Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 99


__ADS_3

Usai pernikahan yang mewah, Jesi dan Jona langsung meninggalkan kota untuk bulan madu ke tempat impian Jesi. Tapi sebelum berbulan madu keluar negara, Jona sudah menjadikan Jesi sebagai istrinya yang sah.


Tepat di malam pernikahan, Jona langsung mengambil haknya sebagai suami dari Jesi. Hal yang selama ini dia tunda karena beberapa hal.


Jona yang terlalu dingin jika dilihat oleh orang lain, ternyata sangat agresif jika bersama dengan Jesi. Buktinya saja, dia tidak mau menunda kepemilikannya terhadap Jesi sampai mereka berbulan madu lagi.


Setelah resepsi siang itu berakhir, Jona langsung menikmati manisnya perkawinan dengan istri yang paling ia cintai. Sampai-sampai, dia tidak membiarkan Jesi tidur nyenyak malam itu.


Tidak hanya itu saja, Jona juga membuat banyak tanda kepemilikan ditubuh Jesi malam itu. Sampai membuat Jesi malu untuk keluar dari kamar pada siang harinya. Hingga terpaksa, Jesi diam di kamar selama satu hari sampai Jona menemukan cara untuk memudarkan tanda bekas kepemilikan tersebut.


Namun, Jonathan Wijaya adalah suami yang paling hangat dan paling pengertian. Meski dianggap dingin oleh orang lain, tapi sangat hangat bagi Jesi. Dia tidak akan membiarkan istrinya kesepian. Dengan penuh pengertian dan kasih sayang, dia terus berada di samping Jesi.


Begitulah manusia. Jangan dinilai dari luarnya saja. Karena kita tidak tahu apa yang mereka punya sebelum kita kenal dia dengan sangat baik.


....


Sebulan lamanya Jesi dan Jona berada di luar negeri. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan acara romantisnya bulan madu di negara kincir angin yang sejak kecil Jesi impikan. Ada banyak cerita yang mereka lalui, hingga akhirnya, mereka pun harus kembali setelah menghabiskan waktu satu bulan.

__ADS_1


Setelah kembali, kisah cinta mereka semakin romantis saja. Tak jarang, Jona terkadang lupa dengan keadaan sekitar. Dia sering bersikap romantis saat berada di rumahnya, atau rumah mertuanya.


Dia sering tiba-tiba memeluk Jesi dari belakang sambil menjatuhkan ciuman mesra. Atau bahkan, dia juga sering tiba-tiba mencium mesra bibir Jesi saat berada di ruang tamu ketika Jesi duduk sendirian.


Tentu saja ada banyak mata yang melihat Jona saat mencium Jesi. Karena meski Jesi duduk sendirian, tak jauh dari dia duduk pasti ada orang lain. Jika tidak mama Jesi, yah Sean atau Marisa. Jika pelayan, hal itu sudah biasa. Karena Jona sepertinya tidak pernah menganggap pelayan sebagai manusia ketika dia ingin memanjakan istrinya.


Tapi anggota keluarga, mungkin sedikit jadi pertimbangan bagi Jona ketika ingin bermesraan dengan Jesi. Walau terkadang, ia sering melupakan keberadaan mereka.


Yang paling sering melihat kehangatan Jona pada Jesi, ya Marisa. Entah kenapa, dia yang selalu jadi korban kehangatan Jona terhadap Jesi. Dia selalu jadi nyamuk yang tidak terlihat saat Jona bersikap romantis terhadap Jesika.


Keinginan itu tentu membuat Sean tidak senang. Tapi, dia terpaksa ikut apa yang Marisa inginkan. Karena sejujurnya, dia juga tidak betah jika harus tinggal satu rumah dengan Jonathan dan Jesika. Karena dia merasa tidak enak hati saat melihat Jona yang kini seperti tidak mengenalinya dengan baik.


"Baik. Kita akan pindah, tapi tidak ke luar negeri. Melainkan, ke rumah yang sebelumnya aku belikan." Begitu kata Sean saat Marisa mengajaknya pergi.


Mau tidak mau, Marisa terpaksa ikut apa yang Sean katakan. Mereka pun pergi meninggalkan kediaman Kusuma meski dengan berat hati.


Rumah perkomplekan dengan dua lantai itu cukup bagus buat Marisa. Tapi sayangnya, lingkungan yang membuat Marisa merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Karena di sekitar lingkungan tersebut cukup banyak perempuan yang tidak bersuami. Seperti janda, atau bahkan anak gadis yang tinggal di sana. Karena Sean yang terlalu hangat pada semua perempuan, Marisa jadi semakin merasa tersakiti.


Hampir setiap hari Marisa melihat Sean jalan-jalan dengan perempuan yang berbeda-beda. Alasannya juga tepat sama, hanya sebatas ingin dekat saja.


Tingkah Sean semakin membuat Marisa merasa menyesal karena telah memilih Sean waktu itu. Kalah dengan kehangatan yang Sean miliki, Marisa mengenang Jona yang dingin. Jona yang sekarang sangat hangat dengan istrinya membuat Marisa merutuki diri yang bodoh dalam menilai orang.


Suatu hari, ia pun berniat untuk bicara dengan Jona. Dia ingin tahu, apakah kesempatan itu masih ada untuknya. Meski itu terasa mustahil, tapi Marisa ingin mencoba keberuntungan. Karena jika tidak dicoba, maka dia tidak akan tahu apa hasilnya.


Marisa meninggalkan anaknya dengan si bibi yang bekerja di rumah mereka. Dengan alasan untuk berbelanja, ia meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan Sean.


Marisa datangi kantor Wijaya Grup, tempat Jona bekerja sebagai ceo perusahan itu sekarang. Setelah susah payah, akhirnya ia bisa bertemu dengan Jona yang kebetulan baru ingin keluar makan siang dari kantornya.


Tentu saja Jona kaget karena kedatangan Marisa. Tapi, dia bisa menguasai dirinya. Karena memang, perasaan yang dia punya sudah benar-benar lenyap. Bahkan, dia tidak pernah merasa dekat sedikitpun dengan perempuan yang ada di sekitarnya sekarang.


____________________________________________


(Maaf reader ku, aku hanya bisa menghadirkan keromantisan pernikahan hanya sekedar itu saja. Aku gal bisa bikin yang lebih panas lagi. Harap maklum yah. Aku ini ... ah, tolong pengertiannya. Berasa dosa jamaah jika bikin yang lebih ... gimana gitu yah.)

__ADS_1


__ADS_2