Suamiku Sakit Mental

Suamiku Sakit Mental
*Episode 44


__ADS_3

"Tidak! Mama tidak setuju! Kalian tidak bisa melakukan hal itu karena mama tidak akan pernah menyetujuinya!" Mama Jona berteriak dengan nada yang sangat tinggi sampai membuat satu rumah hampir mendengar apa yang dia katakan.


"Kami akan tetap melakukan apa yang ingin kami lakukan. Dengan atau tanpa persetujuan dari mama. Karena jika mama tidak setuju, maka kami juga tidak akan keberatan untuk mengabaikan mama."


Papa Jona bicara dengan nada sangat tegas membuat istrinya kaget bukan kepalang. Mata Sesilia melebar dengan tatapan tak percaya dia tatap wajah suaminya. Lalu, perlahan, buliran bening jatuh melintasi kedua pipi tersebut.


"Apa papa bilang? Kalian akan melakukannya tanpa aku? Apa kalian lupa siapa aku? Kalian tidak ingat, aku ini adalah keluarga kalian. Perempuan yang sudah menemani kamu selama puluhan tahun. Dan, aku juga perempuan yang sudah memberikan kamu anak yang sekarang sedang kita bicarakan. Kenapa dengan mudahnya kalian ingin mengabaikan aku hanya demi seorang perempuan asing yang tidak ada sangkut pautnya dengan kalian, hah?!"


"Kamu itu yang terlalu berlebihan, Ma! Kamu memang istri yang sudah menemani aku selama puluhan tahun. Kamu juga mama yang sudah melahirkan Jona anakku satu-satunya. Tapi kamu adalah perempuan yang sangat-sangat egois selama kamu hidup bersama kami."


"Kamu meminta kami mengikuti semua yang kamu inginkan. Tapi kamu tidak sadar, apa yang kamu inginkan itu belum tentu yang kami mau. Kamu selalu memaksakan keinginan mu pada kami. Tapi kamu tidak pernah ingin tahu, bagaimana perasaan kami saat mengikuti kemauan mu, Ma."

__ADS_1


"Kami merasa tersiksa akan hal itu. Kami merasa terbebani dengan semua ulah kamu. Tapi kamu, malah tidak ingin ambil pusing. Kamu tetap memaksa meski kami tidak mau. Di mana pikiranmu sebenarnya? Di mana hati nurani dan perasaan kamu sebagai istri? Sebagai mama untuk Jonathan? Katakan, di mana!"


Kini papa Jona sudah tidak kuat lagi menahan apa yang selama ini dia simpan dalam hatinya. Semua unek-unek itu dia keluarkan sekarang.


Selama ini, dia tetap bersabar. Berharap, istrinya bisa berubah seiring bertambahnya usia, maka pemikir sang istri juga semakin lebar dan semakin memahami apa yang mereka inginkan.


Tapi sayang, apa yang sekarang terjadi membuat papa Jona sadar, kalau istrinya tidak bisa berubah. Dan kini, dia tidak bisa tetap diam. Karena dengan diam, istrinya akan semakin menjadi-jadi.


Sementara itu, mama Jona yang kaget dengan apa yang suaminya katakan, langsung menatap lekat wajah sang suami. Sungguh sangat mengejutkan hati, selama ini, dia tidak pernah mendapatkan bentakan seperti itu. Karena selama ini, suaminya adalah pria paling baik sampai dia takut untuk membuat hati suaminya kecewa.


"Papa ... bentak, Mama? Papa gak sadar, apa yang mama lakukan itu semua demi kebaikan papa, demi kebaikan Jona, dan demi kebaikan kita semua. Kalian tidak menghargai kebaikan mama di rumah ini. Kalian .... "

__ADS_1


Seperti yang sudah dia pikirkan sebelumnya, istrinya tidak akan mau mengalah. Istrinya tidak akan sadar dengan mudah. Bahkan, tidak akan sadar meski sudah dia ucapkan dengan panjang lebar.


Hal tersebut membuat papa Jona putus asa seketika. Dia angkat tangan untuk menghentikan apa yang ingin istrinya katakan.


"Cukup, Ma. Papa tidak ingin bicara dengan mama lagi. Karena mau bagaimanapun papa jelaskan, mama tidak akan paham. Mama tidak akan mengerti dengan apa yang kami katakan pada mama. Karena dalam hati mama, yang benar itu cuma mama. Sementara orang lain, salah semua."


Setelah kata-kata itu selesai papa Jona ucapkan, pria paruh baya itupun beranjak dari tempat dia berdiri sebelumnya. Dia sudah tidak kuat untuk berhadapan dengan istrinya yang keras kepala ini. Karena semakin diladeni, maka istrinya akan terus bertingkah lagi dan lagi.


Kepergian sang suami membuat mama Jona semakin terbakar api amarah dan kebencian. Dia kerasa diabaikan sekarang. Pendapatnya tidak dibutuhkan lagi. Dia sudah tidak dihargai lagi keberadaannya di rumah ini. Rumah yang sudah belasan tahun dia huni dengan tenang dan damai. Kini seperti sudah bukan miliknya lagi sekarang.


Setidaknya, itulah yang mama Jona pikirkan. Walau pada dasarnya, itu hanya anggapan mama Jona saja. Karena api cemburu yang selalu ada dalam hati, dia selalu merasa tidak nyaman. Dia selalu hidup dalam ketakutan juga kebencian akan Jesika.

__ADS_1


Mama Jona berpikir, kalau Jesi akan mengambil semua yang dia punya dari dirinya. Anaknya, suaminya, juga harta benda yang dia miliki.


Tapi sebenarnya, itu hanya sebuah perasaan saja. Perasaan yang timbul karena kebencian. Tidak menganggap baik orang yang telah berbuat baik. Selalu menganggap rendah orang yang tidak punya status baik menurutnya. Maka dari itu, bermacam-macam pikiran buruk timbuk dengan mudah dalam hati juga pikiran. Yang pada akhirnya, hal itu akan menyiksa diri sendiri.


__ADS_2