
Jona masih belum sadarkan diri setelah malam menjelang. Jesi tetap menemani Jona di kamar itu tanpa menghiraukan makan dan minum. Malahan, dia juga tidak beranjak dari kamar itu sejak kepergian dokter Dana meninggalkan kamar tersebut.
"Kenapa kamu yang sakit? Mereka yang berkhianat padamu, kenapa kamu yang dihukum? Dunia ini terkadang sedikit tidak adil, bukan?" Jesi berucap sambil memperhatikan wajah Jona dengan penuh rasa iba.
Wajah Jona yang tampan itu terlihat begitu menyentuh hati. Membuat Jesi tidak bisa meninggalkannya sedikitpun. Entah itu karena kasihan, atau juga karena perasaan yang mulai tumbuh. Yang jelas, Jesika tidak ingin beranjak karena hatinya sangat ingin berada di sisi Jona saat ini.
"Kau tahu? Aku juga mengalami hal yang sama sebenarnya. Tapi, kita berbeda, Jona. Kau masih punya orang yang sayang padaku sekeliling kamu. Berbeda dengan aku yang hidup sendiri. Seharusnya, kamu yang harus lebih bahagia dari pada aku. Sayang, kamu tidak bisa sedikit kuat."
Jesi lalu tersenyum manis.
"Hm ... aku tidak boleh berucap seperti itu padamu. Setiap orang itu berbeda, bukan? Aku bicara seperti itu karena aku tidak merasakan apa yang kamu rasakan. Jadi, sebagai sesama manusia, kita tidak bisa meremehkan apa yang manusia yang lain rasakan," ucap Jesi lagi.
Begitulah, Jesi terus bicara hingga malam semakin larut. Meskipun dia tidak mendapatkan tanggapan atas apa yang dia bicarakan, tapi dia merasa lega setelah bicara. Samapi akhirnya, Jesi merasa lelah dan terlelap dengan posisi duduk di samping Jona yang sedang terbaring.
....
Pagi menjelang dengan cepat. Jesi terbangun ketika dia merasa seseorang menarik tangan dari genggamannya. Siapa lagi kalau bukan Jona yang menarik tangan dari genggaman Jesi.
Jesi seketika mengangkat wajahnya. Mata mereka pun saling beradu untuk beberapa saat lamanya. Hingga pada akhirnya, sebuah suara yang jarang Jesi dengar menyentuh kuping Jesi dengan lembut.
__ADS_1
"Maaf."
Satu kata itu mampu membuat Jesi melongo. Dia tidak mampu menjawab ucapan itu, bukan karena tidak punya jawaban. Tapi, karena rasa tak percaya yang kini sedang memenuhi hatinya.
"Je-- Jesi. Maaf. Aku sudah menyulitkan dirimu."
"Jo-- na. Kamu ... kamu bicara barusan?"
"Kamu bisa bicara?" Jesi berucap lagi dengan wajah yang penuh kebahagiaan. Sangking bahagianya dia, sampai lupa kalau sebelumnya dia sudah pernah mendengar Jona bicara.
"Aku tidak bisu, Jesi. Tentu saja aku bisa bicara," ucap Jona pelan.
"Kamu ingin bilang kalau aku sakit, bukan?" Jona memotong cepat ucapan Jesika.
"Asal kamu tahu, yang sakit itu bukan pita suaraku, tapi mental ku." Jona berucap tanpa ragu mengakui apa yang sudah orang-orang katakan tentang dirinya.
Karena kata-kata barusan, Jesika segera memegang tangan Jona. "Bukan itu yang ingin aku katakan, Jona. Aku tidak ingin bilang soal kamu sakit apa."
"Lalu?"
__ADS_1
"Ya ... ya biasanya, kamu tidak pernah menjawab apa yang aku katakan. Dan, lagipula, pak Dimas bilang, kamu akan bicara jika kamu sangat ingin bicara. Seperti ... ada dorongan yang kuat dari dalam hatimu untuk bicara, baru kamu bicara."
"Apa ... apa sekarang, kamu punya dorongan yang kuat dari dalam hatimu, Jo? Maka dari itu, kamu bisa ajak aku bicara sekarang? Bicara panjang lebar seperti ini, Jo?"
Jesi seperti ibu-ibu yang bahagia karena mendapatkan diskon berbelanja delapan puluh persen saja. Tak henti-hentinya dia bicara dengan Jona tanpa memberikan kesempatan Jonathan untuk menjawab apa yang dia katakan.
Hingga pada akhirnya, sebuah senyuman membuat Jesika terpaku. Senyuman indah yang sangat menawan hati. Senyum itu bak cahaya yang tiba-tiba muncul di saat gelap gulita. Jesika terpaku, tidak bisa berbicara atau melakukan apapun selain menatap senyuman itu dengan seksama.
"Ka --kamu ... kamu ... bi-- bisa ... seny-- um, Jo?" Sangking tak percayanya Jesika dengan senyuman itu, dia sampai tidak bisa bicara dengan lancar.
"Kenapa? Apa aku salah karena senyum, Jesi? Apa kamu pikir aku tidak bisa senyum? Aku masih punya perasaan, meskipun aku sakit mental."
"Jo, bukan begitu. Aku .... "
"Lupakan saja. Apapun yang kamu pikirkan tentang aku itu hak mu."
"Untuk ... aku yang selama ini tidak bicara, itu bukan karena aku tidak punya dorongan yang kuat. Tapi, aku sengaja tidak ingin bicara."
"La-- lalu ... se-- karang? Kenapa kamu ajak aku bicara? Padahal, selama kita bertemu aku sibuk bicara sendirian." Jesi memasang wajah kesal sekaligus penasaran dengan tatapan lekat ke arah Jona.
__ADS_1