
"Tante ... aku pikir, setelah tante mengundang aku, maka tidak ada yang mengingat kalau aku tidak diizinkan datang ke rumah tante ini. Tapi ternyata, yang berkuasa di sini sekarang bukanlah pemilik rumah yang sebenarnya. Melainkan, kakak angkat ku yang begitu tidak menyukai aku." Mila kembali berucap dengan wajah yang tertunduk karena sedih. Tentunya, sedih yang dibuat-buat, alias hanya sandiwara saja.
Ucapan itu tentu saja sangat menyakitkan buat mama Jona. Dia yang kesal akan Jesika, semakin dibuat kesal dengan apa yang Mila ucapkan barusan.
"Lancang! Siapa yang tidak menganggap aku sebagai tuan rumah di sini, hah! Siapa yang bisa menghalangi aku untuk mengundang orang yang ingi aku undang. Rumah ini adalah rumah kediaman keluarga Wijaya. Dan aku, aku adalah tuan rumah yang berkuasa di rumah ini. Aku nyonya rumah yang sudah belasan tahun tinggal di sini. Mengerti?"
Mama Jona bicara dengan nada yang penuh dengan penekanan. Dia juga bicara sambil melirik tajam semua pelayan yang ada di ruang tersebut sehingga membuat semuanya merasa cukup ngeri sampai tidak ingin mengangkat wajah mereka.
"Untuk kamu Jesika! Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai menantu di sini. Kamu itu harus sadar diri. Kamu itu adalah pembantu yang di datangkan untuk merawat anakku. Seharusnya, setelah anakku sembuh .... "
"Mama! Apa yang mama katakan, hah! Jangan kelewatan, Ma!"
Seketika, teriakan itu membuat mama Jona dan semua yang ada di ruangan tersebut jadi kaget. Mama Jona yang tak menyangka akan hal tersebut, sontak saja langsung mengubah ekspresi wajahnya.
"Papa." Sesilia berucap lirih dengan nada takut sekaligus kesal.
Ya, barusan itu adalah suaminya. Orang yang telah bertengkar dengannya beberapa waktu yang lalu. Kini, mereka harus adu mulut lagi hanya karena Jesika. Perempuan asing yang sangat tidak Sesilia sukai. Karena itu, Sesilia sangat kesal dan sangat ingin menyingkirkan Jesi secepatnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak sadar juga, Ma? Apa kamu ini tidak mengerti dengan perkataan manusia? Harus bagaimana lagi aku ingin menyampaikannya padamu supaya bisa bikin kamu mengerti, hah?"
"Bela lagi, pa! Bela terus dia. Orang asing yang kamu bawa ke rumah ini sudah berasa keluarga sesungguhnya ternyata. Sedangkan keluarga yang sesungguhnya, malah kamu singkirkan layaknya orang asing yang tidak ada artinya."
"Aku bosan! Aku kecewa sama kamu. Sama kalian yang selalu saja membela dia. Kamu menyebalkan!" Mama Jona langsung beranjak setelah berucap dengan nada tinggi pada suaminya.
Dengan menarik tangan Mila, dia berjalan cepat untuk meninggalkan ruangan tersebut menuju samping rumah untuk menenangkan pikiran di tepi kolam. Sedangkan papa Jona, dia langsung menghampiri Jesi yang kini sedang mematung di atas anak tangga terakhir.
Rasanya, Jesi sungguh sangat ingin pergi karena hati yang begitu terluka. Tapi, ketika ingat Jonathan yang begitu membutuhkannya, rasa sakit itu tiba-tiba memudar.
"Apa kamu baik-baik saja, Jes? Kamu gak papa kan, nak?" tanya papa Jona sambil menatap cemas wajah menantunya.
"Sudah biasa? Maksud kamu ... mama kamu selalu bersikap seperti itu padamu, Jes?" Papa Jona terlihat semakin cemas akibat ucapan Jesi barusan.
"Ee ... nggak, pa. Bu-- bukan gitu maksud aku. Mm ... aku ... sudah, sudah sering mengalami hal seperti ini sebelum datang ke sini. Jadi, aku gak terlalu kaget setelah dihadapkan dengan kondisi yang sama seperti sebelumnya."
Susah payah Jesi jelaskan agar papa Jona tidak semakin cemas dengan dirinya. Walau dengan sedikit kebohongan, tapi tetap saja dia pilih untuk melakukan. Sementara papa Jona, dia terus menatap wajah Jesi dengan tatapan cemas, bahkan iba sekarang.
__ADS_1
"Pa ... aku gak papa. Aku baik-baik saja kok, Pa." Jesika berucap pelan untuk menenangkan hati mertuanya.
"Papa gak perlu cemas dengan keadaanku ya. Aku gak papa."
Pria paruh baya itu langsung menarik napas pelan, dan melepaskannya secara perlahan.
"Semoga apa yang kamu katakan itu benar, Jes. Papa gak mau kamu mengalami tekanan batin karena tinggal di rumah ini."
"Gak kok, Pa. Aku sama sekali tidak mengalami tekanan batin selama tinggal di sini. Aku bahkan sangat senang tinggal di rumah ini. Karena ada papa yang begitu peduli padaku. Juga ada Jona yang sayang, dan selalu mengutamakan aku."
"Baiklah. Papa percaya dengan kamu, Jes. Sekarang, pergilah! Sopir yang Jona tugaskan untuk menjemput kamu sudah lama menunggu kamu di luar. Dan, Jona juga pasti sudah sangat gelisah karena melihat kamu belum juga muncul."
"Iya, Pa. Aku berangkat dulu."
"Hati-hati, Jesika. Ada apa-apa, jangan sungkan buat bicara langsung dengan papa. Karena bagaimanapun, papa adalah orang yang paling berkuasa di rumah ini. Jangan takut dengan yang lainnya selagi ada papa, semua akan aman."
Jesika tersenyum lebar karena ucapan dari mertuanya barusan.
__ADS_1
"Iya, Pa. Aku akan ingat dengan kata-kata papa barusan. Aku permisi dulu, Pa."