Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 54


__ADS_3

Karena setelah sembuh dari sakitnya, dia masih belum punya teman dekat selain Jesi. Dia hanya bicara banyak dengan Jesi satu orang saja. Sementara dengan yang lainnya, Jona masih tidak banyak bicara.


Di saat kebingungan itu tiba-tiba dia ingat dengan papanya. Dia pun langsung menghubungi sang papa untuk mengatakan hal ganjal yang sekarang terjadi dengan dirinya.


Saat panggilan terhubung, Jona tidak langsung bicara. Dia malah diam sesaat, sampai papanya harus bicara berulang kali menanyakan ada apa dengan dirinya.


"Jesi, Pa. Dia ... masih belum tiba di restoran tempat kami janjian. Apa ... papa tahu di mana dia?" tanya Jona agak gugup setelah terdiam beberapa saat.


"Apa!" Tentu saja orang tua itu kaget bukan kepalang dengan apa yang baru saja kupingnya dengar.


Karena Jesi itu sudah pergi sejak lama. Jadi, mana mungkin sekarang dia masih belum tiba juga. Kecuali, ada kendala yang menjadi penghambat kedatangannya.


"Kenapa kamu baru menghubungi papa, Jona? Jesi sudah pergi sejak beberapa jam yang lalu. Papa sendiri yang mengantarkannya sampai depan pintu."


"Ya tapi ... Jesi masih belum tiba di sini, Pa. Aku tidak tahu ke mana dia." Nada panik terdengar sangat jelas.


Papa Jona langsung melepas napas kasar. Dia tahu, menambah panik hati anaknya tidak akan baik. Karena bagaimanapun, anaknya itu juga belum lama sembuh dari sakit mental yang dia alami. Jika pikirannya terlalu dibebani, maka akibat buruk mungkin bisa saja langsung menimpa anaknya dengan cepat.

__ADS_1


"Ya ... ya sudah, Jo. Kamu tenang saja dulu. Papa akan bantu kamu buat menemukan Jesi. Dia pasti akan baik-baik saja. Jadi, kamu tenang di sana. Papa juga akan kirim orang buat jemput kamu pulang."


"Iya, Pa."


Di sisi lain, Mila sedang sangat bahagia ketika menerima kabar dari orang yang dia suruh untuk mencelakai Jesi. Perasaan lega saat tahu Jesi sudah dilenyapkan, membuat dia seolah-olah melayang ke udara tanpa beban.


"Ya Tuhan ... akhirnya-akhirnya ... uh ... aku bisa juga dapatkan apa yang aku inginkan. Posisi nona keluarga Wijaya ... aku datang. Mm ... pangeran tampan Jonathan, kau adalah milikku. Aku yang cocok jadi istri kamu, bukan si kutu busuk itu."


Mila sangat-sangat bahagia. Sampai dia berlompatan di atas kasurnya tanpa memikirkan rasa bersalah sedikitpun. Dan juga, dia jadi agak lupa diri sangking bahagianya dia.


Terus berlompatan sampai tidak sadar akan suasana. Kakinya tiba-tiba menginjak tepi kasur dan ... bruk! Tubuh Mila jatuh ke lantai.


Dia meringis kesakitan. Tapi, rasa sakit itu seketika tidak ada apa-apanya karena terhalang hati yang begitu bahagia. Sementara itu, mamanya yang ada di luar langsung menghampiri pintu kamar Mila karena bunyi benda jatuh yang ia dengar beberapa detik yang lalu.


"Mila! Ada apa sih? Apa yang terjadi? Bunyi apa barusan?" tanya Emily sambil mengetuk pintu kamar dengar perasaan cemas.


"Gak papa, Ma. Aku baik-baik aja. Pintu gak aku kunci kok. Jika ingin masuk, ya tinggal masuk aja," ucap Mila sambil berusaha bangun dari jatuhnya.

__ADS_1


Emily masuk. Dia langsung menemukan Mila yang masih membenarkan pinggangnya setelah bangun dari jatuh. Emily menatap Mila dengan penuh selidik.


"Kenapa kamu? Dan ... bunyi apa yang mama dengar tadi?"


"Aku jatuh, Ma. Bunyi yang mama dengar itu, bunyi tubuhku yang jatuh dari kasur ke bawah. Ini ... pinggangku sangat sakit rasanya."


Sontak, ucapan Mila barusan sangat membuat hati Emily terasa geli. Dia pun tertawa lepas sambil melihat ke arah Mila.


"Ha ha ha .... Ya ampun, Mila. Apa sih yang kamu lakukan? Kenapa tiba-tiba bisa jatuh dari kasur sih, Nak? Ngigo kamu ya?" Emily berucap dengan menahan tawanya.


Mila pun langsung menatap kesal ke arah mamanya. "Tertawa .... Mama kok tega banget sih. Anaknya kesusahan, eh malah ditertawakan. Mama gimana sih?" tanya Mila kesal.


Masih dengan menahan tawa. Emily berusaha menenangkan amarah Mila. Dia pun langsung menghampiri Mila.


"Ya ... maaf. Mama kan merasa geli dengan apa yang baru saja terjadi padamu. Masa iya, bisa-bisanya kamu jatuh dari ranjang sendiri. Apa sih yang kamu pikirkan? Udah tidur kamu? Ngigo apa?"


"Aku belum tidur. Aku itu bahagia tadinya. Loncat-loncat di atas kasur. Eh tiba-tiba hilang kendali saat menginjak tepian kasur. Jatuh deh jadinya."

__ADS_1


Seketika, Emily langsung menatap serius wajah Mila. "Kamu ... bahagia? Bahagia karena apa? Katakan sama mama, Mil! Apa sih yang bikin hati kamu bahagia sekarang."


Mila seketika tertegun. Dia sedang berada dalam dilema saat ini. Dilema antara bicara atau tidak apa yang sudah dia lakukan pada kakak angkatnya. Karena, sang mama sebelumnya sudah tidak mengizinkan dia melakukan hal besar itu. Jadi, perasaan ragu langsung datang menterang hati saat mamanya bertanya.


__ADS_2