
Namun, saat mereka bertiga sedang asik ngobrol, seorang pelayan datang ke ruangan tersebut dengan tergesa-gesa. Dengan wajah yang agak tidak enak, pelayan itu menghampiri Diana.
"Maaf, nyonya, tuan, nona. Saya terpaksa merusak waktu kalian."
"Ada apa? Katakan saja, Devi. Jangan sungkan begitu," ucap Diana santai.
"Iya, Nyonya. Itu ... Tuan muda ingin bicara. Dia bilang, dia sudah berulang kali menghubungi nyonya dan tuan. Tapi, kalian tidak menjawab panggilan dari tuan muda."
"Sean menghubungi kami? Ada perlu apa?" Wajah biasa saja terlihat dari Diana. Sementara Indra, dia juga berekspresi yang sama dengan istrinya.
Namun, Jesi yang mendengar nama itu seketika memberikan respon yang agak aneh. Nama Sean tiba-tiba membuat kepalanya terasa pusing mendadak. Jesika seperti mengingat sesuatu tentang masa lalu ketika nama itu dia dengar.
Reaksi Jesi membuat kedua orang tuanya jadi sedikit cemas. Keduanya yang awalnya santai, kini memasang wajah panik sambil mendekat ke arah Jesi.
"Sayang, kamu kenapa, Nak? Apa ada yang salah sekarang?" Indra berucap sambil memegang pundak anaknya.
"Ya Tuhan, Pa. Ada apa ini? Kenapa dengan Jesi, Pah?" Diana pula memperlihatkan wajah panik sambil berusaha menggapai tubuh sang anak.
Sementara itu, Jesi berusaha untuk melawan apa yang sedang dia rasakan. Mendengar nada panik dari kedua orang tuanya, dia semakin merasa bersalah saja.
__ADS_1
"Aku ... gak papa kok, Ma, Pa. Aku baik-baik saja. Hanya ... hanya sedikit sakit di sini," ucap Jesi sambil memegang kepala.
"Ya ampun, kenapa bisa sakit, Sayang? Katakan sama mama, apa yang kamu pikirkan barusan. Kenapa bisa tiba-tiba sakit seperti ini."
"Ya, Nak. Apa yang sedang kamu pikirkan tadi? Jangan mikir yang berat-berat yah. Kamu belum sembuh total, Nak." Indra pula berucap dengan penuh kasih sayang.
"Aku gak mikir apa-apa kok, Ma, Pa. Tiba-tiba aja kepala ini jadi pusing."
"Ya udah kalo gitu, kita ke dokter sekarang. Mau yah."
"Gak ah, Ma. Jesi gak papa. Gak perlu ke dokter kok. Gak papa. Udah gak sakit lagi kok sekarang."
"Iya, Pa. Jesi gak papa. Jangan terlalu cemas, karena ini mungkin tanda-tanda kalau Jesi akan mendapatkan ingatan Jesi kembali. Jadi ... gak perlu panik ya, Ma, Pa."
Meski masih memasang wajah panik. Tapi Indra dan Diana mengikuti apa yang Jesi katakan. Mereka memang terkesan sedikit berlebihan menunjukkan kasih sayang. Jesi yang sudah dewasa, masih saja mereka perhatikan seperti anak-anak.
Namun, ini mungkin juga bukan salah mereka. Karena mereka sempat kehilangan seorang anak. Jadi, mereka tidak punya banyak waktu untuk bersama dengan anak mereka. Jadi, setelah kembali, mereka mungkin berusaha memberikan yang terbaik yang bisa mereka berikan.
Meski yang terbaik itu sedikit terlihat berlebihan. Tapi mereka tetap melakukannya. Maklum, mereka yang pernah merasakan kehilangan, tentu akan tahu bagaimana cara menghargai apa yang telah mereka dapatkan. Walau, cara mereka agak terkesan sedikit berlebihan.
__ADS_1
Setelah Jesi mampu meyakinkan kedua orang tuanya kalau dia baik-baik saja, barulah sang mama mau meninggalkan dirinya untuk bicara dengan tuan muda yang pelayan itu katakan. Sean, tuan muda yang pelayan itu katakan adalah orang yang sama dengan Sean yang sebelumnya pernah Jesi kenal nama. Hanya saja, saat ini dia tidak ingat dengan nama itu.
Makanya, reaksi yang kepalanya berikan sedikit berbeda saat nama itu dia dengar. Karena nama itu adalah nama yang cukup membuat hatinya kesal dahulu.
"Siapa Sean, Pa?" tanya Jesi pada Indra ketika Diana sudah pergi untuk bicara dengan Sean.
"Sean .... " Baru juga Indra ingin menjelaskan. Tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Tunggu sebentar ya, Sayang. Papa angkat telpon dulu. Gak lama kok. Bentar aja. Nanti kita bicara lagi yah."
"Kamu gak papa kan, kalo papa tinggal sebentar?" Indra seakan merasa tidak enak hati untuk meninggalkan Jesika sendirian.
"Gak papa, Pa. Angkat aja. Jesi tunggu papa sama mama selesai bicara di sini yah."
Indar tersenyum kecil. Lalu, dia meninggalkan Jesi di ruang keluarga. Sementara itu, Diana sedang bicara dengan Sean di kamar. Karena ponselnya dia tinggalkan di kamar sebelumnya.
"Ya, Se. Maaf ya, Nak. Ponsel mama ketinggalan di kamar tadi." Diana berucap saat vidio call tersambung dengan baik.
"Gak papa, Ma. Tapi ... aku merasa kok tumben mama jarang pegang ponsel akhir-akhir ini. Biasanya, mama selalu ngabarin aku. Selalu on hampir setiap saat. Tapi sekarang ... kok jarang banget on nya. Mm ... mama baik-baik aja, kan? Gak ada yang salah dengan rumah, kan Ma?"
__ADS_1