
"Mila!"
"Apa, Ma! Mama tidak terima dengan apa yang aku katakan? Mama .... "
Ucapan Mila tertahan saat Emily mengangkat tangan dan bersiap-siap untuk menamparnya karena apa yang dia katakan barusan. Tapi, Mila yang manja itu tentu saja tidak punya sopan santun lagi sebagai anak. Terlalu memanjakan anak, Emily kini merasakan kerugian untuk dirinya sendiri.
"Kenapa mama tidak jadi menampar aku, Ma? Tampar aku, Ma! Tampar! Jika itu yang bisa membuat hati mama puas, ayo tampar!" Mila malah menantang Emily dengan lantang.
"Mila. Papa kamu benar selama ini ternyata. Aku telah salah mendidik anak. Buktinya, kamu jadi manusia yang tidak berguna. Sekarang, aku kehilangan Jaka, sekaligus juga kehilangan Jesika. Kedua anak itu sesungguhnya jauh lebih baik dari pada kamu, Mila."
Mata Mila membulat akibat pujian yang pertama kali mamanya ucapkan untuk Jesika. Tidak masalah jika itu untuk Jaka. Tapi jika untuk Jesika, sampai matipun dia tidak akan rela mendengarkan mamanya memberikan pujian.
"Mama puji Jesika sekarang, Ma? Mama puji anak angkat yang tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga kita? Mama ... agh!"
"Aku benci mama! Aku benci kalian semua!" Mila langsung berteriak dengan sangat keras. Setelah itu, dia berlari meninggalkan Emily yang terdiam mematung. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Jesika memang jauh lebih baik dari kamu, Mila. Sekarang, aku baru menyadari hal itu. Tapi, semua itu juga bukan salah kamu sebenarnya. Yang bisa di salahkan saat ini adalah aku, karena aku yang mendidik kamu. Sementara Jesi, dia dididik dengan baik oleh papa kamu. Sehingga, dia tumbuh jadi anak yang lemah lembut dan penyayang."
__ADS_1
"Tidak sekalipun dia pernah bicara kasar padaku selama dia hidup bersamaku. Walau, dia selalu aku perlakukan dengan tidak adik, juga dengan sangat tidak baik di rumah ini."
Emily bicara dengan nada yang penuh penyesalan. Memang benar apa yang orang katakan. Sadar akan kehilangan sesuatu itu, setelah orang tersebut tidak lagi berada di dekat kita.
Dan sekarang, Emily menyesali apa yang telah dia lakukan sebelumnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki semua yang telah terjadi. Karena semua itu, sudah berjalan dengan cepat layaknya orang yang telah berlari. Dia yang hanya berjalan tertatih-tatih, tidak akan mampu mengejar.
Hidup Emily saat ini benar-benar hancur. Perusahaan yang dia kelola dengan susah payah setelah kepergian suaminya, kini sepertinya tidak akan tertolong lagi. Perusahaan itu sudah hancur karena tidak bisa dia urus dengan baik.
Mana kala saat ini dia sedang sibuk dengan masalah yang datang bertubi-tubi menghujani hidupnya. Belum juga satu masalah selesai, dia malah mendapatkan masalah baru. Mana punya waktu Emily mengurus perusahaan yang kini berada di ambang kehancuran.
Sementara itu, papa Jona sedang mengumpulkan semua bukti atas keterlibatan Mila dengan hilangnya Jesi. Dia pun membawa beberapa orang untuk mendatangi kediaman Mila.
Papa Jona sudah membulatkan tekat untuk memaksa Mila bicara bagaimanapun caranya. Dia akan membuat gadis itu membuka semua yang sudah mereka lakukan atas Jesika.
Ketika pintu rumah tersebut diketuk, Emily yang sedang berduka itu masih duduk manis di atas lantai. Dengan malas, dia memaksakan diri untuk membuka pintu. Karena saat ini, di rumah mereka tidak ada lagi pembantu yang bekerja. Hanya ada mereka berdua yang hidup dalam keadaan serba kekurangan.
"Tunggu sebentar!" ucap Emily sambil menyeka bekas air mata yang ada di pipinya.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari orang yang mengetuk pintu. Emily pun bergegas membuka pintu tersebut dengan hati yang sedikit gugup.
Pintu terbuka lebar. Dari pintu itu langsung terlihat wajah kesal papa Jona yang memberikan tatapan tajam ke arah Emily.
"Pak .... "
"Di mana Mila? Apakah dia ada di rumah? Jika ada, tolong panggilkan Mila sekarang juga," ucap papa Jona bicara langsung tanpa menunggu Emily berbasa-basi terlebih dahulu.
Sontak saja, Emily langsung memperlihatkan wajah bingung juga kaget.
"Mi-- Mila? Ada apa pak Wijaya ingin bertemu dengan Mila? Apa .... "
"Panggilkan saja jika ada. Jangan buang-buang waktu saya karena saya masih punya banyak urusan yang lain lagi."
"Ba-- baiklah. Tung-- tunggu sebentar. Mila ada di kamarnya. Biar saya panggilkan terlebih dahulu. Oh ya, silahkan masuk dan menunggu di ruang tamu."
Tidak ada jawaban dari papa Jona. Namun, papa Jona ini bukan pria yang keras. Dia tidak menjawab dengan kata-kata, tapi dia mengikuti apa yang Emily katakan. Beranjak masuk ke dalam dengan langkah pelan, lalu menduduki pantat di atas salah satu sofa.
__ADS_1