Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 36


__ADS_3

Jesi memang sedang sangat terluka. Tapi, dia tidak ingin mengakui apa yang dia rasakan di depan Jona sekarang. Karena dia tidak ingin membebani pikiran Jona yang sedang dalam proses penyembuhan ini.


Jesi langsung menyentuh lembut tangan Jona yang kini berada di atas satu tangannya. Dia lagi-lagi mengukir senyum manis. Kali ini, senyum itu lebih lebar dari yang sebelumnya.


"Kamu pikir aku selemah itu, Jo? Nggak kok. Aku tidak lemah. Aku tidak akan terluka hanya karena ucapan dari orang lain. Ditambah, ucapan itu datang dari orang yang aku anggap sebagai mamaku sendiri. Jadi, itu tidak akan ada pengaruhnya buat aku. Lagipula, aku sudah biasa dengan hal yang seperti ini. Jadi, aku sudah kebal, Jonathan."


Namun, ucapan itu tidak langsung membuat Jona percaya. Sebelumnya, dia adalah laki-laki dingin yang tidak terlalu memahami perasaan orang lain. Tapi, setelah mengalami sakit mental, dia jadi memiliki perasaan halus yang cukup peka akan perasaan seseorang yang ada di sekitarnya.


Dia tatap lembut wajah Jesi dengan penuh perasaan. "Jangan bohongi aku, Je. Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi. Dan, satu hal yang harus kamu tahu. Sekarang, aku sudah tidak mengalami sakit mental seperti kemarin lagi. Jadi, aku paham apa yang kamu rasakan, Jesika."


Jesi terharu akan ucapan itu. Ingin rasanya dia menghambur ke dalam pelukan Jona. Melepaskan semua sakit yang sedang bersarang di dalam hatinya saat ini.


Tapi sayang, dia tidak bisa melakukan hal itu. Tidak bisa menunjukkan kelemahannya pada Jona. Karena Jesi ingin, Jona pulih seutuhnya.


"Kapan sih aku bohong padamu, Jo? Aku beneran gak papa kok. Udah, jangan cemas dengan aku. Yang terpenting itu, semua sudah berlalu," ucap Jesi tetap bersikeras memperlihatkan kalau dia baik-baik saja dengan berucap sambil mengukir senyum manis untuk Jona.


Ucapan itu langsung membuat Jona mendengus pelan. Lalu, tanpa ada aba-aba terlebih dahulu, dia langsung merebahkan kepalanya ke pangkuan Jesi.

__ADS_1


Sesuatu yang langsung membuat Jesika kaget bukan kepalang. Sampai-sampai, dia tidak bisa berucap apapun selain melongo karena jantungnya mendadak berdetak tak karuan akibat ulah Jona barusan.


"J-- Jo. Kamu .... "


"Izinkan aku menumpang berlabuh dipangkuan mu, Je. Anggap saja ini sebagai hukuman buat kamu karena tidak ingin terbuka padaku."


Jona berucap santai seolah tidak ada yang salah dengan apa yang dia lakukan. Padahal, Jesi seperti orang yang sedang terserang penyakit jantung akibat ulahnya sekarang.


"A-- aku .... "


"Apa kamu keberatan, Je?" Jona berucap lagi ketika Jesi masih bicara dengan suara gelagapan karena gugup.


Sebisa mungkin, Jesi berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan saat ini. Dia paling kan wajahnya ke arah lain agar tatapan mereka tidak beradu.


"Jika kamu keberatan, aku tidak akan berbaring di pangkuan mu lagi," ucap Jona dengan rasa bersalah.


Tentu saja Jesi langsung berucap cepat.

__ADS_1


"Gak kok. Gak papa. Ah, maksudku, aku ... tentu tidak keberatan."


Ucapan cepat yang terdengar sangat terburu-buru membuat Jona langsung tersenyum. Sejak awal, dia tahu kalau Jesi gugup. Itu terlihat jelas dari raut wajah Jesi yang tiba-tiba merona karena dia berbaring di pangkuan Jesi untuk pertama kali.


Sementara itu, Jesi langsung membuang wajahnya dengan cepat saat melihat Jona tersenyum. Dia ingin berontak karena merasa kesal akibat ulah Jona. Tapi hatinya tidak ingin melakukan hal tersebut. Hatinya menginginkan Jona tetap berada di pangkuan, kalau bisa setiap saat.


'Jika ini adalah hukuman yang kamu berikan untuk aku karena tidak ingin terbuka padamu, maka aku lebih bahagia menerima hukuman dari pada mengatakan apa yang aku rasakan, Jo. Karena ini ... adalah hal istimewa yang selalu aku impikan,' kata Jesi dalam hati sambil menahan hati agar tidak tersenyum.


Bahagia itu sederhana sebenarnya. Bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi sayang, terkadang, apa yang kita mau, belum tentu bisa kita dapatkan dengan mudah.


Beberapa saat terdiam, akhirnya Jona kembali angkat bicara.


"Je, apa kamu ingin rumah baru? Jika iya, aku bisa berikan untukmu."


Sontak saja, ucapan itu langsung membuat Jesi menatap kaget ke arah Jona.


"Rumah baru? Maksud kamu gimana?"

__ADS_1


"Ya ... rumah baru. Aku bisa belikan kamu rumah yang akan menjadi tempat tinggal kita berdua saja. Jauh dari mama, juga dari orang yang berniat mengusik ketenangan kita."


Ucapan itu membuat Jesi terpaku. Ada dua rasa yang kini menguasai hatinya. Yang pertama, rasa sangat bahagia akan ajakan Jona barusan. Tapi, ada rasa lain yang langsung membuatnya merasa sedih. Itu adalah, perjanjian antara dia dengan mama Jona yang mau tidak mau harus dia tepati.


__ADS_2