Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 49


__ADS_3

Dan pada akhirnya, setelah bosan bermain-main dengan mengiring mobil yang Jesi tumpangi, kedua mobil yang berasal dari orang suruhan Mila itupun menghentikan mobil yang Jesi tumpangi secepatnya.


"Turun! Turun kalian sekarang juga!" Seorang pria dengan badan kekar dan tangan penuh tato menggedor pintu mobil tempat di mana Jesi duduk.


"Turun sendiri! Jangan sampai aku mengulangi apa yang aku katakan. Kalian yang ada di dalam akan merasakan kemarahan ku jika tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Jangan buat aku memaksa kalian untuk turun," ucap pria tersebut lagi.


"Pak sopir, bagaimana ini? Mereka siapa? Apa yang mereka inginkan dari kita, pak?"


Jesi terlihat sangat ketakutan akan hal tersebut. Ingin melawan, itu tidak mungkin bisa dia lakukan. Karena dia hanya punya otak yang pintar, bukan otot yang kekar.


Sopir yang sudah berumur itu juga tidak bisa dia andalkan. Mana bisa si sopir melawan para preman yang bertubuh besar ini. Sekali pukul satu preman saja mungkin akan membuat si sopir tidak bisa bangkit lagi.


"Nona ... tunggu di dalam mobil saja. Biar saya yang akan turun tangan. Apapun yang terjadi, nona tidak boleh keluar," kata sopir itu dengan tegas.


"Tapi, pak. Bapak tidak akan mampu melawan mereka. Mereka ada empat orang, pak. Sedangkan bapak .... " Jesi mengantungkan kalimatnya. Dia ingin membuat si sopir berubah pikiran.

__ADS_1


Tapi sepertinya, si sopir itu begitu berani. Dia tidak mendengarkan apa yang Jesi katakan.


"Nona jangan hiraukan saya. Saya akan baik-baik saja. Sebaliknya, nona harus segera menyelamatkan diri setelah saya turun."


Tentu saja Jesi tidak setuju dengan apa yang sopirnya katalan barusan. Itu sama saja dengan si sopir yang mengorbankan nyawa hanya untuk menyelamatkan dia. Tapi lebih tepatnya, mengorbankan nyawa dengan sia-sia. Karena hal itu belum tentu akan berhasil.


Dilihat dari keadaan, apa yang sopir itu katakan sama sekali tidak bisa Jesi lakukan. Dia tidak akan membiarkan orang lain mengorbankan nyawa buat menyelamatkan nyawanya.


"Tidak bisa, Pak. Saya tidak akan melakukan apa yang bapak katakan. Tidak akan saya tinggalkan bapak sendirian di sini, pak."


"Nona Jesi, tolong dengarkan saya. Nyawa nona sangat berharga. Jika nona kenapa-napa, tuan muda Jonathan akan ... saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan tuan muda Jona jika nona kenapa-napa nona."


"Pak sopir, jangan pak. Saya tidak bisa membiarkan bapak celaka hanya karena saya."


Jesi tetap tidak bisa melakukan apa yang sopir itu katakan.

__ADS_1


"Nona. Saya melakukan hal itu bukan semata-mata demi nona. Tapi, demi tuan muda. Tuan besar dan tuan muda itu sangat berjasa besar dalam hidup saya. Mereka adalah penolong saya juga keluarga saya. Jadi, tolong selamatkan nyawa nona agar tuan muda baik-baik saja."


"Saya tahu bapak tidak melakukannya untuk saya. Tapi, saya tidak yakin kalau rencana ini bisa kita lakukan. Karena mereka ada empat orang. Bapak tidak bisa menghalangi mereka, pak. Tubuh mereka dengan tubuh bapak saja sudah kalah jauh. Mereka bisa menjatuhkan bapak dengan mudah," ucap Jesi dengan nada kesal yang dibuat-buat.


Dia ingin orang tua itu kesal padanya. Dan, jika kesal mungkin orang tua itu akan membatalkan rencana gila yang sekarang sedang mereka bicarakan. Karena meskipun demi Jona, dia tetap saja tidak ingin ada yang celaka hanya karena ingin menolong dirinya.


"Jangan bicara begitu, nona. Sebelum kita coba, mana kita tahu apa hasilnya." Sopir itu tetap saja bicara dengan nada yang penuh dengan seribu keyakinan.


Jesi benar-benar tidak punya cara lagi untuk membuat si sopir ini mendengarkan apa yang dia katakan. Semua hal yang dia pikir bisa, sudah dia coba dan hasilnya gagal total. Si sopir masih tetap dengan niatnya untuk mengorbankan nyawa buat Jesi.


"Tapi, Pak. Tolong ingat dengan anak juga istri bapak yang kini sedang menanti kepulangan bapak di rumah. Keluarga bapak pasti sangat membutuhkan bapak. Siapa yang akan membiayai hidup anak juga istri bapak jika pak sopir celaka."


Jesi masih tidak putus asa. Dia coba lagi cara terakhir yang dia punya. Sementara para preman itu semakin gencar meminta mereka membuka pintu mobil dengan nada yang semakin tinggi.


Pak sopir terlihat memikirkan apa yang Jesi katakan. Tapi, itu hanya sesaat saja. Karena detik berikutnya, dia masih tetap kekeh dengan apa yang dia pikirkan.

__ADS_1


"Jika saya harus meregang nyawa di sini. Saya minta tolong pada nona Jesi, katakan pada tuan besar, atau tuan muda, tolong biayai kehidupan istri juga anak saya. Setidaknya, sampai anak saya tumbuh remaja saja."


"Ap-- apa? Ja-- jangan gitu, pak." Jesi benar-benar sudah kehilangan pikiran sekarang. Ucapan pak sopir yang tidak masuk akan itu membuatnya hilang kewarasan selama beberapa saat.


__ADS_2