
Jona angkat televisi itu tinggi-tinggi. Lalu, dia banting televisi tersebut dengan keras. Brak! Satu televisi dengan layar tiga puluh inci berserakan di lantai.
Para pelayan yang ada di sana juga ikut berteriak karena takut dan kaget. Selanjutnya, Jona bangun dengan tangan yang menitikkan darah segar.
Saat ini, pelayan yang panik, sudah hampir pingsan karena ketakutan. Bagaimana tidak? Ketika bangun, Jona memberikan tatapan tajam ke arah para pelayan. Jadi, siapa yang tidak takut dengan pria yang seperti ini coba?
Saat itulah, papa Jona datang bersama pak Dimas juga dokter Dana. Jika Jona sudah seperti ini, tidak ada cara lain selain memberikan dia obat penenang. Karena ucapan, tidak akan ada gunanya. Tidak akan berlaku buat Jonathan yang sudah ngamuk.
Obat penenang Dana berikan dengan langkah sigap. Meski merasa kasihan, tapi ini harus di lakukan.
Beberapa saat kemudian, obat itu berjalan sesuai keinginan. Jona pun melemah. Dan pada akhirnya, jatuh terkulai.
Papanya juga pak Dimas dengan sigap menahan tubuh Jona agar tidak jatuh ke lantai. Lalu, mereka memindahkan tubuh Jona ke kamarnya kembali.
Di kamar, Dana dengan cekatan langsung mengobati tangan Jona yang terluka. Begitu banyak goresan, yang bekas memar yang terlihat masih berdarah.
"Om, apa om sudah melihat beritanya?" Dana bertanya sambil terus mengerjakan tugasnya mengobati Jona.
__ADS_1
"Sudah."
"Aku sarankan, Om segera menemui Jesika itu. Jika tidak, keselamatan Jonathan makin membuat kita khawatir."
"Tapi ... apakah itu benar-benar Jesi? Bagaimana kalau Jesi sengaja tidak ingin bertemu dengan Jonathan, Dan?"
Dana langsung menatap papa Jona.
"Kita coba saja dulu, Om. Keselamatan Jona sedang kita pertaruhkan saat ini soalnya."
"Ya Tuhan." Pak Dimas langsung memasang wajah cemas sambil mengusap kasar wajahnya.
"Tuan besar. Apa yang dokter Dana katakan ini benar adanya. Sebaiknya, kita coba datangi nona Jesika sekarang juga." Pak Dimas berucap dengan nada penuh dengan seribu keyakinan.
Ucapan pak Dimas barusan membuat papa Jona langsung melihat ke arah di mana pak Dimas berada.
"Sekarang? Apakah kamu tidak tahu di mana dia berada saat ini?" Papa Jona berucap dengan perasaan tak percaya.
__ADS_1
"Tuan besar, jika kita tidak bergerak sekarang, maka kita tidak tahu apakah kita punya kesempatan bertemu nona Jesi atau tidak lagi. Karena kita semua tahu di mana dia berada saat ini, bukan?"
Papa Jona paham apa yang pak Dimas katakan. Karena itu, dia langsung menarik napas dalam-dalam, lalu melepasnya secara perlahan.
"Baiklah, jika tidak ada pilihan lain lagi. Akan aku lakukan apapun untuk kebaikan Jona. Demi Jona, walau aku akan berhadapan dengan si Indra atau seluruh keluarganya sekalipun, aku tetap akan melakukannya."
Ungkapan yang penuh dengan semangat itu membuat Dana dan pak Dimas tersenyum lebar. Mereka bahagia karena saat ini, ada sedikit harapan yang sudah muncul di depan mereka. Meskipun harapan itu tidak pasti, tapi setidaknya, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Secepatnya, papa Jona meninggalkan kediaman mereka. Dia bergegas pergi ke tempat di mana acara pesta penyambutan Jesi berada. Dengan di temani pak Dimas tentunya, papa Jona pergi dengan penuh harap.
Sementara itu, di penjara juga sedang menyaksikan berita besar tentang Jesi. Mila yang mendengar kabar besar itu, tentu tidak bisa bicara apapun. Dia hanya melongo karena tak percaya. Perasaan iri pun kini telah mati dari dalam hati Mila.
Sungguh, kabar itu membuat dia seperti ingin menghilang dari muka bumi secepatnya. Karena sejak awal, Jesi sudah mendapatkan semua yang tidak ia dapatkan. Kepintaran, kecantikan, bahkan, kasih sayang yang seharusnya dia miliki, tapi malah Jesi yang dapatkan semuanya.
'Ya Tuhan ... kenapa dunia ini sangat tidak adil padaku? Jesika ... dia ... tidak! Ternyata dia anak orang terkaya di kota ini. Jika dia dibandingkan dengan aku, akulah yang paling menderita. Tapi ... tapi kenapa dia yang malahan bahagia terus-terusan? Dia dapatkan semua cinta. Semua kasih sayang. Bahkan ... dia dapatkan segalanya. Sedangkan aku ... hu hu .... Ini tidak adil! Sangat tidak adil,' kata Mila dalam hati sambil menangis di pojokan tembok.
Namun, jika dibandingkan dengan Mila, Sesilia lah orang yang paling menyesal. Dia baru tahu, kalau apa yang dia anggap kerikil itu ternyata berlian yang paling murni. Penyesalan itu tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Karena penyesalan itu sudah terlambat.
__ADS_1