Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 77


__ADS_3

Indra lalu menyentuh pelan pundak Diana. Karena sang istri terdiam cukup lama memikirkan prihal tentang anaknya yang masih bayi.


"Sayang, apa lagi yang kamu pikirkan? Apa ... kamu memikirkan soal nama yang aku katakan tadi?"


"Ma, tidak perlu cemas. Jika mama memang sudah bersedia memberikan dia nama dengan nama yang sama saat dia masih bayi, maka berikan saja. Lagian, kita juga tidak tahu orang tua angkatnya memanggil dia dengan nama apa, bukan?"


Diana melirik sang suami.


"Papa benar. Panggil dengan nama saat dia masih bayi saja. Setidaknya, sampai dia ingat siapa dia yang sebenarnya."


Keputusan diambil dengan kesepakatan dari keduanya. Sepasang suami istri itu terlihat sangat bahagia dengan kehadiran anak mereka. Meski anak mereka tidak tahu siapa dirinya saat ini, tapi kembalinya sang anak adalah berkah yang paling luar biasa buat Indra dan Diana.


Mereka berdua berencana untuk mengumumkan kepulangan si anak setelah ingatan anaknya kembali. Karena dengan begitu, semua masalah yang mereka cemaskan tidak akan bisa menganggu kebahagiaan sang anak lagi nantinya.


Sementara itu, Jaka yang sekarang sudah sembuh total, berniat untuk pulang ke rumah. Dengan hati yang penuh harap kalau si adik angkat sudah kembali ke keluarganya.


"Kamu yakin untuk kembali ke keluargamu, Mas?" tanya Junika, anak ketua kampung yang selama ini sudah menjaga dan merawat Jaka dengan sangat baik.


"Ya, Nik. Aku yakin."

__ADS_1


Jaka menjawab dengan tatapan yang penuh semangat. Ada kebahagiaan dari tatapan itu saat dia bicara soal kepulangannya ke rumah.


Sementara Junika yang melihat ekspresi bahagia dari pemuda yang kini sudah mencuri hatinya, tentu merasa sangat sedih. Bagaimana tidak? Si pemuda yang sudah selama ini memberikan warna buat hidupnya, kini akan pergi. Meninggalkan dirinya sendirian. Membawa hatinya pergi begitu saja tanpa ada kepastian yang nyata.


Wajah sedih yang Junika perlihatkan membuat Jaka sedikit canggung. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya perempuan itu pikirkan. Tapi wajah sedih itu, cukup terlihat dengan jelas.


"Kamu ... kenapa, Nik? Ada yang salah dengan apa yang aku katakan tadi?" Jaka berucap sambil bangun dari duduknya. Saat ini, mereka sedang berada di perkebunan belakang rumah yang keluarga Nika punya.


"Tidak ada yang salah, Mas. Hanya saja ... aku sedikit tersentuh saat memikirkan sebuah perpisahan. Karena perpisahan itu selalu menyisakan luka yang mendalam. Seperti kepergian mama waktu itu. Sangat sakit rasanya," ucap Nika lagi dengan nada yang semakin melemah.


Jaka yang paham apa yang Nika maksudkan, kini langsung menggenggam lembut tangan si gadis. "Perpisahan antara aku dengan kamu itu gak sama lho, Nik. Aku pergi untuk melihat keadaan keluargaku. Sedangkan mama kamu .... "


Junika memang tidak punya mama. Karena mamanya sudah pergi menghadap ilahi saat dia masih remaja. Saat ini, dia hanya tinggal dengan ayahnya yang memang seorang duda.


Sang ayah tidak bersedia menikah lagi. Karena cinta yang dia punya terlalu besar, meski dia masih muda, dia malah memilih menjaga anaknya sendirian saja.


Junika bukan anak yang egois. Dia sudah berulang kali meminta ayahnya untuk mencari pengganti sang bunda yang telah pergi. Tapi, ayahnya menolak dengan penolakan yang halus. Karena cinta, dia bilang tidak bisa menggantikan istri yang sudah pergi.


.....

__ADS_1


Pada akhirnya, Jaka tetap meninggalkan rumah Junika. Meski si gadis terlihat sangat tidak rela, tapi Jaka tetap harus pergi. Karena tujuannya saat ini adalah, mengetahui bagaimana keadaan keluarga yang sudah lebih dari satu bulan ia tinggalkan.


Sebelum dia pergi, Jaka sempat mengatakan kalau dia akan kembali pada Nika. Namun, gadis itu tetap terlihat sedih walau sudah dijanjikan dengan janji kembali oleh Jaka. Maklum, jika cinta sudah berlabuh, maka hati tidak akan ingin berpisah.


Dua hari perjalanan, Jaka akhirnya tiba di kediamannya. Rumah itu sepi tanpa penghuni. Hal tersebut membuat Jaka sangat bingung dengan keadaan situasi yang sangat tidak biasa.


Jaka yang bingung pun tiba-tiba di datangi oleh seorang tetangga. Tetangga yang awalnya memperhatikan dia dengan seksama selama beberapa saat lamanya dari kejauhan.


"Mas Jaka!" Ibu-ibu itu terlihat cukup bersemangat saat menyapa Jaka.


"I-- ibu ... Sari."


"Ya ampun, Mas Jaka. Akhirnya, mas Jaka kembali juga, Mas. Ya Tuhan ... kemana aja kamu selama ini, Mas? Apa .... "


"Tunggu! Kamu benar-benar Mas Jaka, kan? Bukan arwah penasaran atau .... "


"Ya Tuhan, bu. Saya masih hidup kok. Masa ibu bilang saya arwah penasaran."


"Ah, iya juga ya. Mana ada arwah yang datang terlambat, Mas."

__ADS_1


Untuk beberapa saat, Jaka mendadak dikerumuni oleh orang-orang komplek dan para tetangga yang ada di sekitar rumahnya. Mereka sibuk menanyakan keadaan Jaka. Kenapa lama menghilang, dan sebagainya seputar tentang Jaka yang lenyap mendadak waktu itu.


__ADS_2