Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 95


__ADS_3

"Hei ... apa yang kamu katakan, hm? Aku tidak kesal sekarang. Apalagi, kesal karena memikirkan mereka. Tidak akan lagi. Jadi, jangan takut dan jangan pernah berpikir akan hal itu, Jesi ku." Jona berucap sambil menyentuh hidung Jesi dengan lembut.


Jesi yang merasa takut, tentunya tidak bisa mempercayai apa yang Jona katakan seutuhnya. Karena waspada adalah cara terbaik untuk menghindari masalah. Baik ingat sebelum terjadi, bukan? Setidaknya, itulah yang ada dalam benak Jesi saat ini.


"Kenapa masih bengong, Je? Tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan ya?" ucap Jona lagi saat melihat Jesi tidak menanggapi apa yang dia katakan.


Jesi pun langsung di buat gugup dengan pertanyaan Jona. Bagaimana tidak? Dia yang memang tidak yakin akan apa yang Jona katakan, tentu langsung merasa gugup karena pertanyaan Jona yang sepertinya tahu betul apa yang dia rasa dan pikirkan saat ini.


"Itu ... iya, aku bukan tidak percaya dengan apa yang kamu katakan, Jo. Hanya saja, akan lebih baik jika kamu tidak bertemu mereka duluan. Karena .... "


Belum juga selesai Jesi bicara. Pintu kamar tersebut sudah terdengar ketukan. Hal itu langsung mengalihkan perhatian Jesi seketika.


"Siapa?" tanya Jesi dengan suara lantang.


"Mama, Sayang. Mama langsung masuk aja ya," ucap Diana dari arah luar.

__ADS_1


Lagi-lagi, belum sempat Jesi menjawab apa yang Diana tanyakan. Pintu kamar itu langsung terbuka lebar saja. Dari balik pintu tersebut langsung memunculkan Diana yang di belakangnya adalah Marisa dan Sean yang berjalan beriringan.


"Kalian .... "


Ucapan Jesi tertahan seketika saat Jona memegang tangan Jesi dengan erat. Mungkin, Jona sengaja melakukan hal itu supaya Jesi tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan.


"Maaf, kami ingin melihat keadaan teman lama yang katanya sedang sakit parah. Jadi, gak papakan kami datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu," kata Sean seperti tidak ada masalah sebelumnya.


Ucapan itu membuat darah panas Jesi mendidih seketika. Ingin rasanya dia marah pada Sean karena telah berani datang, dan berucap seperti tanpa beban dan tidak ada sedikitpun rasa bersalah pada Jona yang telah dia buat sakit akibat ulah mereka berdua.


"Terima kasih atas kedatangannya. Meski sangat terlambat, tapi mungkin lebih baik dari pada tidak sama sekali."


Jawaban yang Jona berikan dengan nada santai membuat Jesi terpaku tanpa bisa bicara. Ternyata, suaminya yang dulu tidak bisa mendengar kabar dari para sahabatnya sedikitpun, kini seperti tidak punya masalah lagi dengan hal tersebut. Seperti tidak ada masalah sebelumnya dengan mereka semua.


Suasana canggung buat Jesi pun tercipta dengan sangat nyata. Dia yang kaget, sama sekali tidak bisa menguasai diri. Tapi Jonathan, dia malah terlihat sangat tenang.

__ADS_1


Namun, tangan Jesi tidak sedikitpun ia lepaskan dari genggaman tangannya. Jona terus menggenggam erat tangan Jesi sejak awal kedatangan Sean dan Marisa, hingga mereka ngobrol santai seperti saat ini.


..


Beberapa menit ngobrol, Jona meminta Sean meninggalkan kamarnya dengan alasan dia ingin istirahat. Terkesan tidak sopan memang, tapi Sean dan Marisa menuruti permintaan Jona dengan segera.


"Baiklah, jika kamu ingin kami pergi, maka kami akan pergi. Cepat sembuh, karena ada banyak hal yang ingin kami bicarakan." Sean berucap sambil bangun dari duduknya.


"Diantara kita, sepertinya tidak ada hal lagi yang perlu dibicarakan. Aku, kamu, atau kalian berdua adalah hal yang sudah berlalu. Kita sudah terpisah lama, dan tidak bisa seperti dulu lagi."


Sean dan Marisa saling bertukar pandang karena ucapan Jona yang terang-terangan barusan. Seperti tidak pernah punya hubungan sebelumnya, Jona bicara hal itu dengan wajah dan nada yang sangat tenang. Membuat keduanya saling mempertanyakan, apakah ini Jona yang sama dengan yang mereka kenali dahulunya? Jona yang pernah terluka akibat ulah mereka berdua.


"Kamu masih marah pada kami, Nathan?" Kali ini, giliran Marisa yang bertanya. Karena dia sangat ingin melihat Jona yang dulu. Yang begitu menganggap tinggi diri mereka karena ikatan persahabatan.


Sementara Jesi, pertanyaan Marisa barusan itu rasanya seperti membangkitkan bara api dalam hatinya. Ingin sekali dia cepat-cepat mendorong dua makhluk yang tidak punya muka ini keluar dari kamar itu secepat mungkin. Kalau perlu, dengan cara menendang bokong mereka supaya cepat enyah keluar.

__ADS_1


'Awas saja jika kalian membuat sakit mental Jona kambuh. Apalagi jika sampai Jona ngamuk-ngamuk secara brutal. Kalian akan aku beri pelajaran yang tak kalah sengitnya dari pada ngamuknya Jona nanti.' Jesi berkata dalam hati sambil menatap Sean dan Marisa dengan tatapan tajam.


__ADS_2