Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 25


__ADS_3

Tanpa menjawab. Jesi langsung memutar kenop pintu kamar. Dengan langkah yang agak berat, dia melangkah masuk ke dalam.


"Mama panggil aku?" tanya Jesi setelah berada di belakang perempuan yang sedang berdiri menghadap jendela kamarnya.


Perempuan itu langsung menoleh sesaat.


Itu hanya sesaat saja. Karena detik berikutnya, perempuan itu langsung mengalihkan pandangannya kembali.


"Ya. Aku panggil kamu. Ada yang ingin aku bicarakan padamu sekarang."


Perempuan itu lalu mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Jesika. Tanpa menunggu Jesi menjawab terlebih dahulu apa yang dia katakan sebelumnya. Dia langsung saja mengatakan semua yang ingin dia katakan dengan sesuka hati.


Lalu, selembar surat kontrak dia layangkan pada Jesi setelah apa yang ingin dia katakan selesai. Tidak memikirkan bagaimana tanggapan Jesi atas apa yang dia katakan. Mama Jona sangat terlihat memaksa keinginannya sendiri.


Jesi yang kaget hanya bisa melongo. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Ingin rasanya dia menolak apa yang mama Jona katakan. Tapi ... dia sungguh seperti tidak punya cara untuk melakukan apa yang dia inginkan.


"Tapi, ma ... aku .... "

__ADS_1


"Aku tidak percaya kamu benar-benar tertarik pada putraku karena kamu suka dia. Tapi, kalau pun iya kamu suka dia, aku juga tidak heran sih akan hal itu. Karena putraku tampan, sudah pasti kamu tertarik akan ketampanannya itu."


"Ma, ini .... "


"Cukup Jesika! Aku tidak suka padamu, kau tahu akan hal itu, bukan? Jadi, jangan berpikir untuk selamanya berada di samping putraku. Karena kamu itu sangat tidak pantas untuk menjadi istri dari seorang Jonathan Wijaya. Pewaris tunggal keluarga Wijaya. Apa kamu paham akan kedudukan mu itu, Jesika?"


Jesi membulatkan matanya. Menatap lekat ke arah mama Jona yang kini berada di hadapannya. Ingin rasanya dia bicara panjang lebar dengan nada tinggi kepada wanita yang ada di depannya sekarang. Namun, niat itu dia urungkan karena mengingat tidak ada gunanya melepaskan amarah sekarang.


Lagipula, apa yang perempuan ini katakan juga ada benarnya. Dia hanya seorang anak angkat. Tidak tahu siapa orang tua kandungnya sekarang. Entah itu pengemis, atau siapa. Yang jelas, latar belakang dirinya masih buram.


Sementara Jona, pria itu anak orang terkaya nomor dua. Meski sakit mental, tapi terap saja, dia adalah pewaris satu-satunya. Jarak antara dia dengan Jona memang jauh.


Jesi langsung menyeka air mata yang tiba-tiba saja jatuh. Meskipun dia sudah berusaha keras untuk menahan air mata ini. Tapi entah kenapa, matanya lebih kuat dari pada dirinya sendiri.


'Sadarlah, Jesika. Kamu memang bukan siapa-siapa. Sejak awal, kamu juga hanya seorang pengganti saja. Kamu bukan perempuan yang ingin dinikahkan dengan pangeran tampan itu kok,' kata Jesi dalam hati berusaha untuk menguatkan diri.


'Lagipula, kamu itu tidak suka dia karena rasa cinta. Kamu itu hanya kasihan saja padanya, Jesika. Kamu kasihan padanya, dan ingin menolong dia. Karena kamu pikir, kalian itu bernasib sama.'

__ADS_1


Beberapa saat lamanya Jesi berusaha menguatkan diri. Hingga pada akhirnya, dia berhasil. Dia pun langsung mengambil surat kontrak yang ada di hadapannya sekarang.


"Baiklah, Ma. Aku akan tanda tangani surat ini. Tapi, aku tidak ingin menerima imbalan yang mama berikan. Aku hanya akan membantu Jona dengan sepenuh hati. Tidak karena imbalan," ucap Jesi dengan penuh penegasan.


Ucapan itu langsung membuat mama Jona menoleh. Dia yang awalnya membelakangi Jesi karena ucapan itu langsung mengubah posisi.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan barusan itu, Jesi?" Pertanyaan dengan nada meremehkan terdengar sangat merendahkan Jesi. Tapi, belum sempat Jesi menjawab, mama Jona malah kembali berucap.


"Keluarga angkat mu itu selalu kekurangan uang. Aku yakin, mereka sangat membutuhkan uang untuk kepentingan mereka."


"Yang butuh uang itu mereka, Ma. Bukan aku."


Ucapan itu sontak membuat geli hati mama Jona. Dia pun langsung tertawa lepas.


"Ha ha ha .... Kamu sungguh sangat naif. Merendahkan keluarga angkat mu, padahal kamu sama saja seperti mereka. Bahkan, aku pikir, kamu itu lebih buruk dari mereka. Karena kamu itu selalu kekurangan dibandingkan dengan mereka. Iya, kan?"


Lagi-lagi penghinaan yang Jesi dapatkan. Tidak di rumah lama, tidak juga di rumah barunya ini. Entah kenapa, semua orang selalu mengganggap rendah dirinya. Dia seolah-olah tempat yang bisa diremehkan oleh siapapun setiap saat.

__ADS_1


"Maaf, Ma. Aku memang selalu kekurangan materi selama ini. Aku juga kekurangan kasih sayang. Tapi, aku tidak sama seperti yang lainnya. Bagiku, materi itu bukanlah hal utama yang aku kejar dalam hidup. Karena materi tidak bisa menjanjikan kebahagian. Sama seperti mama saat ini."


__ADS_2