Saya juga tidak percaya dengan apa yang saya dengar sebelumnya. Tapi, apa yang saya katakan ini sungguh hal yang murni saya dengar dengan kuping saya sendiri."


"Awalnya, saya ingin mengabaikan semua ini. Mengingat nyonya adalah majikan saya, dan saya adalah pelayan pribadi nyonya. Saya ingin memilih tutup mulut. Tapi, hati nurani saya sebagai manusia tidak bisa memilih hal tersebut. Hati saya terus saja merasa bersalah sebelum saya mengatakan semua kebenaran yang saya dengar, Tuan besar."


Imah lagi-lagi bicara dengan wajah sedih sekaligus bersalah. Sepertinya, tidak ada sedikitpun kebohongan dalam hati Imah saat ini. Dia benar-benar sedang merasa tersiksa selama rahasia besar itu belum dia sampaikan.


Imah juga menangis saat bicara. Entah bagaimana caranya, air mata itu tumpah perlahan melintasi kedua pipi. Air mata itu adalah air mata kasihan akan keadaan Jesi yang tidak diketahui keberadaannya saat ini. Sekaligus, air mata karena rasa bersalah akibat dia telah memilih diam selama ini.


"Andai kau katakan sejak awal apa yang kamu dengar, Imah. Semua ini tidak akan terjadi. Jesi tidak akan .... "


Brak! Suara keras yang terdengar dari lantai atas langsung membuat omongan papa Jona tertahan. Perhatian mereka langsung terfokus pada kamar Jona, tempat di mana suara keras itu berasal.

__ADS_1


"Jona."


"Tuan muda."


Papa Jona langsung beranjak dengan cepat. Rasa lemas yang sebelumnya telah hilang karena rasa kaget juga cemas dengan keadaan Jonathan saat ini. Dia panik, takut, juga bimbang. Dia tidak ingin hal buruk terulang lagi pada putra satu-satunya itu.


"Jona! Jona ...! Apa yang terjadi?" Papa Jona berteriak keras sambil menggedor pintu kamar dengan keras.


"Tuan besar. Tolong saya, tuan. Tuan muda ... sedang ngamuk parah." Terdengar suara seseorang dari dalam sana. Orang yang berucap seperti sedang sangat ketakutan. Terdengar dari suaranya yang bicara dengan nada bergetar.


"Buka pintunya sekarang juga! Aku tidak bisa masuk. Cepat buka!" Papa Jona berteriak dengan nada sangat panik.


"Tu-- tuan ... be-- besar. Sa-- saya tidak ... tidak bisa membuka pintu. Tu-- tuan muda ... men ... tol-- ong ... sa-- saya .... "


Kini, suara pelayan yang bicara di dalam sana terdengar semakin mengkhawatirkan saja. Hal tersebut semakin membuat papa Jona kelabakan.


"Kunci cadangan! Imah! Cepat cari kunci cadangan."

__ADS_1


"Ba-- baik tuan besar."


Imah pun langsung beranjak cepat. Suasana panik, tergambar dengan sangat jelas. Kini, hampir sebagain pelayan ada di dekat kamar Jonathan.


Dan, tentu saja salah satu dari pelayan itu langsung pergi ke kamar Sesilia untuk memberi kabar. Sesilia yang masih bersama dokter Dana, sontak langsung bangun dari baringnya. Kabar kambuhnya sakit mental si anak, sungguh sangat membuatnya kaget.


"Apa! Bagaimana bisa Jona kembali kambuh sakit mental? Bukannya dia itu sudah baik-baik saja, bukan?" Sesilia berucap dengan wajah kaget dan panik.


"Saya juga tidak habis pikir dengan keadaan tuan muda, Nyonya. Tapi sekarang, tuan muda memang sedang ngamuk dan hilang kendali. Dua pelayan yang ada di kamarnya terdengar sedang sangat mengkhawatirkan."


"Sial! Kenapa ini bisa terjadi lagi pada Jona sih?" Sesilia menggerutu dengan nada sangat kesal.


Sangking kesalnya dia, dia lupa dengan keberadaan Dana saat ini. Dia langsung saja ingin meninggalkan kamarnya agar bisa segera melihat keadaan si anak yang di kabarnya sedang kambuh sakit mental kembali.


Tapi, saat Sesilia melangkah untuk pergi, tangannya langsung saja Dana tahan dengan cepat. Hal itu tentu membuat langkah Sesilia ikut tertahan juga. Sesilia langsung melirik ke tangannya yang di mana ada tangan Dana di sana. Lalu, dia tatap wajah Dana dengan tatapan yang penuh selidik.


"Ada apa, Dana? Kenapa kamu tiba-tiba menahan tangan tante? Lepaskan tangan tante sekarang juga. Tante harus melihat keadaan Jona sekarang."

__ADS_1


Terdengar nada kesal di setiap kata yang mama Jona ucapkan. Tapi, hal tersebut tidak membuat Dana merasa takut. Dia bahkan tidak melakukan apa yang mama Jona katakan.


__ADS_2