Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 50


__ADS_3

"Ap-- apa? Ja-- jangan gitu, pak." Jesi benar-benar sudah kehilangan pikiran sekarang. Ucapan pak sopir yang tidak masuk akan itu membuatnya hilang kewarasan selama beberapa saat.


Bagaimana tidak? Dia sedang berhadapan dengan orang yang mungkin terlalu setia sampai tidak bisa memikirkan diri sendiri dan keluarga hanya demi menolong nyawa majikan.


Orang seperti ini membuat Jesi tidak bisa bernapas dengan baik.


"Jangan banyak pikir, Nona. Ayo lakukan sekarang juga! Kita semakin tidak punya waktu."


"Tapi, pak. Pikirkan anak bapak. Apa bapak tidak ingin melihat anak bapak tumbuh menjadi perempuan dewasa. Dia juga sangat membutuhkan bapak saat ingin menikah nanti, pak. Tolong pikirkan soal ini baik-baik."


"Anak saya laki-laki, Nona. Dia tidak butuh saya saat menikah. Tapi, tuan muda butuh nona untuk tetap baik-baik saja. Percayalah nona, apa yang saya lakukan sekarang masih belum sepadan dengan apa yang tuan muda dan tuan besar lakukan untuk keluarga saya. Mereka adalah orang paling berjasa dalam hidup saya."


Setelah banyak menghabiskan waktu hanya untuk saling menolak pikiran satu sama lain, sopir itu langsung saja membuka pintu mobil untuk keluar. Dia tinggalkan Jesi yang masih terlihat tidak ingin melakukan apa yang dia katakan.


Selanjutnya, dia dorong orang-orang yang kini ada di dekat pintu mobil dengan keras. Lalu, pintu mobil Jesi dia buka dengan cepat.


"Sekarang, Nona!" Sopir itu berteriak sambil menghalang para preman dengan sekuat tanaga.

__ADS_1


Tidak ingin membuang-buang usaha yang sopir itu lakukan, Jesi terpaksa bergerak mengikuti apa yang sopir itu katakan sebelumnya. Dia keluar dari mobil tersebut, lalu berlari dengan kencang.


Tapi sayang, seperti yang sudah Jesi pikirkan sebelumnya. Sopir itu tidak cukup kuat untuk melawan empat preman yang bertubuh kekar juga bertenaga besar. Meskipun, si sopir sedikit bisa bela diri. Tapi tetap saja, itu masih tidak sepadan dengan para preman yang ada di sana.


Malam yang gelap, jalan yang sepi. Hal itu membuat Jesi tidak bisa memahami situasi sekitar. Dia berlari dengan di kejar satu preman lain dari belakang.


Belum juga jauh berlari, sebuah tangan langsung saja bisa menangkap tangan Jesi. Sontak saja, hal tersebut membuat Jesi kaget bukan kepalang.


"Mau lari ke mana kamu, hah? Kamu tidak akan bisa lari dari kami. Kau tahu itu, perempuan cantik?"


"Lepas! Tolong lepaskan aku sekarang juga! Apa yang kalian inginkan dari aku, hah! Kalian salah orang jika ingin merampok. Aku bukan perempuan kaya yang punya banyak perhiasan." Jesi berucap sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan preman tersebut.


"Lepaskan aku! Kenapa kamu malah tertawa!? Apa kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan?"


"Persetan dengan apa yang kamu katakan barusan, nona. Mau kamu kaya atau tidak, tetap saja aku tidak akan melepaskan kamu. Yang kami inginkan bukan hartamu. Tapi, diri kamu sendiri."


"Bos kami menginginkan jiwa dan ragamu sekaligus," ucap preman itu lagi sambil memperhatikan Jesika dengan penuh nafsu.

__ADS_1


"Bos kalian? Aku tidak punya masalah dengan kalian. Kenapa dia malah menginginkan aku, hah?"


"Itu bukan urusan kami. Mau kamu punya salah atau tidak, yang terpenting, tugas kami selesai."


"Mm ... tapi harap-harap, si bos mau membagikan kamu dengan kami setelah dia puas menikmati perempuan cantik ini," kata preman itu lagi sambil tangannya ingin menyentuh wajah Jesi dengan penuh nafsu yang meluap-luap.


Dengan cepat Jesi menghindar dari sentuhan preman itu. Lalu, sekuat tenaga, dia menendang bagian alat vital dari preman tersebut.


Seketika, preman itu langsung melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Jesi. Kesempatan emas itupun tidak Jesi siakan sedikitpun. Dia langsung berlari untuk menyelamatkan diri lagi.


"Agh! Sialan kamu perempuan mur- ahan. Berani-beraninya kamu menendang ku!" Preman itu berteriak keras sambil memegang alat vitalnya dengan kedua tangan.


"Tolong! Kejar perempuan itu! Jangan biarkan dia lolos." Teriak preman itu berusaha memanggil kawannya yang sedang fokus menghajar si sopir.


Masih bisa Jesi dengar apa yang preman itu bicarakan dengan temannya yang lain. Jadi, dia berusaha lebih keras lagi untuk lari meski itu agak mustahil untuk dia berhasil.


Tapi tiba-tiba, sebuah mobil melintas dari arah depan gang. Mobil yang cukup familiar buat Jesi meski hanya melihatnya sekilas saja.

__ADS_1


"Tolong! Tolong aku!" Jesi berteriak sekeras mungkin agar orang yang berada dalam mobil itu mendengar teriakannya.


Tapi sepertinya, harapan itu sangat mengecewakan buat Jesi. Mobil itu tidak berhenti, melainkan, terus berjalan dengan kecepatan pelan lewat di depan gang yang berada beberapa ratus puluh meter dari tempat Jesi berada.


__ADS_2