
Indra pada akhirnya menyerah meski sang istri tidak setuju dengan keputusan yang dia ambil, tapi dia tetap menutup kasus kehilangan sang anak dengan berat hati. Karena telah berbulan-bulan bahkan hampir menginjak tahun, satu kabar pun tidak mereka dapatkan dari hasil pencarian yang mereka lakukan.
Dan ... sekarang, setelah puluhan tahun tidak pernah memikirkan untuk mencari tahu soal keberadaan putri mereka. Akhirnya, datang seorang perempuan yang mereka temukan di tempat yang sama dengan tempat menghilangnya si buah hati.
Kedatangannya membuat hati mereka merasakan kehangatan dari keutuhan keluarga. Meski tidak tahu latar belakang perempuan tersebut, tapi mereka bisa merasakan ikatan dari sebuah keluarga dengan kehadiran perempuan ini.
Diana, istri dari Indra Kusuma Diningrat. Dia langsung menyentuh pelan pundak suaminya yang kini masih terhanyut dalam lamunan akan perempuan yang sedang berada di hadapan mereka saat ini.
"Ada apa, Pa? Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu memikirkan soal kejadian pahit puluhan tahun yang lalu?"
Indra tersenyum datar. Dia ingin melupakan hal tersebut tapi tidak bisa. Dia ingin berbohong pada istrinya sekarang, tapi sama saja, itu tidak bisa dia lakukan.
"Aku ... maaf, Ma. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga putri kita. Maafkan aku yang sudah menjadi penyebab kamu menderita karena kehilangan. Aku ... aku sungguh tidak layak jadi seorang papa."
"Pah, ini bukan salah kamu. Mama yang tidak suka padaku, itu tidak ada kaitannya dengan kamu. Dia benci aku sepenuhnya. Jadi, saat tahu aku melahirkan putri buat kamu, maka dia semakin tidak suka aku lagi. Karena dia ingin kamu punya anak laki-laki, bukan?"
__ADS_1
Yah, dua puluh tahun setelah kejadian itu, Indra dan Diana baru tahu kalau kehilangan anak mereka adalah ulah mama kandung Indra. Pernikahan yang tidak direstui adalah pokok permasalahan yang menjadi pemicu kejahatan itu terjadi.
Mama Indra benci Diana. Karena itu, dia tidak pernah menganggap Diana sebagai menantunya. Dan, mama Indra menginginkan Indra memiliki anak laki-laki. Setelah Diana melahirkan anak perempuan, kebencian mama Indra pada Diana semakin membesar.
Dia dikabarnya menyewa seseorang untuk melenyapkan anak Diana. Karena anak dia, tidak akan pernah ia akui sebagai cucunya. Dan, untuk membalas dendam pada Diana karena telah ia anggap sebagai perempuan Indra darinya, mama Indra pun menyingkirkan cucunya dari anak juga sang menantu.
Kejahatan itu baru di ketahui setelah dua tahun mama Indra meninggal. Sayangnya, bukti yang mereka temukan tidaklah akurat. Bukti yang tertulis di buku diary sang mama itu hanya sebatas menjelaskan tentang kejahatan yang membuat hatinya puas karena telah berhasil. Tanpa ada petunjuk lain yang bisa membawa mereka bertemu dengan anak kandung mereka sama sekali.
Hati kembali pupus. Harapan yang ada kembali musnah. Kesedihan pun kembali menguasai hati. Apalagi untuk Diana yang tahu kalau itu adalah ulah sang mama mertua. Namun, setiap hari tepat dihari kelahiran putri mereka. Diana dan Indra masih tetap melakukan apa yang mereka lakukan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ingatan masa lalu membuat buliran bening perlahan jatuh dari pelupuk mata Diana. Indra yang melihat hal itu, langsung bergerak cepat menyeka buliran tersebut. Lalu, ia pun segera menarik tubuh sang istri untuk dia bawa ke dalam pelukannya.
"Tolong jangan menangis, Ma. Air mata yang kamu tumpahkan membuat aku semakin merasa bersalah karena tidak bisa melindungi kamu dan anak kita dari mama. Aku .... "
Indra langsung menggantungkan kalimatnya. Karena saat ini, dia juga tidak tahu harus bicara apa. Karena saat ini, dia juga sedang merasakan kesedihan yang istrinya rasakan.
__ADS_1
Mereka pun saling berpelukan sebagai obat pelepas rasa sedih yang sedang mereka rasakan. Sama-sama menikmati kehangatan yang tercipta dari pelukan itu.
Namun, selang beberapa saat kemudian, Diana tiba-tiba melepaskan pelukan Indra dengan kasar. Hal itu tentu membuat Indra langsung tersentak kaget.
"Ada apa, Ma?" Indra bertanya dengan wajah kebingungan dengan mata yang tertuju pada Diana.
"Pa, aku punya satu firasat yang mungkin ini adalah firasat seorang ibu. Aku ingin kamu mencari tahu latar belakang perempuan ini, Pa. Lakukan juga tes DNA untuk membuktikan firasat yang aku rasakan ini. Lakukan secepatnya." Diana berucap dengan mata yang berbinar-binar karena bahagia.
"Maksud mama ... mama punya firasat kalau ini adalah anak kita, Ma? Benarkah begitu?" Indra berucap dengan nada yang tak kalah antusias dari Diana.
Dia tersenyum lebar. Lalu, dia memberikan anggukan pelan sambil mata yang menatap lekat ke arah suaminya.
"Iya. Mama punya firasat begitu. Karena sejak awal bertemu. Mama sudah merasakan kalau dia dan mama terasa sangat dekat sekali. Seperti ... sudah sering bertemu sebelumnya."
"Baiklah. Kalau itu yang mama katakan, maka papa akan dukung apapun yang mama katakan. Papa akan selalu mengikuti apapun yang mama katakan."
__ADS_1
Keduanya pun berpelukan kembali. Dengan hati yang dipenuhi harapan, mereka sama-sama tersenyum dan melihat ke arah perempuan yang masih terlelap di hadapan mereka saat ini.