
Setelah mendengar dan melihat reaksi yang Mila berikan, papa Jona yakin kalau Mila adalah dalang dari menghilangnya Jesika. Untuk itu, dia tidak ingin membuang banyak waktu lagi. Dia langsung saja meminta anak buahnya buat menyeret Mila ke kantor polisi sekarang juga.
Tentu saja Emily juga Mila tidak terima akan hal tersebut. Mila langsung menangis, bersujud ke kaki papa Jona untuk dimaafkan. Tapi, dia masih tetap tidak ingin mengakui sepenuhnya kalau hilangnya Jesi adalah ulah dia.
"Aku tidak tahu apa-apa, Om. Hanya mengikuti apa yang tante Sesilia katakan saja. Aku hanya mengiyakan saja apa yang tante Sesilia katakan, Om. Jadi, semua ini tidak ada hubungannya dengan aku."
"Pak Wijaya. Tolong selidiki dulu jika ingin menuduh anak saya. Kehidupan keluarga kami saat ini sudah sangat sulit. Jadi tolonglah, tolong jangan persulit lagi, Pak. Saya tahu anak saya seperti apa. Dia tidak mungkin menyakiti saudara angkatnya terlalu berlebihan." Emily pun juga memohon pada papa Jona.
Salahnya Emily jadi orang tua. Dia malah membela anaknya secara tidak sengaja. Tanpa mempertimbangkan dan memikirkan mana yang benar, dan mana yang salah. Emily malah langsung membela Mila atas rasa sayangnya pada Mila.
"Mama ... aku tidak mungkin melenyapkan Jesi, Ma. Mama tahu bagaimana aku dengan Jesi, bukan?" Mila kini beralih ke dalam pelukan sang mama sambil menangis terisak.
"Tolong aku, Ma. Selamatkan aku dari fitnah ini, Ma." Mila kembali berucap dengan harapan dia mendapat belas kasihan dari papa Jona karena telah memperlihatkan kalau dia benar-benar tidak bersalah.
Tapi sayangnya, kedatangan papa Jona ke sini bukan tidak punya bukti. Saat Emily ingin berucap, papa Jona langsung mengangkat satu tangan sebagai isyarat untuk menghalangi niat Emily tersebut.
Papa Jona yang awalnya masih duduk, kini langsung beranjak dari duduknya. Dia bangun dengan mata yang menatap tajam ke arah Mila dan Emily.
__ADS_1
"Aku tahu ini pasti terjadi, Emily. Kamu tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Maka dari itu, akan aku berikan bukti agar kamu percaya. Mungkin, kamu akan mempertimbangkan apa yang aku katakan sebelumnya."
Lalu, papa Jona mengulur tangan ke arah anak buahnya. Si anak buah yang peka akan maksud dari bos itu langsung memberikan laptop ke tangan yang papa Jona ulurkan.
"Lihat ini, Emily! Setelah melihatnya, aku yakin kalau kamu akan berpikir ulang untuk membela anak kamu ini," kata papa Jona sambil membuka laptop tersebut.
Mata Emily langsung terfokus pada vidio yang diputar di laptop papa Jona. Penggalan vidio yang membuat hatinya terasa hancur ketika melihat bagaimana mobil Jaka di aniaya oleh beberapa preman hingga pada akhirnya jatuh ke dalam selat tersebut.
"Jaka!" Tanpa sadar, Emily langsung berteriak memanggil nama anaknya yang sudah hampir satu minggu menghilang. Dia yang sangat merindui anak laki-lakinya itu tidak bisa untuk tidak menjatuhkan air mata karena sedih.
Selanjutnya, vidio berganti ke bagian di mana Mila yang sedang bersama dengan salah satu preman yang ada di rekaman sebelumnya. Mila terlihat cukup akrab dengan preman tersebut sehingga membuat hati orang yang melihat kedua penggalan vidio ini berpikir, kalau antara Mila dengan si preman bukan hanya kebetulan bertemu. Melainkan, ada hubungan yang cukup dekat satu dengan yang lainnya.
"Apa ini, Mila!? Katakan pada mama! Apa semua ini, hah!"
"Ma ... a-- aku ... aku .... "
"Tunggu, nyonya Emily. Aku ingin memperlihatkan satu vidio lagi pada kalian berdua. Kali ini, berkaitan dengan Jesika."
__ADS_1
Lalu, vidio bagian di mana Jesi sedang duduk di dalam mobil dengan wajah yang sedang gelisah pun diputar. Dari belakang, samar-samar terlihat mobil yang sama dengan mobil yang mencelakai Jaka sebelumnya.
Semua rekaman tentang Jesi pun disaksikan Emily dengan seksama. Hingga pada titik akhir, Jesi yang melarikan diri dari mobil tersebut dalam kegelapan malam.
Kali ini, Emily menatap papa Jona dengan wajah bingung setelah vidio berakhir.
"Apa maksudnya semua ini, pak Wijaya? Apa hubungannya vidio ini dengan Mila?"
Papa Jona menyunggingkan bibir untuk mengukir senyum kecil. Senyum yang penuh dengan ejekan tentunya.
"Anda benar-benar tidak tahu, atau sedang berpura-pura tidak tahu, nyonya Emily?"
"Sudah jelas-jelas kalau vidio itu ada hubungannya dengan anak anda, Mila. Karena mobil yang mengikuti Jesi malam sebelum dia menghilang, adalah mobil yang sama dengan mobil yang para preman itu gunakan untuk mencelakai Jaka."
"Anda tahu? Kemungkinan, Jaka telah menyelamatkan Jesika malam itu. Hanya saja, mereka berdua tidak berhasil lolos dari kejaran si preman."
Saat penjelasan panjang lebar ini masuk ke kupingnya, Emily baru mengerti. Dia juga baru memikirkan hal tersebut. Karena tidak mungkin Jaka dikejar oleh preman jika tidak ada sebabnya.
__ADS_1
Sementara untuk sebab lain yang sebelumnya dia pikirkan, itu sungguh sangat tidak mungkin. Seperti sebab Jaka yang bermusuhan dengan sebuah geng. Atau Jaka yang mencari gara-gara dengan para preman. Karena selama ini, Jaka terkenal dengan ke cuekkan nya dengan urusan orang lain.