
Hal itu berhasil. Terlihat wajah kesal dan bingung yang papa Jona perlihatkan saat ini begitu jelas. Papa Jona benar-benar berada dalam dilema. Antara kebohongan juga kebenaran, dia merasa tidak tahu ingin percaya pada siapa.
"Cukup ...! Kenapa malah kalian berdua yang berdebat sekarang!? Aku ingin tahu sebuah kebenaran. Imah! Katakan yang lebih jelas semua yang kamu ketahui tentang Jesi dan istri aku ini."
Tentu saja hal tersebut langsung membuat mama Jona kaget bukan kepalang. Apa yang dia pikir akan berhasil. Eh, malah tidak ada pengaruhnya barang sedikitpun. Sekarang, papa Jona malah lebih ingin tahu kebenaran tentang Jesi dari pada apa yang dia katakan.
'Sialan! Pengaruh Jesika terlalu kuat buat papa. Tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Kalau papa lebih memilih mendengarkan Imah. Tidak! Ini tidak bisa aku biarkan terjadi. Imah mungkin memang tahu sesuatu tentang semua yang telah aku lakukan pada Jesi. Untuk itu, dia harus aku hentikan.'
"Tapi, Pa. Dia .... "
"Mama diam! Papa ingin dengar apa yang Imah ketahui semua tentang Jesi."
"Imah! Katakan semuanya sekarang juga!"
"Itu .... "
"Tidak! Agh! Kepalaku ... sakit. Sakit sekali."
__ADS_1
Seakan tidak ada habisnya akal jahat yang mama Jona punya. Sekarang, dia malah tetap bersandiwara dengan memperlihatkan kalau dia sedang sangat kesakitan. Sambil memegang kepalanya, mama Jona terus berteriak keras.
Akting itu dia mainkan agar Imah tidak jadi bicara pada suaminya. Dan, sepertinya dia berhasil sekarang. Perhatian kedua orang yang ada di dekatnya ini langsung teralihkan dengan teriakan kesakitan yang dia perdengarkan saat ini.
"Mama! Apa yang terjadi, Ma?" Papa Jona langsung menghampiri Sesilia dengan cepat. Dia langsung menahan tubuh Sesilia yang hampir terjatuh akibat sakit yang dia derita.
"Nyonya. Apa yang terjadi, nyonya? Kenapa bisa kesakitan seperti ini?" Imah juga ikutan panik.
"Agh! Ke ... palaku, Pah. Kepalaku sakit sekali. Seperti ditusuk-tusuk dengan jarum besar. Sakit .... " Sesilia merintih dengan sangat serius. Seolah-olah, itu nyata. Rasa sakit yang dia buat pura-pura. Sangat terlihat luar biasa dan sangat nyata.
"Ya Tuhan. Kamu tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Kenapa sekarang bisa jadi seperti ini, Ma?"
"Papa tidak tahu, itu karena papa tidak pernah memperhatikan aku, Pa. Papa sangat sibuk dengan urusan papa sendiri," ucap Sesilia dengan nada lemah yang terdengar sangat sedih.
"Papa sangat minta maaf akan hal itu, Ma. Lain kali papa akan menyisihkan waktu untuk mama."
"Tidak perlu, Pa. Mama sudah terbiasa sendiri. Jadi, papa tidak perlu repot-repot nyiapin waktu untuk mama. Bentar lagi, mama juga akan pergi buat selama-lamanya dari papa dan dari kalian semua."
__ADS_1
Sesilia semakin memancing rasa bersalah buat hati suaminya. Dia juga berpikir, itu akan mampu membuat hati semua orang kasihan dengan nasib malang yang dia alami.
"Jangan bicara seperti itu, Ma. Mama pasti akan baik-baik saja," ucap papa Jona dengan wajah prihatin sambil menggenggam tangan istrinya yang kini sedang terbaring di atas ranjang dengan wajah lemas.
Wajah itu membuat Sesilia tertawa dalam hati. Dia sangat bahagia dan merasa kalau dia sudah menang sekarang. Tapi sayangnya, setelah beberapa menit berada di samping Sesilia, papa Jona terlihat ingin meninggalkan Sesilia bersama dokter yang kini telah berada di dalam kamar tersebut.
Tentu saja Sesilia tidak menginginkan kepergian suaminya. Karena kepergian itu mungkin akan membuat usahanya yang besar akan sia-sia saja.
"Mau ke mana, Pa? Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini." Sesilia berucap sambil memegang tangan suaminya dengan cepat.
"Kamu tidak akan sendirian, Ma. Ada Dana di sini, bukan? Lagian, papa pergi gak lama kok. Cuma sebentar saja. Papa akan kembali."
"Nggak, Pa. Tolong jangan pergi, mama gak mau papa pergi. Mama ingin bersama dengan papa sekarang. Mama mohon," ucap Sesilia dengan wajah memelas.
"Tenang, Ma. Gak akan lama. Sebentar saja ya," ucap papa Jona sambil melepas cengkraman tangan Sesilia dari tangannya.
Mau tidak mau, Sesilia terpaksa menerima hal tersebut. Dengan wajah kesal, dia paling kan wajahnya dari si suami. Tentu saja hal tersebut tidak ada pengaruhnya bagi papa Jona. Dia tetap pergi dengan mengajak Imah ikut bersamanya.
__ADS_1
Sesilia ingin berontak. Tapi ... dia tidak bisa melakukan hal tersebut ketika tangannya Dana pegang dengan erat. Jika dia bangun, dan langsung pergi. Maka sandiwara yang sudah dia lakukan akan terbongkar. Dia terpaksa pasrah saat ini. Sambil berbaring, dia berusaha memikirkan cara agar suaminya tidak percaya dengan apapun yang pelayan pribadinya yang sudah berkhianat itu katakan.