
Tapi, tentu saja Jesika tidak mampu menghentikan tangisannya. Dia merasa begitu rapuh saat ini. Sampai-sampai, tidak ada cara lain selain menangis untuk membangun hatinya yang kini sedang rapuh.
"Jesi tolong, jangan menangis. Apa yang membuat kamu menangis, Jesika?"
"Percepat laju mobilnya, Pak! Aku ingin segera tiba ke rumah," ucap Jona pada sopir yang sedang mengendarai mobil.
"Baik, tuan muda."
Mobil berjalan cepat. Tak lama kemudian, mobil itu tiba di depan kediaman Wijaya nan megah.
Jona langsung saja berlari tanpa menghiraukan panggilan atau sapaan dari para pekerja yang sedang betugas. Karena saat ini, yang ada dalam benak Jonathan Wijaya itu hanya istrinya. Dia ingin segera menemui sang istri secepat mungkin.
Saat Jona masuk ke dalam rumah, dia berpas-pasan dengan sang mama yang baru saja keluar dari kamar.
"Jona. Kamu kok pulang lagi? Ada apa sih?"
"Ada hal penting, Ma. Aku buru-buru sekarang. Naik ke atas dulu," ucap Jona sambil berjalan dengan langkah besar.
Sesilia tidak punya kesempatan untuk bicara lagi. Karena Jona tidak berhenti sedikitpun. Hal tersebut membuat Sesilia yang suka selalu ingin tahu, jadi sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Dia pun memilih mengikuti langkah Jona dari belakang.
Jona tiba di kamarnya yang berada di lantai dua. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Jona langsung menerobos masuk ke dalam kamar tersebut. Saat pintu terbuka, dia langsung bisa melihat Jesi yang kini sedang membenamkan wajahnya di atas kasur dengan posisi duduk di lantai.
Melihat keadaan Jesi yang sangat sedih, Jona pun ikut merasa hatinya terluka. Dengan langkah pelan, dia dekati Jesi. Lalu, dia sentuh pundak Jesi dengan lembut.
__ADS_1
"Jes."
Suara lembut itu langsung membuat Jesi mengangkat wajahnya dengan cepat. Dengan perasaan cukup kaget, dia lirik wajah Jona yang kini ada di dekatnya.
"Jo. Kamu .... " Jesi tak mampu melanjutkan ucapannya. Karena tiba-tiba saja, dia lupa akan apa yang ingin dia bicarakan saat matanya dengan mata Jona saling bertukar pandang.
Sementara Jona yang tidak ingin melihat wajah sedih dari orang yang dia sayangi, langsung menarik Jesi ke dalam pelukan. Dia peluk erat tubuh mungil yang selalu menjadi tempat terbaik saat dia merasa resah.
"Kenapa menangis? Apakah ada yang begitu menyakitkan hatimu, Je?"
"Aku menangis karena sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Aku ... jangan bicara soal kata-kata yang tidak baik seperti tadi, Jo. aku mohon."
"Aku tidak akan bicara lagi. Tapi aku mohon, jangan menangis lagi, Jesika. Wajahmu akan terlihat begitu menyedihkan. Kau tahu itu?" Jona berucap sambil membelai rambut Jesi.
'Bagaimana bisa aku tinggalkan pelukan yang begitu menenangkan ini, Tuhan? Aku sungguh tidak ingin meninggalkan pria ini. Pria yang sudah mengisi seluruh hatiku dengan sempurna,' kata Jesi dalam hati sambil menutup mata rapat-rapat.
Mereka saling melepas rasa takut yang ada dalan hati mereka masing-masing. Sambil terus berpelukan, keduanya menikmati rasa nyaman akibat pelukan masing-masing.
Sementara itu, di depan pintu kamar sedang berdiri mama Jona yang tengah menatap Jesi dengan penuh rasa marah. Tatapan itu tak ubah tatapan dari seekor hewan buas yang siap menerkam mangsanya. Dan, satu langkah lagi, mangsanya itu akan dia terkam, lalu dia cabik-cabik sampai tidak berbentuk lagi.
'Laknat! Bisa-bisanya dia menguasai putraku sepenuhnya. Aku sebagai mama langsung tak dianggap ada oleh putraku karena dia. Dasar kurang ajar! Tidak akan aku biarkan semua ini berlangsung lebih lama lagi,' kata Sesilia sambil menggenggam erat tangannya.
Sesilia langsung meninggalkan kamar tersebut ketika Jona dan Jesi melepaskan pelukan mereka. Dengan membawa hati yang penuh dengan amarah juga kebencian, dia terus memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menyingkirkan Jesika dari kehidupan anaknya.
__ADS_1
Puluhan menit berlalu setelah dia tiba di kamarnya dengan berjalan munda-mandir mengitari kamarnya yang luas. Akhirnya, dia punya ide cemerlang yang bisa dia jalankan. Yang mungkin tidak akan pernah mengalami kegagalan sedikitpun.
"Imah!"
"Imah ...!"
"Ya, Nyonya." Pelayan pribadi mama Jona datang dengan terburu-buru.
"Ada ... ada apa, nyonya. Maaf, saya ada kerjaan sebentar tadi."
"Apa sih kerjaan kamu, hah!? Dipanggil bukannya langsung datang. Tapi malah buat aku menunggu."
"Maaf, Nyonya. Saya .... "
"Ah, sudah. Tidak perlu kamu jelaskan. Aku tidak butuh penjelasan lagi sekarang."
"Sekarang juga, aku minta kamu undang Mila untuk datang ke rumah ini. Aku ingin dia datang dan makan malam bersama nanti malam."
Pelayan pribadi itu terlihat sedikit kebingungan. Dengan wajah yang di penuhi dengan tanda tanya, dia tatap majikannya.
"Maksud, nyonya ... Mila ... adik nona Jesi, Nyonya?"
Sesilia langsung memberikan tatapan tajam ke arah Imah. "Siapa lagi? Mila yang mana lagi yang aku maksudkan, hm?"
__ADS_1
"Ba-- baik, nyonya. Akan saya lakukan sesuai keinginan nyonya."