Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 102


__ADS_3

Meskipun sudah tidak ada perasaan dekat dengan Sean, tapi Jona masih mengingat dengan baik seperti apa sifat mantan sahabatnya ini. Dia tidak suka menyangkal dan berdebat. Sekali ia bicarakan kejujuran, maka itu adalah benar. Tidak akan ada kebohongan lagi diantara apa yang dia ucapkan. Jadi, Jona masih bisa merasakan, kalau apa yang Sean katakan tadi adalah kebenaran.


"Nathan. Aku mohon maafkan aku. Aku memang tidak layak menjadi sahabatmu lagi. Tapi, tolong berikan satu maaf saja untukku." Sean berucap lirih.


"Kamu tidak salah, Sean. Aku tidak perlu memaafkan kamu. Tapi, seperti yang telah aku katakan sebelumnya, jika kalian salah, aku sudah memaafkan. Jadi, tolong bangunlah. Karena tidak enak dilihat orang."


Sean mengikuti apa yang Jona katakan. Dia pun bangun dengan wajah lega.


"Terima kasih untuk kata maaf yang kamu berikan. Aku sungguh merasa sangat lega sekarang."


"Tidak perlu berterima kasih. Karena maaf itu sebenarnya tidak kamu butuhkan, Sean. Oh ya, maaf untuk aku yang terpaksa harus pergi sekarang juga. Karena istriku pasti sudah sangat lama menungguku. Waktu makan siang ku hampir berakhir sekarang." Jona bicara sambil melirik jam yang ada di tangannya.


Jona pun langsung melangkah pergi. Sebelum dia benar-benar meninggalkan Sean dan Marisa, dapat ia dengarkan suara Marisa yang memanggil namnya. Tapi sayang, Sean tidak mengizinkan Marisa menghalangi Jona lagi.


Sebaliknya, Sean langsung menarik Marisa menuju mobil. Meski dengan perlawanan, tapi Sean berhasil membawa Marisa pergi.

__ADS_1


"Masuk sekarang juga!"


"Tunggu! Aku masih ingin bicara dengan Sean. Aku harus menjelaskan padanya, kalau aku juga tidak salah waktu itu."


"Tidak akan ada penjelasan lagi. Karena penjelasan itu tidak akan ada gunanya. Sebaliknya, kita harus segera tiba di rumah. Karena aku akan menjatuhkan talak di depan orang tua kamu nantinya."


Mendengar kata itu, tentu saja Marisa sangat terkejut luar biasa. Tubuhnya seketika membatu. Seperti tidak bisa ia gerakkan lagi.


Bagaimana tidak? Jika ia kehilangan Sean, maka orang tuanya juga akan kehilangan muka. Mana mungkin keluarganya siap untuk menampung hidup dia dan anaknya. Mana selama ini, hidup kedua orang tuanya saja ditanggung oleh Sean.


"Tidak. Aku tidak akan pernah menyetujui niat kamu yang ingin menceraikan aku. Kita tidak akan bercerai, Mas Sean. Tidak akan pernah."


"Mau kamu setuju atau tidak, aku juga tidak akan memikirkannya. Karena keputusan yang aku buat, tidak akan pernah bisa di ganggu gugat. Aku tetap akan bercerai dengan kamu, dengan atau tanpa persetujuan dari kamu. Paham!?"


Sama seperti Jona, Marisa juga tahu bagaimana sikap Sean. Karena hal itu, dia berniat untuk membatalkan niat Sean dengan caranya sendiri.

__ADS_1


Entah ide gila apa yang sedang dia punya. Tiba-tiba saja, Marisa langsung menyingkirkan tangan Sean yang kini terfokus pada setir mobil. Marisa dengan sigap mengalih setir itu ke arah lain. Sehingga mobil yang mereka tumpangi mendadak hilang kendali.


Mobil itu meliuk-liuk dijalan seperti cacing kepanasan. Sean yang kaget berusaha menghentikan Marisa yang kini sedang hilang akal. Tapi sayang, dua manusia yang sedang diserang emosi ini tentu saja tidak ada yang ingin mengalah. Mereka tetap mempertahankan ego masing-masing.


Brak! Mobil yang seperti cacing kepanasan itupun akhirnya bertabrakan dengan sebuah truk pengangkut barang. Mobil itu bergulingan beberapa kali di jalan yang cukup ramai. Kecelakaan beruntun pun terjadi di jalan tersebut.


Seketika, jalan itu jadi sangat ramai. Bunyi sirene mobil polisi dan ambulan bersahut-sahutan memecah keramaian kota. Kerumuman para warga yang ingin tahu keadaan para korban pun tercipta.


Mobil Sean dan Marisa yang sedang terbalik, sangat menyulitkan pihak penolong untuk melakukan evakuasi atas mereka berdua. Di tambah, bagian depan mobil mereka yang remuk, mereka berdua juga ikut terjepit.


Yang parah saat ingin menyelamatkan Marisa. Kakinya benar-benar ikut remuk bersama remuknya bagian depan mobil yang ia tumpangi. Sementara Sean, keadaannya masih mendingan.


Beberapa waktu melakukan evakuasi, akhirnya mereka berhasil dilarikan ke rumah sakit. Kabar pun tersebar luar. Jesi dan Jona yang kini sedang ingin makan bersama, langsung membatalkan niat mereka akibat panggilan dari Diana. Mereka pun langsung memutuskan untuk langsung pergi ke rumah sakit.


....

__ADS_1


Sean di nyatakan koma. Tapi, tidak tahu kapan dia akan sadarkan diri. Diperkirakan, itu akan memakan waktu beberapa bulan, atau bahkan bisa mencapai tahun. Sedangkan Marisa, dia sadar. Tapi, dia tidak punya kaki lagi sekarang. Kedua kakinya harus diamputasi akibat kecelakaan itu. Dan malangnya, dia juga kehilangan pita suara. Marisa kini tidak lagi bisa bicara karena kecelakaan tersebut.


__ADS_2