Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 55


__ADS_3

Karena tidak mendapatkan jawaban dari apa yang dia tanyakan. Tentu saja Emily merasa semakin penasaran. Karena sebelumnya, Mila selalu terbuka padanya. Tidak ada yang Mila tutupi dari dia sebelumnya.


"Mila! Katakan pada mama apa yang sudah kamu lakukan! Jangan bikin mama penasaran terlalu lama. Jangan buat mama kesal, Mila."


"Ma ... mm ... mama janji jangan marah ya. Jika aku katakan apa yang sudah membuat aku bahagia, maka mama jangan marah padaku. Karena ini bukan ulah aku. Melainkan, ulah orang yang juga tidak suka pada Jesika."


"Apa maksud kamu? Bicara jangan berbelit-belit, Mila. Bicara yang jelas supaya mama paham apa yang kamu bicarakan."


"Ma, Jesika sudah tidak ada di kota ini lagi. Dia sudah disingkirkan oleh mama Jona alias, mertuanya sendiri."


"Apa!? Jangan bicara yang tidak-tidak kamu, Mila." Emily terlihat sangat kaget sekarang. Tapi, masih belum tahu, dia senang atau marah dengan kabar itu.


Ekspresi yang sedikit membuat Mila harus menjelaskan segalanya. Mulai dari undangan yang mama Jona berikan, hingga permintaan mama Jona untuk membantunya menyingkirkan Jesika. Tapi, di sini Mila sedikit berbohong. Dia mengatakan kalau hanya menyingkirkan Jesi dari kota ini. Tidak mengatakan kalau menyingkirkan Jesi dari dunia ini.


"Kamu yakin kalau orang-orang itu hanya menyingkirkan Jesi dari kota ini, Mila? Karena bagaimana pun, mama tidak ingin jadi orang yang kualat. Karena mama punya tanggung jawab atas Jesi dari papa kamu."

__ADS_1


"Mama tenang saja. Dia pasti akan baik-baik saja di tempat yang baru. Tidak perlu cemas, Ma."


"Baiklah kalau itu yang kamu katakan. Mama bisa ikut kamu berbahagia. Dan ... selamat sayang. Tujuan kamu sebentar lagi akan tercapai. Ingat dengan mama ya." Emily langsung senyum lebar kembali sambil memeluk tubuh Mila.


Mila pun tersenyum lega akan apa yang dia lihat saat ini. Dia juga membalas pelukan sang mama dengan sangat bahagia.


"Tentu saja aku akan ingat dengan mama, Ma. Mana mungkin aku lupa. Kita akan bahagia dengan kehidupan kita yang baru sekarang. Selamat untuk mama juga."


Beberapa saat mereka saling peluk dengan perasaan yang sama-sama bahagia. Hingga pada akhirnya, kecemasan yang Emily rasakan kembali lagi. Diapun langsung melepas pelukannya dari Mila.


Melihat wajah Emily cemas, Mila juga ikut merasa penasaran. "Ada apa lagi sih, Ma? Aku kan sudah jelaskan semuanya. Kenapa mama masih merasa cemas sekarang?"


"Kak Jaka?" Mila pun ikut memasang wajah serius sekarang. "Ada apa dengan dia, Ma? Apa dia bikin ulah lagi seperti kemarin-kemarin?" Wajah kesal pun Mila tunjukkan.


Kemarin-kemarin, dia ingat betul bagaimana kakak kandungnya itu buat ulah. Jaka ingin mendatangi kediaman Wijaya untuk bicara dengan Jona.

__ADS_1


Tentu saja soal Jesika. Siapa lagi? Adik angkat yang bikin Jaka bisa berkorban apa saja. Termasuk, nyawa pun rela ia berikan untuk Jesika. Prioritas Jaka adalah kebahagiaan Jesika. Semua juga tahu akan hal tersebut.


Makanya, Mila begitu tidak suka Jesi. Jaka itu kakak kandungnya, tapi bisa-bisanya Jaka lebih sayang Jesi dibandingkan dirinya. Mana terima Mila akan hal tersebut.


Wajah kesal Mila membuat Emily paham apa yang Mila pikirkan sekarang. Untuk itu, dia harus segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Mama gak tahu apa dia bikin ulah atau tidak, Mil. Tapi yang jelas, hati mama sangat cemas sekarang. Jaka masih juga belum pulang. Nomornya juga tidak bisa mama hubungi. Perasaan mama jadi tidak enak."


"Ah, mama gak perlu cemas. Palingan kak Jaka sedang menyendiri di taman. Atau, paling sedang berkeliling kota. Itukan yang sering dia lakukan setelah Jesi tidak ada di rumah lagi?"


"Iya. Tapi .... "


"Udah dong, Ma. Dia gak akan apa-apa kok. Dia itu udah gede, Ma. Dia tahu mana yang terbaik buatnya. Yah, walaupun pada dasarnya, dia gak tahu mana yang terbaik selain kebahagiaan adik angkatnya itu," ucap Mila dengan nada kesal.


Emily pun tidak berkata apa-apa selain mendengus pelan. Bagaimanapun, firasat seorang mama itu cukup kuat. Dia merasa sedang tidak enak hati malam ini. Rasa itu tidak bisa dia abaikan sedikitpun. Meski dia sudah berusaha keras, tapi tetap saja, rasa itu masih tidak bisa pergi dari hatinya.

__ADS_1


Sementara itu, lokasi tempat jatuhnya mobil Jaka sedang sangat ramai saat ini. Mereka berusaha melakukan pertolongan secepat mungkin meskipun kondisi sedikit tidak mendukung.


Hari semakin larut, jarak pandang terbatas karena keadaan gelap malam hari. Meski penerangan di sediakan, tapi tetap saja. Saat malam membuat pandangan sedikit terganggu. Ditambah, gerimis yang tiba-tiba saja turun perlahan tapi pasti membuat dinginnya malam semakin mencekam.


__ADS_2