
Sementara itu, Emily bergegas berjalan menuju kamar Mila. Awalnya, ketika pintu di ketuk oleh Emily, Mila ingin pura-pura tidak mendengar. Tapi saat tahu kalau papa Jona yang datang, Mila bergegas membuka pintu untuk mamanya.
"Apa, Ma? Pak Wijaya? Pak Wijaya ... papanya Jonathan?" tanya Mila dengan mata yang berbinar karena bahagia.
"Iya. Wijaya papanya Jonathan. Siapa lagi kalau bukan dia?"
Mila langsung tersenyum lebar. Satu hal yang dia pikirkan saat ini adalah, kedatangan pala Jona ke rumahnya hanya untuk menjemput dia. Seperti yang sudah Sesilia janjikan. Menggantikan posisi Jesika dengan dirinya sebagai istri dari Jonathan Wijaya.
Melihat Mila yang senyum bahagia. Emily sontak langsung kebingungan. Dia menyipitkan matanya sambil menatap Mila.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Mila?"
"Apa yang kamu pikirkan? Ayo cepat ke ruang tamu sekarang juga! Jangan buat pak Wijaya menunggu lama. Karena .... "
"Mama tenang saja. Sekarang, pak Wijaya sudah datang sendiri untuk bertemu dengan aku. Kedatangannya ini aku yakin akan mengubah hidup kita jadi lebih baik lagi."
Mila berucap sambil terus tersenyum karena memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.
Sementara Emily, dia makin dibuat bingung dengan apa yang Mila katakan.
__ADS_1
"Apa yang kamu bicarakan barusan ini, Mila? Jangan bicara yang tidak-tidak. Cepat temui pak Wijaya atau dia akan marah padamu. Mama tidak ingin kamu menambah masalah lagi sekarang Mila."
"Santai, Ma. Pak Wijaya tidak akan marah padaku. Melainkan sebaliknya. Dia pasti datang untuk menjemput aku buat menggantikan Jesi. Dia akan menikahkan aku dengan Jona, Ma."
Saat itu pula, Emily langsung membulatkan mata karena angan-angan yang Mila punya.
"Apa? Kamu pikir kamu akan mereka nikahkan dengan anak mereka, Mila? Mimpi kamu, Mila!" Emily bicara dengan nada yang penuh dengan penekanan.
"Kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan sekarang? Vidio buruk mu telah tersebar luar. Sebagian masyarakat kota ini mungkin sudah sangat kenal dengan wajah kamu karena vidio buruk mu itu. Tidak menutup kemungkinan kalau mereka juga tahu soal itu, Mila."
"Jadi, mama sarankan untuk kamu jangan terlalu banyak bermimpi. Karena itu akan membuat kamu merasa sakit sendiri. Kamu paham?"
Ucapan Emily yang panjang lebar itu membuat Mila jadi emosi. Dengan tatapan tajam, dia tatap Emily yang ada dihadapannya.
"Apa yang kalian bicarakan sampai membuat Tuan besar kami menunggu lama. Kalian tidak tahu, waktu tuan besar kamu cukup berharga. Tidak hanya untuk dihabiskan buat kalian," ucap salah satu pria berbaju serba hitam yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang Emily.
Baik Emily dan Mila, mereka berdua terlihat sama-sama menahan kaget. Tapi, tidak bisa berucap apa-apa selain beranjak meninggalkan tempat masing-masing buat menuju ke ruang tamu.
Sampai di ruang tamu, Mila ingin menyambut papa Jona dengan hangat. Namun sayangnya, sambutan itu tidak dianggap sama sekali oleh papa Jona. Dia malah bicara dengan nada kesal pada Mila.
__ADS_1
"Duduk!"
"O-- om. Itu .... "
"Mila. Aku tidak ingin berbasa-basi lagi dengan kamu. Aku ingin langsung pada pokok permasalahan kenapa aku bisa datang sendiri ke rumah kalian ini."
"Iya, Om. Silahkan." Saat ini, Mila masih berpikir hal baik untum dirinya. Karena itu, dia masih terlihat tenang dan masih sangat santai.
"Mila! Katakan dengan jujur, di mana Jesika saat ini. Aku mungkin akan mempertimbangkan kejujuran mu ini jika kamu bersedia menjawabnya dengan sangat jujur."
Nah. Sekarang, Mila pun langsung memasang wajah panik akibat apa yang papa Jona tanyakan padanya barusan. Dia pun terlihat gelisah. Berusaha memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut.
Sebisa mungkin, Mila memperlihatkan kalau dia sedang tidak gugup alias sangat tenang saat ini. Walau pada dasarnya, dia sedang sangat cemas sekarang.
"Apa yang om katakan sih? Aku ... aku sungguh tidak tahu apa-apa soal Jesika. Bagaimana mungkin aku tahu di mana Jesi? Tahu dia hilang saja tidak."
"Kamu yakin kalau kamu tidak tahu hal itu, Mila? Sedangkan sekarang, Sesilia istriku sudah mengakui semuanya. Semua yang kalian lakukan malam itu, dia sudah mengakui semuanya Mila. Dan, lagian ada saksi yang mendengar kalian bicara malam itu."
Seketika, baik Mila maupun Emily langsung memasang wajah kaget yang luar biasa. Mila yang awalnya duduk, sontak langsung bangun dari duduknya. Wajah pura-pura tidak terjadi apa-apa itu sekarang sudah lenyap. Kini yang ada hanya wajah panik.
__ADS_1
"Tidak mungkin! Tante Sesilia tidak mungkin begitu bodoh sampai mengakui semua yang telah dia lakukan. Dasar sialan! Kenapa dia tidak bisa bertahan menyimpan rahasia," ucap Mila tanpa bisa menahan kemarahannya.
Saat itu, kebohongan yang papa Jona buat ternyata membuahkan hasil. Terbukti kalau Mila langsung mengakui kesalahan yang dia perbuat meski tidak secara langsung.