
Hari berlalu dengan cepat. Sekarang, satu minggu sudah Sean ada di rumah keluarga Kusuma. Setiap hari, dia akan menyempatkan diri untuk bicara dengan Jesi hampir di setiap waktu. Dia akan berusaha menemani Jesi dengan apapun alasan.
Marisa yang melihat hal tersebut merasa semakin terluka. Sementara Diana yang tahu bagaimana perasaan menantunya, hanya bisa mengelus dada.
"Maafkan mama, Sa. Mama tidak tahu lagi harus bicara apa dengan Sean. Mama sudah berusaha menasehatinya. Tapi ... yah, kamu tahu bagaimana Sean, bukan? Dia gak akan dengar nasehat dari kita."
"Aku tahu, Ma. Mungkin, dia akan dengar dengan baik. Tapi dia tidak akan mengikuti apa yang kita katakan. Aku cukup kenal siapa Sean dengan dangat baik kok, Ma. Mama tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku ... gak papa kok."
"Mama tahu apa yang kamu rasakan, Sa. Kamu pasti sakit hati. Tapi, tolong jangan marah sama Jesi ya, Sa. Dia tidak tahu apa-apa mengenai Sean." Diana berucap dengan nada cemas.
Marisa menoleh ke arah mama mertuanya. Dia tahu, mama mertuanya terlalu menyayangi anal mereka. Jadi, tidak ingin ada yang salah anggap.
"Mama tenang saja. Aku tidak akan menyalahkan Jesi kok, Ma. Karena aku lihat, dia juga sepertinya sangat tidak nyaman dengan ulah Sean. Dia selalu berusaha menghindar dari Sean. Tapi sayangnya, dia selalu gagal."
"Kamu benar, Sa. Sepertinya, mama harus segera bertindak. Mama tidak ingin anak-anak mama merasa tidak tenang berada di rumah mereka sendiri."
Keputusan sudah Diana bulatkan. Dia akan bicara dengan Indra prihal sikap Sean. Dia tidak ingin Jesi merasa tidak nyaman dengan ulah Sean. Karena itu, dia akan bicarakan hal tersebut dengan suaminya. Meski mungkin, Indra akan bersikap semakin dingin pada Sean, Diana juga tidak punya pilihan akan hal tersebut.
__ADS_1
Ketika Indra kembali ke rumah. Diana mengajak Indra ke kamar setelah beberapa saat Indra melepas lelah.
"Ada apa sih, Ma? Tumben kamu ajak aku bicara di kamar begini? Biasanya juga kan di ruang tamu aja."
"Jika aku ajak papa bicara ke kamar, itu tandanya, ada hal paling serius yang hanya kita berdua saja yang boleh tahu. Aku rasa, papa tahu hal itu, bukan?"
"Iya. Papa tahu."
"Sekarang, katakanlah masalah dengan siapa! Anak kita, atau pekerja kita?"
"Anak kita, Pah. Tepatnya, Sean. Anak angkat kita yang sepertinya selalu saja ingin dekat dengan Jesika. Mama tidak ingin Jesi merasa risih akan keberadaan Sean. Untuk itu, mama ingin papa menegaskan pada Sean, kalau Jesi itu adalah adiknya."
Indra terdiam. Seketika, wajah kesal tergambar dengan jelas di raut Indra. Hal tersebut langsung membuat Diana merasa tidak enak hati. Dia langsung memegang tangan Indra dengan cepat.
"Papa jangan marah pada Sean. Dia itu sedikit usil, bukan? Dia pikir, hal tersebut mungkin tidak akan mengganggu orang lain. Tapi ... dia tidak tahu apa yang orang lain rasakan. Dia hanya berusaha dekat, tapi caranya sedikit kelewatan."
Indra langsung melepas napas kasar, namun terdengar cukup pelan. "Mama ingin papa bagaimana? Sean anak mama. Jadi, papa ingin mama yang putuskan saja. Terserah pada mama ingin memperingatinya bagaimana. Selagi dia tidak membuat anak kita terluka, papa masih tidak akan ikut campur, Ma."
__ADS_1
"Sean juga anak kita, Pa. Jadi ... mama ingin menegaskan saja pada semua orang, kalau Jesi itu anak kita. Mama berharap, dengan penegasan itu, Sean selalu ingat siapa perempuan yang sedang berada di dekatnya."
Indra menatap bingung istrinya. Jujur, dia masih bingung dengan apa yang istrinya katakan barusan. Sedangkan Diana, dia yang tahu apa yang suaminya rasakan, langsung menarik napas dalam-dalam. Lalu, melepasnya secara perlahan.
"Papa belum paham apa yang mama katakan tadi?" tanya Diana sambil bangun dari duduknya.
"Yah, jujur saja, papa masih bingung, Ma."
"Begini, Pah."
Ternyata, Diana ingin mengumumkan pada publik, kalau Jesika adalah anak mereka. Awalnya, rencana ini sudah ada. Tapi, mereka ingin menunggu Jesi pulih dari amnesia ringan yang dia alami baru melakukan pengumuman itu.
Namun, sekarang Diana tidak ingin menunggu lagi. Karena kehadiran Sean yang mungkin akan menciptakan rasa tidak nyaman buat Jesi, membuat Diana takut akan posisi anaknya.
Dan, lagipula, Sean ini tipe pria yang tidak akan menyimpan nasehat dalam hati. Dia mendengarkan, tapi tidak akan menerapkan. Itulah Sean yang sesungguhnya.
Diana berharap, dengan pengumuman itu, Sean akan selalu sadar, kalau perempuan yang sedang dia dekati adalah adiknya sendiri. Meski adik angkat, tapi kedudukan Jesi akan tetap sama. Tidak akan bisa dia miliki.
__ADS_1