
Ya, dia adalah Jaka. Dia ditemukan oleh orang kampung yang ingin menangkap ikan di selat tersebut. Karena arus yang kuat, dia terseret jauh sampai ke kampung itu.
"Kamu ... sudah sadar?" tanya si gadis cantik dengan mata bening dan rambut hitam panjang bergelombang.
"A ... aku .... " Seketika itu pula, Jaka ingat dengan Jesi. Dia pun langsung memperlihatkan wajah panik seketika.
"Jesi! Jesi! Di mana diam?" Jaka berucap sambil tak karuan berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya.
Beruntung, gadis itu cukup kuat. Dengan lincah dan sangat lihai dia menahan Jaka agar tidak meninggalkan tempat tidur.
"Tenang dulu, tenang. Kamu baru sadar dari pingsan. Tubuh kamu masih sangat lemah."
"Aku tidak bisa tenang. Aku harus menyelamatkan Jesika. Dia .... " Jaka langsung menggantungkan kalimatnya. Dia tidak bisa melanjutkan ucapan karena ingat apa yang sudah terjadi pada Jesika.
Seketika, tubuh Jaka mendadak lemah. Tenaga yang memang belum kembali seutuhnya itu langsung menghilang seketika. Jaka pun hanya bisa mengisak saat ingat apa yang sudah dia dan Jesika alami entah beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Jaka menangis tanpa memperdulikan keberadaan perempuan cantik yang kini ada di sampingnya. Karena hati sudah terlalu sedih, jadi semua yang ada disekitar tidak bisa menjadi penghalang.
Sementara itu, gadis cantik jelita yang ada di dekat Jaka tentu saja ikut prihatin dengan apa yang sedang Jaka lakukan. Dia pun langsung menyentuh pundak Jaka dengan lembut.
"Kamu ... jangan menangis lagi. Aku yakin kalau perempuan yang bernama Jesi itu pasti baik-baik saja sekarang. Percayalah dengan keajaiban Tuhan. Berdoalah jika kamu ingin dia baik-baik saja, maka Tuhan akan kabulkan doa kamu."
"Ingatlah satu hal. Allah itu tidak tidur. Kamu selamat sekarang, mungkin juga karena doa orang yang sedang mengkhawatirkan keselamatan kamu. Jadi, aku sarankan untuk kamu tetap tenang. Dan, tetaplah semangat untuk pulih. Jika kamu cemas, maka berdoa saja. Insyaallah, perempuan yang bernama Jesi itu pasti akan baik-baik saja."
Sentuhan lembut yang diiringi dengan kata-kata yang menenangkan. Jaka langsung ingat akan Jesika ketika dia dengan bicara dengan perempuan ini. Jaka membuka tangan yang menutup wajahnya. Dia seka air mata yang masih mengalir.
Di sisi lain. Di tengah keramaian pusat kota yang megah. Tepatnya di dalam hunian mewah yang tiada tandingan di kota tersebut, sepasang suami istri sedang menatap wajah seorang perempuan yang masih terlelap dengan damai di alam bawah sadarnya.
Pasangan ini adalah, keluarga Kusuma. Pemilik perusahaan terbesar di kota ini. Dia juga dijuluki orang terkaya nomor satu di kota tersebut karena kekayaan yang dia miliki masih belum ada yang menandinginya.
"Ma, semakin lama aku menatap wajahnya, semakin aku merasa kalau dia itu sangat mirip kamu saat muda. Apakah ini hanya kebetulan saja, Ma?" Indra Kusuma Diningrat berucap pada istrinya dengan mata yang terus tertuju pada perempuan yang ada di depan mereka.
__ADS_1
"Benar juga, Pa. Apa yang papa katakan ini sangat-sangat benar. Mama setuju kalau dia ini emang mirip mama saat muda. Jika ini kebetulan, kebetulan yang seperti apa ini, Pa?"
"Tunggu! Apa dia .... "
"Mama. Jangan bicara sembarangan dong. Jangan buat harapan papa hampa."
"Gak bicara sembarangan kok, Pa. Aku hanya memikirkan sebuah kemungkinan saja."
"Coba deh papa pikirkan baik-baik. Kita temukan dia di sekitaran selat di mana anak kita pernah hilang puluhan tahun yang lalu. Dan sekarang, tepat di hari ulang tahunnya, kita malah menemukan seorang gadis yang wajahnya sama dengan aku saat muda. Jadi ... ini bagaimana mau menjelaskannya, Pa?"
Sang suami terdiam sambil menatap wajah istri yang ada di sampingnya. Seketika itu pula, dia ingat kejadian pahit yang mereka alami puluhan tahun yang lalu. Mereka kehilangan putri satu-satunya saat datang ke tempat tersebut.
Entah bagaimana caranya, saat mereka datang berkunjung ke vila pinggiran selat tempat mama Indra tinggal menyendiri, seseorang tiba-tiba melarikan putri mereka yang sedang berada dalam gendongan si pengasuh. Tentu saja Indra dan istrinya panik bukan kepalang. Mereka ingin mengejar, tapi sayangnya, kalah cepat dengan si penculik yang lari lewat jalur air yang cukup laju.
Berbulan-bulan pencarian di lakukan. Tapi sayangnya, tidak ada hasil sedikitpun. Anak mereka bak lenyap ditelan alam begitu saja. Jangankan petunjuk untuk menemukan, sedikitpun kabar berita tidak mereka dapatkan dari hasil jerih payah yang mereka lakukan. Begitu juga dengan si penculik. Dia juga ikut lenyap seperti tidak pernah ada di atas dunia sebelumnya.
__ADS_1